Muslimah News, EDITORIAL — “Demi cinta, demi kemanusiaan, demi Islam. Aku mohon berdirilah bersama saudara-saudara muslimmu. Mereka menyambut saya dengan penuh kasih dan ketulusan. Saya pergi ke sana sebagai perawat dengan biaya sendiri. Namun, saya dipukuli di padang pasir karena memberi makan anak-anak muslim yang kelaparan. Di manakah ketenangan hatimu? Di manakah hati nuranimu? Demi kemanusiaan dan demi cinta, dukunglah saudara-saudara muslimmu di Palestina.”
Demikian permohonan seorang perawat nonmuslim kepada aparat Mesir yang berjejer mengadang ribuan peserta Global March to Gaza di pintu Rafah yang videonya viral di media sosial. Laki-laki tersebut memohon dengan menangis dan rela berlutut, berharap agar ia dan rombongan bisa diizinkan masuk demi membantu anak-anak dan para ibu Gaza yang kelaparan. Namun mirisnya, aparat itu tetap tidak bergeming. Wajah mereka datar seolah menampakkan ketakpedulian.
Pesan Mendalam
Itulah sekelumit peristiwa yang terjadi di tengah aksi Global March to Gaza yang diikuti sekira 20 ribu peserta di perbatasan Mesir, Rafah, sejak tanggal 12 dan direncanakan berakhir 19 Juni 2025. Aksi ini menyusul gerakan Konvoi Sumoud yang diikuti 1.000 aktivis asal Aljazair, Maroko, dan Tunisia, dan telah memulai perjalanan dari Tunisia sejak tanggal 9 Juni 2025 untuk bergabung dengan Global March di Rafah.
Aksi sipil terbesar yang diikuti peserta dari lebih 50 negara ini memang begitu fenomenal. Seluruh peserta datang dengan satu harapan, yakni bisa memberi tekanan global agar genosida di Gaza segera dihentikan. Ada pesan mendalam yang mereka bawa bahwa apa yang terjadi di Gaza sudah benar-benar melewati batas-batas kemanusiaan, melintasi batas-batas negara, bahkan kepercayaan dan agama.
Keterlibatan mereka dalam aksi ini pun benar-benar tanpa syarat. Mereka merepresentasi masyarakat dunia yang sudah sedemikian marah sekaligus pesimis kepada berbagai lembaga internasional yang nyatanya telah gagal membungkam kezaliman, serta kecewa pada para penguasa di dunia yang cenderung diam, bahkan mendukung pembantaian.
Sekitar 20 bulan genosida telah berjalan, memang tidak ada satu pun kekuatan yang mau dan mampu menghentikan. Dari hari ke hari, serangan brutal Zion*s justru bertambah masif di tengah blokade total yang diterapkan. Sampai-sampai seluruh penjuru Gaza terus dilanda krisis pangan. Air bersih, energi, dan sarana prasarana medis juga sulit didapatkan hingga penderitaan terus mendera mereka sampai level yang tidak pernah terbayangkan. Korban pun terus berjatuhan dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Per 17 Juni 2025 kantor media Anadolu Ajansi melaporkan, jumlah warga Gaza yang tewas sejak 7 Oktober 2023 sudah mencapai lebih dari 55.400 orang. Kejahatan pasukan Zion*s pun sudah pada puncaknya karena mereka tega membunuhi warga yang sedang mencari bantuan makanan dan menjadikan “kelaparan” sebagai senjata genosida paling kejam. Hal ini seperti yang terjadi pada Selasa (17-6-2025), pasukan Zion*s menembaki warga hingga menewaskan 63 orang dan ratusan lainnya luka-luka.
Batu Sandung Terbesar
Bagi umat Islam sendiri, aksi ini sejatinya memberi pelajaran khusus bahwa ada problem besar yang sedang terjadi di tubuh mereka, berupa kian rapuhnya persaudaraan hakiki berdasarkan kekuatan iman. Semua ini adalah akibat hilangnya kekuatan politik Islam yang disebabkan oleh pengkhianatan para penguasa muslim kepada Islam dan kaum muslim, serta akibat loyalitas tanpa batas yang para penguasa mereka tunjukkan kepada negara-negara adidaya yang menjadi tuannya.
Tertahannya peserta aksi di pintu Rafah yang menjadi penyambung nyawa bagi warga Gaza juga menjadi pelajaran penting yang membuktikan bahwa batu penghalang terbesar untuk menolong mereka sejatinya ada pada paham kebangsaan dan batas imajiner bernama “negara”. Paham nasionalisme dan konsep negara bangsa ini terus dijaga para penguasa muslim melalui tentara-tentaranya.
Lihatlah apa yang dilakukan pihak otoritas Mesir! Alih-alih membantu dan memudahkan para diplomat kemanusiaan ini mencapai tujuan, mereka malah melakukan penahanan, menyerang aktivis, dan mendeportasi sebagian peserta dengan alasan yang mengada-ada. Bahkan hari ini, 18 Juni 2025, dikabarkan pemerintah Mesir menangkap juru bicara aksi Global March to Gaza.
Begitu pun dengan pemerintah Yordan yang wilayahnya memiliki garis perbatasan terpanjang dengan wilayah Zion*s. Mereka cenderung diam, dan sebagaimana pemimpin negara-negara Arab lainnya, malah sibuk menjilat Amerika demi melanggengkan kursi kekuasaan. Sampai-sampai mereka rela menormalisasi hubungan dengan penjajah tanah Palestina dan pembantai warga Gaza, hanya demi mengamankan dinasti mereka.
Tampak bahwa para pemimpin Arab, khususnya Mesir lebih takut pada ancaman terselubung pihak Zion*s yang disampaikan Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz. Terkait aksi global, ia mengatakan bahwa Mesir harus menghentikan para aktivis pro-Palestina yang disebutnya sebagai jihadis untuk mencapai perbatasan, di mana mereka akan membahayakan nyawa para penjaga perbatasan IDF, membahayakan nyawa mereka sendiri, sekaligus membahayakan stabilitas rezim Mesir yang berkuasa dan pemerintah Arab moderat lainnya di wilayah tersebut. (dw, 12-6-2025)
Mereka juga sangat takut dengan ancaman Netanyahu yang mengatakan, “If we fall – and that won’t happen – but if we do fall, many parts of the world will fall with us. (Jika kita jatuh – dan itu tidak akan terjadi – tetapi jika kita benar-benar jatuh, banyak bagian dunia akan jatuh bersama kita.)” (The Middle East News, 12-6-2025)
Sungguh, menghentikan genosida di Gaza sejatinya sangat mudah, jika paham nasionalisme dan negara bangsa ini tidak meracuni umat Islam, terutama para penguasanya. Bukankah seharusnya mudah bagi para penguasa muslim, khususnya Mesir dan Yordania untuk membuka pintu perbatasan dan menggerakkan tentaranya, bahkan mengerahkan rakyatnya, untuk menolong warga Gaza dan mengomando jihad melawan Zion*s demi membungkam kepongahan mereka?
Namun, mengapa itu semua menjadi sulit dilakukan? Tidak lain karena tangan dan kaki mereka diikat oleh perjanjian bernama sekat negara bangsa dan racun nasionalisme yang membuat mereka hanya berpikir soal apa yang disebut menjaga kepentingan nasionalnya. Perintah agama soal menjaga ukhuah, menolong saudara seakidah, dan kewajiban menghilangkan kezaliman, sama sekali tidak berarti di hadapan narasi kepentingan nasional dan rasa takut mereka kehilangan kursi kekuasaan.
Sejarah memang menunjukkan bahwa dua narasi inilah yang pasca kekalahan di Perang Salib digunakan Barat untuk mengoyak persaudaraan hakiki umat Islam di bawah kepemimpinan Khilafah hingga runtuh pada 1924. Narasi ini pula yang terus ditancapkan oleh penjajah sehingga negeri muslim yang sebelumnya menyatu di bawah satu kepemimpinan (Khilafah) terpecah menjadi lebih dari 50 negara yang lemah.
Maka hari ini kita lihat dampaknya, dua narasi ini telah memupus hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata. Mereka bahkan ikut menjaga kepentingan pihak pembantai dan teguh menjaga perbatasan wilayah jajahan mereka, hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaannya.
Butuh Kekuatan Adidaya
Oleh karena itu, umat Islam seharusnya paham betapa berbahayanya ide nasionalisme dan konsep negara bangsa, baik dilihat dari sisi pemikiran maupun penerapannya. Keduanya terbukti telah digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghalangi wujudnya persatuan hakiki dan melanggengkan hegemoni kapitalisme di dunia, khususnya di negeri-negeri Islam.
Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik Palestina, terkhusus untuk menolong muslim Gaza, tidak mungkin hanya bermodal gerakan dan semangat kemanusiaan, sekalipun bukan berarti apa yang sudah dilakukan itu sia-sia. Begitu pula, tidak mungkin masalah Palestina bisa diselesaikan oleh solusi-solusi absurd yang mereka tawarkan, termasuk solusi dua negara yang sejatinya tidak mungkin diterima oleh Zion*s sebagaimana yang kita lihat sekarang, dan justru tawaran solusi ini digunakan untuk menjauhkan umat dari beramal untuk mewujudkan solusi yang sebenarnya.
Terlebih persoalan Palestina dan Gaza terbukti bukan hanya menyangkut soal kemanusiaan. Masalah Palestina dan Gaza hakikatnya merupakan urusan politik dan lahir dari keputusan-keputusan politik yang harus dilawan dengan gerakan dan langkah-langkah politik. Salah satunya adalah dengan fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan kembali satu kepemimpinan politik Islam, yakni sebuah negara adidaya baru yang bisa vis a vis berhadapan dengan kekuatan adidaya yang mem-back up kekuatan entitas Zion*s di Palestina.
Itulah sistem Khilafah Islam yang akan mengonsolidasi seluruh kekuatan umat hingga tampil sebagai negara mandiri dan kuat. Khilafah pula yang akan memobilisir tentara dan senjata untuk menolong Gaza dan membebaskan Palestina dengan memimpin jihad fi sabilillah. Khilafahlah yang akan mengembalikan wibawa umat sebagaimana seharusnya. Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah Rasulullah saw. yang pasti wujudnya.
Kemunculan Khilafah ini sangat ditakuti penguasa Amerika dan sekutunya, termasuk oleh pemimpin Zion*s yang hari ini tengah menghinakan Palestina, khususnya Gaza. Ketakutan mereka ini tecermin dari berbagai statemen yang mereka lontarkan soal Khilafah. Mereka bahkan menunjukkan permusuhannya dan bertekad kuat untuk mencegah kehadirannya.
Kita ingat Netanyahu, pada 23-4-2025, pernah berkata, “Kami bertekad untuk membebaskan para tawanan dan kami tidak akan membiarkan berdirinya Khilafah Islam (Kekhalifahan) mana pun, baik di utara maupun di selatan, atau di tempat lain mana pun. Jika para ekstremis mengalahkan kami, dunia Barat akan menjadi target mereka berikutnya.” Apa yang ia katakan ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan Presiden Amerika ke-43, George W. Bush jauh sebelumnya, “Mereka berharap untuk mendirikan utopia politik yang penuh kekerasan di seluruh Timur Tengah, yang mereka sebut Kekhalifahan, di mana semua orang akan diperintah sesuai dengan ideologi kebencian mereka.”
Ketakutan ini tampak sudah merasuk dalam darah dan daging mereka. Itulah yang melatari munculnya berbagai upaya perang melawan teror yang diikuti dengan perang global melawan radikalisme. Mereka menciptakan berbagai drama dan narasi sesat demi memonsterisasi Islam politik dan konsep negara Khilafah. Mereka menciptakan gagasan Islam moderat yang diaruskan demi memupus cita-cita umat untuk hidup di bawah naungan Khilafah sebagai institusi penegak hukum-hukum syariat.
Mereka mengerahkan segala daya dan upaya, mulai kekuatan politik, ekonomi, budaya, hingga media massa demi mewujudkan targetnya. Mereka rangkul berbagai pihak yang mudah diiming-iming dengan materi dan kedudukan sesaat, termasuk di antaranya para penguasa muslim dan para tokoh umat yang haus materi, kedudukan, dan jabatan kekuasaan.
Khatimah
Mewujudkan kembali Khilafah memang tidak semudah membalik telapak tangan. Terlebih tidak sedikit umat yang termakan propaganda hingga turut alergi, bahkan tidak percaya bahwa masa depan peradaban ini ada pada kepemimpinan politik Islam. Sebagian mereka bahkan rela berdiri di garda depan untuk melawan kebangkitan Islam. Mereka rela berdiri di sisi musuh-musuh Islam dan memilih menjadi kaum munafik yang menusuk umat dari belakang.
Namun, itulah PR kita sebagai bagian umat yang sudah berkesadaran. Ada tanggung jawab besar untuk melakukan penyadaran bahwa selain urgen, hidup dengan Islam adalah konsekuensi iman. Penyadaran inilah yang disebut dengan dakwah. Namun, tentu bukan sembarang dakwah, melainkan dakwah yang mengarah pada penerapan Islam kafah di bawah naungan Khilafah Islam.
Dakwah seperti ini tidak mungkin dilakukan sendirian, melainkan harus bergabung bersama gerakan yang terbukti ikhlas berjuang demi kemuliaan Islam, serta berjalan di atas manhaj dakwah yang Rasulullah saw. contohkan. Yakni sebuah gerakan politik ideologis yang bergerak tanpa sekat negara dan kebangsaan, serta konsisten berjuang di atas asas dan aturan Islam demi mewujudkan kepemimpinan Islam tanpa kekerasan. Wallahualam. [MNews/SNA]

Semoga khilafah segera tegak