Muslimah News, NASIONAL — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, Generasi Z (Gen Z) dan milenial menyumbang sepertiga kredit macet pinjaman online (pinjol). Pada Juli 2024, kredit macet lebih dari 90 hari atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) di perusahaan pinjol atau peer to peer (P2P) lending mencapai 2,53% secara year on year (YoY). Porsi Gen Z dan milenial dalam kategori usia 19—34 tahun menjadi penyebab utama mencapai 37,17% secara YoY.
OJK juga telah meminta layanan pinjol memberikan peringatan kepada pengguna untuk menghindari risiko kredit macet. Salah satunya dengan membuat peringatan khusus untuk calon peminjam di website maupun aplikasi resmi pinjol.
Adapun kalimat peringatannya berbunyi “Peringatan! Hati-hati transaksi ini berisiko tinggi. Anda dapat saja mengalami kerugian atau kehilangan uang dengan berutang jika tidak memiliki kemampuan membayar. Pertimbangkan secara bijak sebelum bertransaksi”.
Korban
Menurut aktivis mahasiswa asal Bandung Rizka Maulidina, saat ini Gen Z betul-betul telah menjadi korban kapitalisasi digital. “Gen Z merupakan sasaran empuk para kapitalis yang telah mengisap semua potensi yang mereka miliki,” ujarnya kepada MNews, Jumat (13-9-2024).
Bahkan, ungkapnya, dengan memanfaatkan potensi Gen Z yang terlahir sebagai digital natif—yaitu kelompok yang terlahir dan tumbuh di zaman teknologi digital yang sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-harinya—, platform digital pun hadir sebagai sarana yang dapat mendukung hal tersebut, termasuk pinjol.
“Tawaran pinjol yang menggiurkan seakan menjadi solusi di tengah problematika yang dihadapi. Kemudahan syarat peminjaman dan proses yang cepat seakan menghipnotis untuk menjadi alternatif pinjaman bank dengan kemudahan syarat peminjaman dan proses instan,” bebernya.
Ia menyesalkan kondisi Gen Z yang dijebak dalam sistem kehidupan sekuler kapitalisme. “Kehidupan yang serba materiil menyebabkan mereka terjerumus pada gaya hidup hedonis dan pragmatis. Ditambah kehadiran media sosial yang memperlihatkan gaya hidup glamor lebih mendukung sebagai sarana yang menjadikan Gen Z konsumtif,” jelasnya.
Apalagi, lanjutnya, gaya hidup konsumtif telah menjadi lifestyle Gen Z. “Hiburan, pembelian gawai ataupun barang elektronik kekinian, perawatan wajah dan tubuh (skincare dan body treatment-penj.), juga nongkrong di kafe,” ucapnya.
Ia menilai, ibarat gayung bersambut, setelah Gen Z dijebak dengan kehidupan kapitalisme, pinjol dianggap sebagai solusi praktis untuk memenuhi gaya hidup yang didorong oleh fenomena fear of missing out (FOMO).
“Maka, tidak mengherankan jika ada mahasiswa bisa menghabiskan uang Rp2,9 juta per bulan di mana pengeluaran ini lebih tinggi dibandingkan upah minimum Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2024 sebesar Rp2.125.898,-,” urainya.
Oleh karenanya, ia mengungkapkan, penerapan sistem kapitalisme telah menjadikan para ‘lintah darat’ naik kasta menjadi legal bahkan menjadi sumber cuan bagi negara.
“Bahkan Menko PMK Muhadjir Effendy mendukung mahasiswa memanfaatkan pinjol untuk membayar uang kuliah jika kesulitan ekonomi. Ini adalah fenomena yang sangat menyesakkan dada. Alih-alih memfasilitasi untuk menjadikan calon pemimpin masa depan berkualitas, Gen Z malah dibuat terjebak dengan berbagai jeratan kesulitan,” kritiknya.
Solusi Sistemis
Untuk itu, Rizka menerangkan, agar dapat keluar dari berbagai problem digital yang menjebak Gen Z dalam berbagai kesulitan, diperlukan solusi sistemis yang membutuhkan tanggung jawab negara.
“Penerapan Islam dari berbagai lini kehidupan adalah harapan untuk penyelesain masalah pinjol ini. Dimulai dari bidang pendidikan yang merupakan kebutuhan pokok dan difasilitasi oleh negara dalam pemenuhannya sehingga biayanya relatif murah, bahkan bisa gratis,” paparnya.
Kemudian, lanjutnya, pengaturan media oleh negara juga dilakukan untuk menjaga generasi dari berbagai pemahaman yang menjerumuskan.
“Negara Islam pun akan menjamin pemenuhan kebutuhan publik, terutama kebutuhan primer berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, dan keamanan yang dapat menutup celah kehadiran pinjol sebagai alternatif solusi dari kesulitan yang dihadapi,” jelasnya. [MNews/RA]
