Pendidikan Terbaik untuk Rabi’ah ar-Ra’yi

Pendidikan Terbaik untuk Rabi’ah ar-Ra’yi

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — “Selain itu semua, ia adalah tokoh berakhlak mulia, tawaduk, dan dermawan. Tidak ada penduduk Madinah yang lebih dermawan melebihi dirinya, baik kepada teman atau anak temannya. Tidak pula ada orang yang lebih zuhud dalam perhiasan dunia dan lebih berharap dengan apa yang ada di sisi Allah daripada dirinya,” ungkap seseorang yang duduk di samping Farrukh. Farrukh merasa penasaran terhadap sosok syekh yang mengisi majelis ilmu kala itu. Seseorang yang masih muda, tetapi sudah memiliki kapasitas ilmu hadis dan fikih yang mumpuni.

Farrukh berkata, “Akan tetapi, Anda belum menyebutkan namanya untukku.” Orang itu berkata, “Ia adalah Rabi’ah ar-Ra’yi.” Farrukh bertanya, “Rabi’ah ar-Ra’yi?” Orang itu menjawab, “Ya, namanya adalah Rabi’ah. Akan tetapi, ulama dan para syekh Madinah memanggilnya Rabi’ah ar-Ra’yi. Ini karena jika mereka tidak menemukan nas, baik di dalam Al-Qur’an maupun dalam hadis Rasulullah ﷺ dalam suatu kasus, mereka kembali kepadanya. Ia berijtihad dalam masalah itu dan mengkiaskan sesuatu yang tidak ada nas dengan sesuatu yang ada nasnya. Kemudian, ia mengeluarkan hukum kepada mereka dalam perkara yang mereka merasa kesulitan, dengan bentuk hukum yang menenangkan jiwa dan memuaskan hati.”

Farrukh berkata spontan, “Akan tetapi, Anda tidak menyebutkan nasabnya kepadaku.” Orang itu berkata, “Ia adalah Rabi’ah bin Farrukh yang dipanggil dengan nama Abu Abdurrahman. Ia dilahirkan setelah ayahnya meninggalkan Madinah karena berjihad di jalan Allah. Ibunya mengurus pendidikan dan perkembangannya. Sesungguhnya ayahnya telah kembali kemarin malam.”

Pada saat itu, kedua mata Farrukh meneteskan air mata, sedangkan orang-orang tidak mengetahui sebabnya. Kemudian Farrukh segera pulang ke rumahnya. Ketika Ummu Rabi’ah melihatnya dengan mata yang basah karena air mata, ia berkata, “Apa yang menimpamu, wahai Abu Rabi’ah?” Farrukh menjawab, “Aku hanya mendapat kebaikan. Aku telah melihat anak kita berada di puncak ilmu, keutamaan, dan kebesaran yang belum pernah kulihat terjadi pada seorang anak sama sekali.”

Kemudian, Ummu Rabi’ah memanfaatkan kesempatan itu dan berkata, “Mana yang lebih kamu sukai, 30.000 dinar atau ilmu dan kemuliaan yang telah diraih anakmu?” Farrukh menjawab, “Demi Allah, aku lebih menyukai ini dan bagiku itu lebih berharga daripada harta seluruhnya.” Ummu Rabi’ah lalu berkata, “Aku telah membiayakan harta yang kamu tinggalkan kepadaku untuknya. Apakah jiwamu merasa senang dengan apa yang aku lakukan?” Farrukh berkata, “Ya. Semoga kamu mendapat balasan baik karena jasamu kepadaku, kepadanya, dan kaum muslim.” (Abdurrahman Ra’fat al-Basya, Jejak Perjuangan dan Keteladanan para Tabiin)

Hikmah

Bermula dari pertanyaan sang suami Farrukh kepada istrinya perihal ke mana harta yang ia tinggalkan untuknya dan digunakan untuk apa, Allah menjawabnya langsung melalui kesaksiannya sendiri melihat anaknya tumbuh dan berkembang menjadi ulama besar di Madinah. Mengingat kembali petuah Abdullah bin Mas’ud bahwa orang beruntung adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari apa yang menimpa orang lain. Oleh karenanya, patut sekiranya kisah Farrukh dan keluarga kecilnya menjadi pelajaran berharga bagi kita, baik sebagai anak, orang tua, dan guru umat.

Pertama, mencari nafkah adalah kewajiban para ayah agar bisa memenuhi tanggung jawab dan perannya sebagai pemimpin bagi keluarganya. Sebelum berangkat berjihad, Farrukh meninggalkan harta yang sangat banyak kepada istrinya agar dapat memenuhi kebutuhannya. Nafkah yang diberikan seorang suami kepada istrinya bernilai sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Nafkah yang diberikan seorang kepala rumah tangga kepada keluarganya bernilai sedekah. Sungguh, seseorang diberi ganjaran karena meski sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam mulut keluarganya.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Kedua, orang tua harus memberikan pendidikan terbaik kepada anak dengan harta halal, penanaman akidah yang kuat, dan pengajaran adab yang baik. Harta yang digunakan untuk pendidikan anak-anak harus dipastikan berasal dari harta yang halal. Sebabnya, ketaatan dan kesalehan anak, sesungguhnya bergantung pada ketaatan dan kesalehan orang tuanya. Keimanan yang kuat akan mencegah anak berbuat maksiat. Adapun terkait pengajaran adab, mari berpedoman pada apa yang disabdakan Nabi ﷺ tentang hal ini. Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik daripada adab yang baik.” (HR At-Tirmidzi).

Ummu Rabi’ah menjalankan tugas dan perannya sebagai ibu dengan sangat baik. Ia gunakan harta suaminya demi pendidikan terbaik untuk putra tercinta. Alhasil, Rabi’ah menjadi ulama ahli hadis dan guru besar bagi kaum muslim. Keluarga Farrukh adalah teladan bagi seluruh keluarga muslim. Ketika suami selesai dalam masa jihad, ia meridai sang istri menghabiskan harta yang ia tinggalkan untuk pendidikan anaknya yang kini menjadi ulama besar.

Seperti inilah idealisme keluarga muslim, yakni beriorientasi pada akhirat dan membentuk ketaatan pada anak. Dengan demikian, kelak ia menjadi tumpuan bagi umat dan peradaban Islam. Sungguh, tidak ada kebahagiaan dunia maupun akhirat selain melihat anak-anak kita menjadi generasi umat terbaik, pejuang tangguh, dan penjaga Islam tepercaya. [MNews/CJ-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *