[Kabar] Aktivis: Netanyahu Hanya Memikirkan Ambisi Kekuasaan, Bukan Rakyat

[Kabar] Aktivis: Netanyahu Hanya Memikirkan Ambisi Kekuasaan, Bukan Rakyat

Muslimah News, INTERNASIONAL — Puluhan ribu warga Yahudi turun ke jalan menuntut kesepakatan gencatan senjata setelah enam sandera ditemukan tewas di Gaza.

Para pengunjuk rasa menuntut Netanyahu melakukan kesepakatan gencatan senjata dengan Ham*s untuk memulangkan tawanan yang tersisa.

Dalam pernyataannya, Forum Sandera dan Keluarga Hilang, mewakili keluarga para tawanan yang ditahan di Gaza mengatakan, “Kematian enam sandera adalah akibat langsung kegagalan Netanyahu mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran dan memulangkan tawanan.”

Netanyahu sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak akan melakukan gencatan senjata atau mengendurkan serangan untuk melakukan pertukaran tawanan.

Ambisi Kekuasaan

Aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah menilai sikap Netanyahu ini menunjukkan bahwa perdana menteri entitas Zion*s Yahudi itu hanya memikirkan ambisi kekuasaan.

“Sesungguhnya mereka hanya memikirkan ambisi kekuasaan dan hanya memikirkan tentang keinginan mereka mendapat kemenangan total atas wilayah Palestina. Pemerintah ilegal Yahudi sama sekali tidak memikirkan rakyat mereka,” tuturnya kepada MNews, Jumat (13-9-2024).

Bagi Netanyahu, lanjutnya, istilah pertukaran sandera hanya digunakan untuk memberikan tekanan kepada Ham*s agar menuruti keinginannya.

Meski demikian, Iffah meyakini bahwa Yahudi tidak pernah akan bisa mengalahkan Ham*s. “Apa yang dilakukan oleh entitas Zion*s dengan kebrutalannya, dengan segala manipulasi opini maupun data untuk membenarkan serangan dan kebrutalan mereka, dan mereka pun disokong oleh media internasional, di-backup dengan uang dan senjata oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika dan negara-negara Eropa Barat lainnya, tidak akan bisa mengalahkan Ham*s,” tegasnya.

Netanyahu, ia mengulas, tidak pernah benar-benar ada keinginan untuk mempertukarkan tawanan atau bersikap adil terhadap pihak lain.”Ini sesungguhnya membuka tabir bagaimana negara-negara Barat, khususnya Amerika mempunyai kepentingan besar sesuai ambisi kekuasaan dan hegemoni mereka,” ulasnya.

Penguasa ilegal Yahudi itu, lanjutnya, sama sekali tidak pernah memikirkan apa yang dirasakan oleh para keluarga yang anggotanya menjadi korban akibat perang.

“Bagi entitas Zion*s saja mereka tidak peduli, apalagi peduli terhadap kaum muslim warga Palestina. Tentu sama sekali tidak ada sedikit pun itu ada dalam motif, apalagi tindakan mereka,” tandasnya.

Bukti

Dalam pandangan Iffah, chaos–nya kondisi entitas Zion*s Yahudi ini menunjukkan bahwa siapa pun yang mempunyai keinginan buruk terhadap umat Islam, maka Allah Swt. akan memorak-porandakan mereka dengan mudah.

“Karena itu, yakinlah bahwa apa yang terjadi antara Palestina dengan [Zion*s] Yahudi ini sesungguhnya juga cara Allah untuk membukakan mata dunia bahwa hari ini tidak bisa lagi mengharapkan ada kebaikan dari kepemimpinan global yang dipimpin oleh Amerika dan negara-negara Barat dengan kapitalisme mereka,” ulasnya.

Apa yang terjadi di Palestina, ucapnya, menggambarkan betapa persatuan kaum muslim, khususnya di Gaza adalah bukti nyata bahwa mereka bersandar kepada satu prinsip hak, yaitu agama Allah.

“Mereka berjuang membela negeri mereka dan menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi anak dan keluarga mereka, semata-mata karena Allah Taala, bukan karena kepentingan-kepentingan atau ambisi-ambisi materialistis belaka,” terangnya.

Iffah mengajak kaum muslim agar menyadari bahwa perundingan atau kompromi yang ditawarkan dunia internasional bukanlah solusi atas masalah Palestina.

“Solusi bagi Palestina, bagi pembebasan Gaza, tidak lain adalah dengan bergeraknya kaum muslim dalam satu barisan, dalam satu komando kesatuan politik kaum muslim. Dengan itu, kaum muslim bisa memberikan komando jihad fi sabilillah kepada tentara-tentara mereka dan tentara-tentara kaum muslim,” tegasnya.

Kesatuan kaum muslim inilah, menurut Iffah, yang akan berhadapan dengan pihak mana pun yang ingin melanggengkan hegemoninya pada umat Islam di belahan bumi mana pun.

“Itu hanya bisa terwujud ketika kita memilih kembali sebuah sistem politik Islam yakni Khilafah Islamiah. Karena itu, kita memohon kepada Allah agar Allah Swt. menghadirkan kembali sistem Khilafah di muka bumi ini dengan ikhtiar tangan-tangan kita,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *