[Editorial] Meneropong Masa Depan Palestina Pasca-Perjanjian Gencatan Senjata

[Editorial] Meneropong Masa Depan Palestina Pasca-Perjanjian Gencatan Senjata

Muslimah News, EDITORIAL — Untuk sementara, kaum muslim Palestina—khususnya Gaza—bisa bernafas lega. Setelah horor okupasi dan genosida berlangsung 469 hari sejak 7 Oktober 2023, pada 19 Januari 2025, fase gencatan senjata dimulai. Secara berangsur, tentara Zion*s ditarik mundur. Kesepakatan pertukaran sandera pun mulai dilakukan.

Tidak berlebihan jika perjanjian gencatan senjata ini disebut-sebut sebagai kemenangan rakyat Gaza. Betapa tidak? Meski dengan senjata dan logistik seadanya, ditambah tentara Zion*s membunuhi lebih dari 46 ribu warga sipil dan meluluhlantakkan sebagian besar kota, tetapi kaum muslim Gaza telah berhasil membuat pihak musuh panik dan putus asa.

Bahkan, dunia menyaksikan keimanan kaum muslim Gaza begitu mencengangkan. Mereka pantang tunduk meski pihak musuh telah melakukan kekejian luar biasa. Mereka tetap bersabar menahan segala derita disaksikan miliaran pasang mata manusia yang ada di seluruh penjuru dunia. Begitu pun dengan para mujahidnya, mereka tetap gigih melakukan perlawanan di tengah diamnya para pemimpin muslim dengan jutaan tentara yang dimilikinya.

Poin Kritis Kesepakatan

Gencatan senjata yang disebut Al-Jazeera sebagai “cautious optimism (optimisme yang hati-hati)” ini ditandatangani di Doha oleh perwakilan AS, pihak Zion*s, dan Ham4s yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar. Perjanjian ini berisi beberapa poin kesepakatan yang diharapkan bisa mengakhiri perang—atau tepatnya pembantaian—secara permanen dan berkelanjutan.

Disebutkan bahwa gencatan senjata dibagi dalam tiga tahapan, yaitu 42 hari pertama, berupa penghentian operasi militer dan pengintaian udara di Gaza, penarikan mundur tentara Zion*s dari permukiman padat penduduk ke arah perbatasan Gaza, serta pertukaran tawanan antara kedua belah pihak.

Tahap kedua, yakni 42 hari berikutnya, berupa penghentian total permusuhan dan operasi militer, diikuti penarikan penuh pasukan Zion*s, serta pertukaran tawanan yang tersisa. Lalu tahap ketiga, yakni 42 hari selanjutnya, berupa pemulangan jenazah dari kedua belah pihak, penghentian pengepungan di Gaza, dilanjutkan dengan rekonstruksi Gaza selama 3—5 tahun dengan dukungan internasional.

Ditandatanganinya kesepakatan ini tentu saja disambut euforia oleh rakyat Gaza dan Palestina lainnya. Bahkan, para simpatisan Palestina di dunia pun turut menyambut dengan gembira. Antara sedih dan bahagia, warga Palestina, khususnya warga Gaza, turun ke jalan-jalan dan merayakannya dengan berbagai cara. Mereka benar-benar berharap bahwa mimpi buruk yang berlangsung setahun lebih ini tidak akan terulang di masa depan. Mereka juga berharap bisa melanjutkan kehidupan dalam kondisi tenang tenteram.

Namun, sebagai sebuah cautious optimism, gencatan senjata ini sejatinya masih menyimpan kerentanan meski besar harapan akan mencapai keberhasilan. Banyak pihak menilai pelanggaran perjanjian masih mungkin terjadi, mengingat pihak Zion*s menerimanya dengan setengah hati.

Sebagaimana diketahui, gagasan gencatan senjata ini sudah didorong sejak Mei 2024 oleh Presiden AS Joe Biden sebagai respons atas desakan masyarakat internasional serta situasi yang kian tidak terkendali di Gaza. Namun, pemimpin Zion*s Netanyahu saat itu bersikeras menolaknya. Ia malah berkoar-koar akan menghancurkan Ham4s hingga ke akarnya. Tekadnya ia buktikan dengan meningkatkan kadar serangan. Operasi darat pun masif dilancarkan demi ambisi merebut Gaza dan menumpas perlawanan dengan segera.

Sikapnya yang sedemikian keras membuat banyak analis tidak percaya bahwa gencatan senjata ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Terlebih tidak semua pejabat di pihak Zion*s yang sepakat dengan opsi gencatan senjata. Salah satunya adalah Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Zion*s sekaligus pemimpin partai sayap kanan ekstremis Jewish Power (Otzma Yehudit) yang rela melepaskan jabatannya sebagai bentuk protes. Dalam pandangannya, menyepakati gencatan senjata berarti menyerah kepada teror. Ia juga mengeklaim bahwa kesepakatan ini melewati “garis merah ideologis” partainya.

Nyatanya Dilanggar Juga

Memang tidak perlu menunggu lama, pada 20 Januari 2025, selang satu hari pemberlakuan kesepakatan, Kantor Berita Palestina WAFA (21-01-2025) sudah melaporkan pelanggaran yang dilakukan pihak Zion*s Yahudi. Senin malam waktu setempat, sniper Zion*s melakukan penembakan ke arah warga sipil di Kota Rafah. Seorang anak dan warga sipil Palestina dilaporkan tewas dan sembilan orang lainnya luka-luka.

Pada saat yang sama, seorang tenaga medis di Rumah Sakit Eropa di Khan Younis juga mengatakan tiga warga Palestina terluka. Drone entitas Yahudi itu menjatuhkan bahan peledak di dekat rumah mereka di bagian timur Rafah.

Sementara itu, Kantor Berita Anadolu juga melaporkan, setelah pembebasan 90 tawanan Palestina, tentara Zion*s menyerbu pemukiman warga dan menangkapi puluhan warga Palestina di Tepi Barat, termasuk anak-anak. Dilaporkan, pada Senin itu, setidaknya ada 64 warga yang ditangkap dan dibawa ke kamp militer di utara kota hingga memicu bentrokan baru di wilayah Azzun.

Tank-tank Zion*s juga dilaporkan telah melanggar zona penyangga di sepanjang perbatasan timur Rafah. Tank-tank tersebut dikabarkan merangsek ke arah wilayah Palestina, melebihi batas yang ditetapkan dalam perjanjian, yakni 700 meter dari wilayah perbatasan. Zona penyangga yang sejatinya merupakan wilayah Palestina ini memang ada di bawah pengawasan militer Yahudi sehingga memungkinkan bagi mereka melakukan berbagai pelanggaran.

Demikianlah, sebagaimana diperkirakan, gencatan senjata memang tidak bisa menghentikan kebengisan Zion*s yang didukung Amerika. Bagi mereka, melanggar janji sudah merupakan sebuah keniscayaan. Tertulis dalam A-Qur’an dan kitab-kitab sejarah peradaban dunia bahwa track record bangsa itu memang dikenal sebagai tukang ingkar janji. Mereka tidak segan-segan melakukan pengkhianatan, bahkan melakukan kejahatan yang lebih besar.

Terlebih lagi, celah itu terbuka lebar ketika kesepakatan dibagi menjadi tiga tahapan. Pada masing-masing tahap ada titik kritis yang memungkinkan bagi Zion*s melakukan pelanggaran. Salah satu contohnya adalah soal keharusan menarik mundur tentara Zion*s ke perbatasan Gaza.

Banyak yang menilai, diktum kesepakatan ini bisa menjadi sumber konflik baru mengingat bagi pihak Zion*s perbatasan Gaza punya definisi berbeda dengan muslim Gaza. Selama ini Zion*s selalu overclaim dengan menggunakan hasil Perang Enam Hari pada 1967 sebagai acuan batas wilayahnya. Sementara itu, pihak Gaza atau Palestina sudah pasti akan menuntut kembalinya semua wilayah sebagaimana peta sebelum kemerdekaan negara ilegal Zion*s pada 1948.

Waspada Rekayasa Negara Adidaya

Umat Islam tentu boleh bergembira atas capaian para pejuang Gaza yang bisa memaksa pihak Zion*s untuk menerima kesepakatan gencatan senjata. Akan tetapi, umat Islam juga mesti waspada mengingat Zion*s Yahudi sama sekali tidak bisa dipercaya. Mereka benar-benar tidak mengerti bahasa manusia sehingga perang semesta adalah jalan satu-satunya untuk membungkam kejemawaan mereka.

Umat Islam juga tidak boleh lupa bahwa akar problem Palestina adalah perampasan tanah dari pemiliknya, bukan konflik wilayah sebagaimana dinarasikan media Barat. Siapa pun tahu fakta bahwa dahulu, Palestina adalah tempat pelarian bangsa Yahudi yang terusir dari Eropa dan wilayah lainnya. Mereka dirangkul dengan ramah sebagai sesama manusia. Namun akhirnya, mereka tanpa malu merebut tanah dan harta para penolongnya tersebab hasutan Zion*s yang berkolaborasi dengan Barat yang menggunakan narasi-narasi agama.

Ya, kita pun tidak boleh lupa bahwa kasus ini terjadi atas rekayasa Barat, khususnya Inggris dan Amerika bersama elite Yahudi yang menyimpan kedengkian atas Islam. Mereka sejak lama ingin merebut kepemimpinan dunia dari umat Islam sekaligus mengukuhkan penjajahan di negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya alam. Mereka benar-benar berhasil menanam duri dalam tubuh umat Islam, hingga persoalan konflik timur tengah dan dunia Islam terus berputar di soal Zion*s dan Palestina.

Alhasil, masalah Palestina sejatinya bukan an sich persoalan bangsa Palestina. Bukan pula persoalan bagi bangsa Arab saja. Melainkan persoalan umat Islam sedunia yang hari ini berhasil dipecah belah menjadi lebih dari lima puluh negara bangsa. Mereka semua punya kewajiban untuk turut membebaskan Palestina dengan segenap kemampuan, sekaligus melawan Zion*s beserta negara-negara adidaya yang mendukungnya.

Sayangnya, kesadaran tersebut tidak hadir pada para pemimpin umat Islam dunia. Mereka cenderung memolitisasi persoalan Palestina hanya demi pencitraan di hadapan rakyat muslimnya. Mereka pun hanya mengulang-ulang narasi solusi dua negara yang terus digaungkan Barat, padahal mereka sejatinya adalah oknum di balik munculnya masalah Palestina. Bagaimana bisa para pemimpin muslim itu percaya bahwa musuh-musuh agama mereka akan menunjukkan jalan kebaikan pada urusan mereka?

Lebih parahnya, ketika para pemimpin Islam ini terlibat lebih dalam menyoal Palestina, semuanya hanya dilakukan demi kepentingan nasionalnya. Begitu pun pertolongan yang mereka berikan, semua penuh dengan hitung-hitungan. Mereka tidak mau terlibat langsung dalam perang melawan penjajah dengan dalih terikat aturan internasional. Akhirnya, kaum muslim Palestina khususnya Gaza harus berjuang sendirian dengan kekuatan seadanya. Sedangkan pihak Zion*s laknatullah di-support penuh oleh Amerika yang rela menggelontorkan dana bahwa hingga USD17,9 miliar.

Khilafah, Masa Depan Palestina

Kita memang percaya akan kesiapan para pejuang Palestina untuk terus berjihad hingga titik darah penghabisan. Kematian satu mujahid terbukti malah melahirkan ribuan para mujahid baru. Namun masalahnya ada kewajiban bagi umat Islam lainnya untuk menolong saudara mereka yang sedang tertindas. Tentu dengan pertolongan yang semestinya mampu mengusir para penjajah dan mengembalikan tanah Palestina kepada pemilik aslinya.

Pertolongan tersebut adalah berupa tentara pembebas, yang hanya bisa dimobilisasi oleh kekuatan politik adidaya. Itulah Khilafah Islam yang hari ini keberadaannya sedang diperjuangkan oleh sekelompok gerakan Islam dan kemunculannya sangat ditakuti musuh-musuh Islam.

Khilafahlah yang dulu telah berhasil membebaskan Baitulmaqdis dan wilayah Syam lainnya termasuk Palestina dari cengkeraman Imperium Romawi yang memerintah dengan zalim. Saat itu, Khalifah Umar ra. mengirim pasukan pembebas yang dipimpin Khalid bin Walid, Amru bin Ash, dan Abu Ubaidah ra., hingga tepat pada Rajab 16—17 H (636—637 M) Palestina dibebaskan dan Perjanjian Umariyah disahkan.

Begitu pun saat Baitulmaqdis sempat jatuh kepada pasukan salibis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi mengerahkan pasukannya yang kuat dan menakutkan untuk membebaskan Palestina. Tepat pada 2 Oktober 1187 M atau pada 27 Rajab 583 H, ia berhasil merebut kembali Baitulmaqdis dan tanah Palestina, bahkan memaksa musuh menandatangani perjanjian Shulh ar-Ramlah yang fenomenal.

Sungguh, hari ini kita tidak bisa berharap para pemimpin Islam akan bertindak seperti Khalifah Umar dan Sultan Shalahuddin yang tegas melawan penjajahan. Mereka hanya bisa mencuci tangan dan berdiri di belakang musuh yang mengibarkan bendera palsu perdamaian. Mereka pura-pura lupa bahwa syariat Islam jelas-jelas mengharamkan berdamai dengan musuh yang merampas tanah miliknya, apalagi dengan mereka yang tangannya berlumuran darah saudara seakidah.

Sungguh pula, sesuai janji Allah, era Khilafah Rasyidah yang kedua akan kembali pada waktu dekat. Bahkan, bisyarah Rasulullah saw. menyebutkan bahwa masa depan Baitulmaqdis dan Palestina akan cemerlang di bawah naungannya. Adapun masa depan entitas Zion*s Yahudi justru akan sebaliknya, mereka akan kalah telak dengan sehina-hinanya.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan tiba Hari Kiamat hingga kaum muslim memerangi orang-orang Yahudi dan membunuh mereka. Sampai-sampai ketika seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, batu-batu, dan pohon-pohon berkata, ‘Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Orang Yahudi ini di belakangku, kemarilah, bunuhlah ia!’ Kecuali gharqad, karena ia adalah pohon orang Yahudi.” (HR Bukhari).

Namun masalahnya, hari ini kita sedang diuji dengan beberapa pilihan hidup, yakni apakah berdiri di pihak musuh dan menolong mereka untuk menghalangi bangkitnya Khilafah, ataukah menjadi penonton bagi kehadirannya. Tentu pilihan terbaik adalah kita turut serta dalam memperjuangkannya. Namun apa pun pilihan kita, perjuangan menegakkan kembali Khilafah akan terus berjalan melewati waktu dan tempat. Dengan atau tanpa kita, kemenangan itu pasti akan tiba. [MNews/SNA-GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *