Muslimah News, EDITORIAL — Pergantian tahun sering kali menyimpan beribu harapan, tetapi tidak jarang pula dipenuhi berbagai ketakpastian. Terlebih, 2024 masih menyisakan banyak PR besar. Seluruh bidang kehidupan nyaris tidak luput dari persoalan.
Kondisi umat pada skala global tidak ada beda dengan skala nasional. Umat terpuruk dan kehilangan kemuliaan. Predikat “umat pilihan” hanya ada dalam sejarah dan bayangan. Pertanyaannya, sampai kapan?
Kondisi Global
Pada level global, umat benar-benar tampak tidak berdaya. Sejak 7 Oktober 2023, kaum muslim Gaza Palestina dibantai di hadapan mata miliaran muslim dunia. Adapun para penguasanya cuma bisa beretorika. Mereka benar-benar tega melihat lebih dari 45,5 ribu jiwa warga Gaza melayang sia-sia. 70% di antaranya terdiri dari anak-anak dan perempuan tidak berdaya.
Sungguh kasus Palestina bisa menjadi barometer eksistensi dan posisi politik umat Islam di dunia. Posisi mereka nyatanya masih terjajah dan menjadi bulan-bulanan negara adidaya. Dalam konstelasi politik internasional, mereka pun hanya pengekor, sedangkan para penguasanya rela melakukan apa saja demi mendapat restu bagi kekuasaannya.
Adapun di luar kasus Palestina, masih banyak fakta ketakberdayaan mereka. Muslim Rohingya masih keras berjuang demi pengakuan bahwa mereka adalah manusia. Muslim Uighur, India, Lebanon, Yaman, dan lainnya nasibnya juga entah bagaimana. Begitu pun muslim Suriah. Tumbangnya penguasa tiran di sana, juga belum menjadi kabar baik bagi rakyatnya.
Kondisi Indonesia
Adapun pada level nasional, dua bulan lebih kepemimpinan baru bekerja, tetapi tanda-tanda perubahan yang diharap belum juga tiba. Rakyat bertanya-tanya, Asta Cita, akankah mewujud nyata? Sementara itu, fondasi bernegara sedemikian rapuhnya. Kekuasaan pun hanya jadi bancakan bagi para pemburu kuasa yang berkongsi dengan para naga.
Sungguh, 2024 benar-benar tahun yang penuh drama. Berbagai intrik politik demikian mengemuka mewarnai perhelatan pemilu serentak berbiaya supermahal. UU yang ada dilabrak hanya demi sukses membangun dinasti kekuasaan. Sampai-sampai muncul gerakan Peringatan Darurat lantaran demokrasi dianggap benar-benar sekarat.
Namun, suara-suara perubahan tidak lebih kuat daripada kuasa uang, sedangkan mayoritas rakyat tampak sudah kehilangan daya. Pragmatisme sudah sedemikian lekat pada diri mereka. Alhasil, berbagai janji manis para pemburu kuasa selalu saja memupus cita-cita hakiki perubahan, meski mereka tahu ujung-ujungnya pasti akan kecewa.
Betul saja, tidak perlu waktu lama, rakyat melihat hasil pilihan mereka. Alih-alih membaik, kehidupan justru makin terasa berat. Penguasa yang mereka harapkan sehebat Khalifah Umar, gagal menyolusi masalah yang diwariskan rezim sebelumnya. Bahkan, para penguasa pilihan dengan entengnya mengeluarkan berbagai kebijakan zalim yang menambah beban kehidupan.
Kondisi ekonomi benar-benar darurat. Utang negara menumpuk dan banyak proyek ambisius mangkrak. Lalu atas nama penyelamatan APBN, penguasa pun kian lugas berposisi sebagai pemalak. Mereka menutup wajahnya dengan kebijakan bergaya populisme otoritarian. Lalu mencuci tangan dengan menyampaikan pesan, sayang tongkat Nabi Musa dan Nabi Sulaiman tidak ada di tangan.
Lantas, rakyat pun diminta sedikit bersabar lantaran katanya, problem bangsa terlalu besar. Padahal, bagi rakyat, kesabaran sudah menjadi amal harian. Lalu, apalagi yang bisa mereka lakukan?
Bukan Ekonomi Saja
Kesabaran memang tidak ada batasnya. Masalahnya, beban rakyat bukan soal ekonomi saja. Negara pun terbukti gagal memberi rasa aman dan penjagaan. Sebagian aparat dan pejabat juga malah turut berubah menjadi penjahat.
Alhasil, kita melihat, makin hari, rasionalitas, kesehatan mental, bahkan naluri rakyat sedikit demi sedikit kian menghilang. Sistem pendidikan yang diterapkan pun tidak mampu menghasilkan output SDM yang kuat menghadapi tantangan kehidupan. Kondisi masyarakat bahkan turut merusak kemanusiaan, hingga umat Islam nyaris kehilangan identitas sebagai bangsa pejuang.
Tahun-tahun belakangan, berbagai kasus kekerasan, kerusakan moral, hingga bunuh diri makin menjadi tren. Bahkan, jumlah masyarakat yang terjerat judol dan pinjol benar-benar menjadi fenomenal. Tidak cuma bapak-bapak putus asa, mak-mak, para guru, mahasiswa, bahkan anak-anak pun masuk dalam pusaran. Jumlah uang yang berputar pun benar-benar tidak masuk nalar.
Selain problem ekonomi, negara pun tampak gagal menjamin keadilan hukum bagi rakyatnya. Begitu banyak kasus kriminal terjadi dan tidak jelas juntrungan. Penjara-penjara penuh, di tengah parahnya kondisi keuangan negara. Itulah sebabnya wacana amnesti 44 ribu napi muncul ke permukaan. Benar-benar tampak jika gegara uang, negara akhirnya memilih kalah melawan para mafia dan kriminal.
Korupsi pun tidak kalah merajalela. Wajar saja 2024 menjadi tahun panen kasus megakorupsi. Ada kasus PT Timah, suap hakim kasus Ronald Tannur, hingga impor gula yang melibatkan uang dalam jumlah benar-benar fantastis. Ironisnya, para pelaku korupsi ini divonis dengan hukuman ringan diiringi narasi tawaran amnesti koruptor yang tentu saja sangat mencederai rasa keadilan.
Muhasabah
Bagaimanapun, 2025 sudah menjelang. Namun, pergantian tahun tampaknya masih akan menyisakan begitu banyak kepahitan. Hal ini wajar karena umat masih saja fokus pada perubahan orang. Padahal, akar problem semua kesempitan adalah karena kita keukeuh mempertahankan tegaknya sistem yang menafikan kedaulatan Tuhan, yakni menolak agama (Islam) turut campur dalam mengatur urusan kehidupan.
Sistem tersebut tidak lain adalah sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal. Sistem batil ini telah menempatkan kekuasaan hanya sebagai pelayan bagi kekuatan modal. Adapun hubungan penguasa dengan rakyatnya tidak lebih dari hubungan dagang. Dengan demikian, jangan harap rakyat bisa merasakan keadilan, kesejahteraan, dan keberkahan karena posisi rakyat tidak lebih dari sapi perahan.
Penguasa boleh saja lantang beretorika bahwa mereka tidak mau melihat rakyatnya menderita. Namun, fakta membuktikan bahwa kebijakan yang mereka tetapkan justru zalim terhadap rakyatnya. Pajak mencekik di tengah harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik. Nyaris semua layanan publik, mulai dari kesehatan, pendidikan, dan keamanan berkualitas, harus mereka beli dengan harga mahal. Bahkan, untuk yang sekadarnya pun masih banyak rakyat yang tidak bisa mendapatkan. Lantas, sampai kapan mau dipertahankan?
Umat semestinya sadar bahwa cita-cita kebangkitan hanya akan menjadi harapan sepanjang rezim sekuler ini dipertahankan. Tidak ada pilihan, kecuali umat segera mencampakkan sistem batil ini dan menggantinya dengan sistem Islam yang tegak di atas paradigma iman dan ketaatan pada hukum-hukum syarak.
Sistem kepemimpinan Islam—atau dikenal dengan sebutan Khilafah—jelas memiliki paradigma yang bertentangan secara diametral dengan sistem yang tegak sekarang ini. Sistem Islam benar-benar mendudukkan negara dan pemimpinnya sebagai perisai dan penjaga umat. Mereka akan memastikan kehidupan rakyat benar-benar sejahtera secara lahir dan batin. Kebutuhan sandang, pangan, papan, dan layanan publik lainnya akan dipenuhi dengan sebaik-baiknya, dan semuanya niscaya melalui penerapan syariat Islam secara kafah oleh negara.
Umat pun akan dijaga dari segala hal yang akan menyakiti dan melemahkannya yang semua ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab oleh para penguasa. Sebabnya, kepemimpinan dalam Islam bukan hanya memiliki dimensi duniawi, tetapi juga ada sisi ruhiah yang mendasari.
Islam menegaskan bahwa kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. Ia akan jadi sesalan bagi orang yang mengabaikannya. Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh jabatan ini adalah amanah. Pada Hari Kiamat nanti, jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan hak dan menunaikan amanah itu yang menjadi kewajibannya.” (HR Muslim). Juga bersabda, “Siapa pun yang diangkat memegang tampuk kepimpinan atas rakyat, lalu ia menipu mereka, maka ia akan masuk neraka.” (HR Ahmad).
Khatimah
Sungguh, tegaknya kepemimpinan Islam tidak bisa lagi ditunda. Hanya dengannya seluruh aturan Allah Taala akan tegak dengan sempurna. Dengan cara itulah mereka bisa segera beranjak dari dosa berkepanjangan sekaligus segera terangkat dari keterpurukan akibat maksiat yang dilakukan secara struktural.
Umat juga harus yakin bahwa penerapan hukum-hukum Islam dipastikan akan membawa keadilan dan penuh rahmat. Ini karena risalah Islam memang diturunkan sebagai solusi seluruh problem kehidupan. Syariat Islam mengatur masalah politik yang menempatkan kedaulatan hanya di tangan syarak. Alhasil, dapat dipastikan negara akan mandiri dan kuat, bebas dari segala bentuk penjajahan.
Syariat Islam pun mengatur urusan ekonomi, yang jika diterapkan masyarakatnya akan makmur dan sejahtera. Hal ini karena Islam salah satunya mengatur soal kepemilikan, yang menetapkan SDA yang begitu melimpah ruah sebagai milik umat yanh wajib dikelola negara sebagai modal menyejahterakan rakyatnya.
Demikian pula syariat Islam mengatur hubungan sosial, serta mengatur urusan hukum dan sanksi, yang jika diterapkan dipastikan kehidupan masyarakat akan aman, tenteram, damai, sentosa. Masyarakat pun akan jauh dari kerusakan, karena suasana interaksinya dipenuhi spirit taawun dalam kebaikan, serta diliputi tradisi amar makruf nahi mungkar.
Walhasil, semua nilai yang diinginkan manusia, seperti nilai-nilai rohani, materi, akhlaki, dan insani, akan mewujud selaras dalam kehidupan. Begitu pun penjagaan atas akal, jiwa, harta, kehormatan, agama, dan negara yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia, benar-benar akan bisa terealisasi.
Sejarah menunjukkan, kehidupan umat di bawah naungan kepemimpinan Islam benar-benar tampil sebagai peradaban cemerlang. Selama belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai umat pilihan yang disegani kawan maupun lawan.
Jika umat mau, semua itu akan kembali pada masa yang akan datang. Satu hal saja yang mesti mereka lakukan, yakni berjuang menegakkan kepemimpinan Islam melalui dakwah atas dasar iman dalam rangka menyadarkan umat tanpa kekerasan!
Allah Taala berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110).
Juga firman-Nya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96). [MNews/SNA]
