Muslimah News, EDITORIAL — Pernyataan Randy Fine, anggota Kongres dari perwakilan negara bagian Florida Amerika dalam wawancara Fox News soal penggunaan nuklir untuk menghancurkan Gaza (21-5-2025) cukup menuai kontroversi. Ia mengatakan, “Satu-satunya akhir dari konflik ini adalah penyerahan diri sepenuhnya oleh mereka yang mendukung teror muslim. Dalam Perang Dunia II, kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Nazi, kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Jepang. Kita mengebom Jepang dua kali untuk mendapatkan penyerahan tanpa syarat. Itu juga yang harus terjadi di sini (Gaza).”
Pernyataan yang disebut Ham*s sebagai “hasutan genosida” dan “pernyataan mengerikan, rasis, dan fasis” tersebut ia sampaikan menyusul penembakan dua orang pekerja kedutaan negara hoaks Zion*s di Washington DC sehari sebelumnya. Saat itu ia juga menyebut, “Beginilah bentuk globalisasi intifadah. Palestinaisme (perjuangan Palestina) dibangun atas dasar kekerasan.” (truthout, 22-5-2025).
Bukan Kali Pertama
Narasi ancaman agar Gaza dibombardir nuklir sejatinya bukan yang pertama. Beberapa waktu terakhir ini, beberapa pejabat entitas Zion*s dan sekutunya (Amerika) kian berani secara eksplisit menyerukan penggunaan senjata—yang sudah lama dianggap tabu dan terkutuk—hanya demi segera mengakhiri perlawanan rakyat Palestina di Gaza.
Sesaat setelah peristiwa Thufan al-Aqsha (7-10-2023), yakni sekira November 2023, misalnya, seorang wanita Yahudi anggota Knesset dari Partai Likud bernama M.P. Tally Gotliv sempat mengepos seruan soal penggunaan “senjata kiamat” yang ia sebut “untuk mengembalikan martabat, kekuatan, dan keamanan negara”. Pernyataannya itu menegaskan bahwa pemerintahnya harus menghancurkan dan meratakan seluruh Gaza.
Pernyataan yang sama juga disampaikan Menteri Warisan Budaya negara hoax Zion*s Amichai Eliyahu dalam wawancara radio Kol Barama yang dilaporkan Times of Israel pada 5 November 2023. Ia mengatakan bahwa penggunaan senjata nuklir di Gaza adalah “salah satu kemungkinan”. Pernyataan ini ia ulang pada Januari 2024 sebagaimana dilaporkan Middle East Monitor. Ia kembali mendesak agar pemerintahnya mencari cara “yang lebih menyakitkan daripada kematian” untuk mengalahkan warga Gaza dan menghancurkan moral mereka, seperti yang dilakukan Amerika terhadap Jepang.
Adapun politisi Amerika yang pernah menyampaikan seruan serupa sebelum Randy Fine adalah Tim Walberg yang merupakan anggota Partai Republik lainnya dari wilayah Michigan. Ia menyampaikan pernyataan soal pemusnahan Gaza dalam sebuah rapat umum pada 25 Maret 2024. Saat itu ia mengatakan, “Selesaikan dengan cepat!” Juga mengatakan, “Itu harus seperti Nagasaki dan Hiroshima.”
Sejalan dengan Walberg, Senator Lindsey Graham dari Carolina Selatan AS. juga melontarkan pernyataan yang sama. Saat ditanya dalam wawancara di acara Meet the Press, NBC News, soal penggunaan nuklir di Gaza, ia mengatakan, “Mengapa Amerika Serikat boleh menjatuhkan dua bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki untuk mengakhiri perang yang mengancam eksistensi mereka? Mengapa kami boleh melakukan itu? Saya pikir itu boleh.” Ia lalu menambahkan, “Jadi, Israel, lakukan apa pun yang harus kalian lakukan untuk bertahan hidup sebagai negara Yahudi. Apa pun yang harus kalian lakukan!” (12-5-2024).
Semua pernyataan tersebut memang telah menimbulkan kemarahan yang meluas di Amerika bahkan dunia. Selain karena narasi penggunaan nuklir dipandang sebagai sebuah kemunduran dan pelanggaran terhadap kesepakatan internasional, sebagian pihak melihat ini sebagai bagian dari dehumanisasi yang makin meluas terhadap warga Palestina. Hanya saja, saat itu tidak ada satu pun yang mencabut resmi pernyataan mereka. Bahkan pada kenyataannya, sekalipun bom nuklir belum digunakan di Gaza, tetapi dampak serangan pihak Zion*s di sana sudah jauh melebihi penggunaan bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima. Sebagian pengamat menyebut efeknya lebih dari tujuh kali lipat! Sampai-sampai Sekjen PBB Antonio Gutteres sempat menyebut, situasi perang di Gaza sudah masuk pada level yang paling kejam, terutama pada 80 hari terakhir peperangan.
Betul bahwa jumlah korban belum menyamai korban nuklir Jepang yang mencapai 140.000 kasus kematian, tetapi kehancuran di Gaza jauh lebih mengerikan. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, hingga Sabtu (24-5-2025), korban syahid di Gaza sudah mencapai 53.901 orang dan 122.593 orang lainnya luka-luka. Data ini belum termasuk puluhan ribu warga yang hilang dan jutaan warga yang kehilangan tempat tinggal. Mereka hidup di tengah blokade penuh yang menyebabkan Gaza mengalami krisis pangan, krisis air bersih, energi, obat-obatan, fasilitas kesehatan, sekolah, dan lain-lain.
Jangan lupa bahwa “negara hoax” Zion*s juga merupakan negara pemilik nuklir meski kondisinya dirahasiakan. Mereka pun selalu mendapat dukungan penuh dari Amerika, baik berupa dukungan politik, ekonomi, maupun persenjataan.
Oleh karenanya, situasi yang lebih mengerikan bukan tidak mungkin terjadi pada waktu-waktu mendatang. Terlebih entitas Zion*s punya mimpi yang tidak tergoyahkan, yakni ingin membumihanguskan Gaza dan merebut paksa Palestina secara keseluruhan. Visi ini bahkan sudah mendarah daging di tubuh setiap warganya.
Hal ini di antaranya tampak dalam nyanyian-nyanyian mereka selama Pawai Bendera Tahunan di Gerbang Damaskus di Yerusalem kemarin lusa (26/5). Saat itu mereka meneriakkan yel-yel, “Gaza adalah milik kita; matilah orang-orang Arab; semoga desa-desa mereka (Shuafat) terbakar,” serta teriakan, “Mari kita ratakan Gaza dengan tanah!” (Hebrew Channel, 26-5-2025).
Para Penguasa Muslim Benar-Benar Tuli Buta (?)
Mirisnya, situasi ini terus berjalan di tengah sikap para penguasa muslim dunia yang seakan tuli buta. Mereka benar-benar tega menutup mata dan telinga atas penderitaan warga Gaza yang kian hari kian mengenaskan. Kalaupun ada reaksi, mereka hanya mencukupkan diri dengan bantuan ala kadarnya, disertai basa-basi retorika demi sekadar menutup aib tentang lemahnya posisi politik mereka di hadapan Zion*s dan sekutunya, Amerika.
Adapun apa yang disebut sebagai ukhuah islamiah atau persaudaraan karena akidah, tampaknya sudah hilang dari kamus mereka. Mereka benar-benar dibutakan oleh sekat kebangsaan dan ketaatan kepada sekutu-sekutu Barat, khususnya Amerika. Maklum, kekuasaan mereka begitu bergantung kepada Barat yang selama ini telah menyokong tegaknya singgasana-singgasana kekuasaan mereka, sekaligus siap menjaga kelangsungan dinastinya, tentu dengan bayaran yang tidak murah berupa penyerahan kedaulatan dan seluruh potensi sumber dayanya.
Itulah pula yang membuat mereka rela berkhianat pada kaum muslim Palestina dan dunia. Mereka tidak malu untuk tunduk pada arahan Amerika yang menginginkan agar mereka berdiri di sisi Zion*s dan menormalisasi hubungan dengannya. Mereka, alih-alih menolong Gaza dengan kekuatan politik dan senjata yang dipunya, justru berbondong-bondong pergi meninggalkannya. Sebagian mereka bahkan tengah berasyik masyuk dengan ambisi liberalisasi yang kebablasan, juga atas arahan Amerika.
Termasuk Arab Saudi, alih-alih berbangga telah mewarisi risalah Islam yang mulia dari kakek buyutnya dan menjadi contoh terdepan mengenai upaya membela kehormatan Islam dan umatnya, para penguasanya justru tengah mabuk berat dengan visi mengembalikan citranya sebagai pusat jahiliah modern di dunia. Mereka bahkan rela menghamburkan lebih dari 20 ribu triliun rupiah demi membiayai berbagai proyek yang mereka sebut “strategis dan visioner”, padahal sejatinya merupakan proyek bancakan bagi para pengusaha multinasional asal Amerika. Mereka pun lupa pada identitas Arab dan kemuslimannya, hingga tanpa ragu membuka lapak-lapak kemaksiatan secara legal, mulai dari panggung-panggung hiburan para artis internasional serta membiarkan produk-produk khamar meracuni kemurnian generasi penerus peradaban bangsanya.
Oleh sebab itulah, memperhatikan kondisi para penguasa Arab hari ini memang sangat menyedihkan. Peran mereka makin jauh dari apa yang diinginkan oleh Islam. Mereka bahkan dengan sadar memilih berselisih dengan Islam sehingga sulit mengharapkan mereka akan memimpin perlawanan atas semua kezaliman, termasuk yang menimpa umat Islam di Gaza.
Padahal, saat musim semi Arab (Arab Spring) terjadi 2011 silam, banyak yang berharap para penguasa Arab akan bangkit dari posisinya sebagai negara terjajah, lalu mereka memimpin perubahan melawan hegemoni Barat dengan bendera Islam. Akan tetapi faktanya, mereka hanya berganti tuan. Mereka benar-benar telah terjangkit penyakit wahn, yakni penyakit cinta dunia dan sangat takut akan kematian.
Adapun penguasa muslim dunia lainnya, lebih tidak bisa diharapkan. Mereka tampak garang di permukaan, padahal tangan dan kaki mereka terbelenggu oleh apa yang disebut dengan “kepentingan nasional” dan berbagai kesepakatan atau UU internasional. Sungguh, negara-negara penjajah telah berhasil menebarkan racun yang paling mematikan, yakni paham sekuler dan nasionalisme yang membutakan. Kedua paham inilah yang telah mengubah semuanya.
Mereka yang dahulu kuat karena disatukan oleh satu kepemimpinan Islam, kini tercerai berai menjadi puluhan negara bangsa yang lemah dan didikte kekuatan besar. Mereka yang dahulu mulia karena Islam, justru terhina dan terjajah lantaran berani mencampakkan Islam sebagai undang-undang kehidupan.
Pertanyaannya adalah, “Sampai kapan?”
Butuh Khilafah sang Pembebas
Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Muttafaqun ’alaih dll.).
Imam An-Nawawi dalam syarahnya atas kitab Shahih Muslim, menjelaskan hadis tersebut dengan gamblang bahwa imam/khalifah adalah junnah (perisai). Ia seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam, dan tempat orang-orang berlindung kepadanya.
Demikianlah yang tampak saat umat Islam ada di bawah naungan Khilafah sebagai sistem kepemimpinan Islam. Belasan abad lamanya, kehormatan kaum muslim, harta, darah, bahkan nyawa mereka, benar-benar terjaga dari gangguan musuh-musuhnya. Mereka dipersatukan menjadi satu kekuatan tanpa ada bandingan. Sampai-sampai Khilafah tampil menjadi negara adidaya dengan peradabannya yang terdepan tiada dua.
Kesuksesan Khilafah menjaga dan memuliakan rakyatnya benar-benar tercatat dengan tinta emas sejarah. Begitu pun kewibawaannya masih terngiang-ngiang hingga sekarang di telinga musuhnya. Sampai-sampai janji Allah tentang kebangkitannya pada masa yang akan datang, benar-benar menjadi mimpi buruk bagi mereka, hingga berbagai upaya pun mereka lakukan untuk menghambat penegakkannya.
Segala yang terjadi di Gaza Palestina, bahkan di negeri-negeri yang umat Islamnya tertindas karena agama, semestinya cukup untuk menyadarkan kita tentang urgensi perjuangan mengembalikan Khilafah ke tengah umat. Bukankah solusi bagi Gaza dan lainnya hanyalah pengiriman tentara dan senjata, sedangkan mereka tidak mungkin berharap pada para penguasa yang ada?
Satu-satunya harapan mereka hanya pada hadirnya seorang khalifah, yakni seorang pemimpin yang dibaiat oleh umat untuk menegakkan hukum-hukum Allah saja. Khilafahlah yang akan memobilisasi seluruh kekuatan yang dimiliki umat Islam di dunia. Khilafah pula yang akan menabuh genderang perang pada siapa pun yang menzalimi rakyatnya.
Insyaallah pada saatnya, Khilafah akan mengalahkan semua musuh-musuhnya dan mengembalikan kemuliaan umat sebagaimana seharusnya, termasuk mereka yang hari ini sedang tertindas di Gaza. [MNews/SNA]

Gaza butuh penguasa yg mengirimkan bala tentara! Namun sayang tak akan mungkin penguasa negeri sekuler rela mengirimkan tentara nya. Hanya khalifah yang berani mengirimkan tentara dan membebaskan Palestina. Ayok kita terus suarakan islam kaffah dan menegakkan khilafah! Allahu Akbar.