Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Pada suatu hari, Salim bin Abdullah bin Umar, cucu Umar bin Khaththab ra. menemui Al-Hajjaj karena hendak mengadukan sebuah perkara. Kemudian Al-Hajjaj memberi salam penghormatan dan menyambutnya dengan sebaik-baik sambutan. Tatkala keduanya sedang berbincang, tiba-tiba dihadapkan kepada Al-Hajjaj sekelompok orang. Rambut mereka acak-acakan, tubuhnya penuh debu, wajahnya pucat, dan mereka dibelenggu dengan rantai. Al-Hajjaj melihat ke arah Salim dan berkata, “Mereka adalah pembangkang yang membuat kerusakan di muka bumi. Mereka telah menghalalkan darah yang diharamkan oleh Allah.” Kemudian Al-Hajjaj memberikan pedangnya kepada Salim dan menunjuk orang pertama seraya berkata, “Bunuhlah ia!” Salim segera mengambil pedang dari tangan Al-Hajjaj dan menghampiri orang yang ditunjuk. Orang-orang melihat apa yang akan diperbuat oleh Salim.
Tatkala telah berdiri di depan orang tersebut, Salim bertanya kepadanya, “Apakah engkau muslim?” Ia menjawab, “Ya. Mengapa engkau bertanya demikian? Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu!” Salim bertanya lagi, “Apakah hari ini engkau telah menunaikan salat subuh?” Ia menjawab, “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu. Aku katakan, ‘Ya, aku telah salat subuh.’” Setelah mendengar jawabannya, Salim kembali kepada Al-Hajjaj dan melempar pedang tersebut di hadapannya seraya berkata, “Ia mengaku bahwasanya ia adalah seorang muslim. Ia juga berkata kalau hari ini ia telah menunaikan salat subuh. Sungguh, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menunaikan salat subuh, maka ia berada dalam tanggungan Allah.” (HR Muslim No.262).
Salim mengatakan kepada Al-Hajjaj bahwa ia tidak dapat membunuh seseorang yang berada dalam tanggungan Allah Taala. Dalam keadaan marah, Al-Hajjaj berkata, “Kita tidak membunuhnya karena meninggalkan salat subuh. Akan tetapi, kita membunuhnya karena ia termasuk orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman bin Affan.” Salim berkata, “Sesungguhnya di antara manusia ada orang yang lebih utama dari diriku dan dirimu terhadap darahnya Utsman (ra.).” Kemudian, Al-Hajjaj diam dan tidak menjawab apa yang dikatakan Salim. (Abdurrahman Ra’fat al-Basya, Jejak Perjuangan dan Keteladanan Para Tabiin).
Hikmah
Sikap tegas Salim bin Abdullah bin Umar mengingatkan kita pada ketegasan kakeknya, Umar bin Khaththab (ra.). Terdapat beberapa hikmah yang bisa kita petik dari kisah Salim dan Al-Hajjaj, penguasa kaum muslim kala itu.
Pertama, berpihaklah pada kebenaran dengan penuh keberanian. Inilah yang hendak diajarkan Salim kepada kita semua. Keberaniannya telah mencatatkan dirinya sebagai tabiin yang tegas. Tanpa rasa takut, ia berani membela kebenaran di hadapan pemimpin zalim.
Para ulama mengatakan, diam terhadap kemungkaran dan kezaliman adalah setan bisu. Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Siapa yang diam saja, tidak menyatakan Al-Haq (kebenaran), maka ia adalah setan bisu.” (Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, 2/20). Bahkan, Nabi ﷺ mengatakan jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim.
Dalam riwayat lain, beliau saw. juga bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar bahwa akan ada setelah aku para pemimpin, barang siapa yang menemui mereka dan membenarkan kedustaan mereka serta membantu kezaliman mereka, maka ia bukan termasuk golongan aku dan aku bukan darinya. Ia tidak akan menemui aku di telaga, serta aku tidak menemui mereka. Barang siapa yang tidak mempercayai kedustaan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golongan aku dan aku bagian darinya. Ia akan menemui aku di telaga.” (HR An-Nasa’i).
Kedua, melakukan tabayun atau klarifikasi. Inilah yang dilakukan Salim ketika Al-Hajjaj memintanya membunuh orang yang dianggap bersalah. Salim tidak langsung menelan mentah perintah tersebut. Ia justru bertanya kepada orang yang akan dibunuh perihal keislaman dan salat subuhnya. Salim benar-benar ingin memastikan, siapa yang zalim dan siapa yang benar. Alhasil, ia dengan tegas menolak perintah Al-Hajjaj dalam rangka membela kebenaran.
Tabayun bermakna mencari kebenaran atas sesuatu agar tidak terjadi fitnah dan ketakadilan. Selain itu, tabayun juga membuat seseorang lebih berhati-hati pada setiap informasi yang diterimanya. Allah Taala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6).
Berpihak pada kebenaran dan mencari kebenaran dengan sikap tabayun merupakan sikap yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan, menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk selalu mengatakan kebenaran secara konsisten sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah. Tidak ada perkataan yang lebih baik, selain orang yang menyeru agar tunduk dan taat sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada manusia. [MNews/CJ-YG]
