[Kabar] UIY: Mewujudkan Perbaikan Butuh Perubahan Ideologis

[Kabar] UIY: Mewujudkan Perbaikan Butuh Perubahan Ideologis

Muslimah News, NASIONAL— Meski presiden silih berganti, negeri ini terus dirundung berbagai masalah. Korupsi, kemiskinan, pergaulan bebas, terlilit utang, dan perusakan akidah adalah contoh masalah di antara banyak masalah.

Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menilai, munculnya berbagai masalah yang tidak kunjung mendapatkan solusi menunjukkan bahwa untuk mewujudkan perbaikan, tidak cukup hanya mengganti pemimpin, tetapi butuh perubahan ideologis.

“Kita harus membuka cakrawala berpikir kita untuk melihat satu level lagi perubahan, yaitu perubahan ideologis,” tuturnya di acara Focus to The Point: “Negara Kita Butuh Perubahan Level 3” melalui kanal UIY Official, Selasa (3-9-2024).

Ia menjelaskan, perubahan ideologis adalah perubahan yang menyangkut fundamen dari tatanan sebuah masyarakat dan negara.

“Kalau kita bicara krisis ekonomi, itu bukan sekadar masalah teknis ekonomi, semisal rupiah terdepresiasi sehingga harus menggenjot ekspor supaya mata uang menjadi kuat atau sekadar perubahan rezim, tetapi itu semua terjadi karena sistem ideologi kapitalisme,” jelasnya.

Jika hanya mengupayakan perubahan teknis ekonomi atau perubahan rezim, ucapnya, sudah terbukti tidak pernah akan beranjak dari persoalan yang ada.

“Ini perlu ditegaskan karena acap kali daya harap itu hanya berhenti pada perubahan rezim. Oleh karena itu, penting mengatakan bahwa yang dihadapi ini bukan sekadar teknis ekonomi dan politik, tetapi ideologi,” tandasnya.

Berbasis Islam

UIY menerangkan, perubahan ideologi pun bukan sembarang ideologi tetapi harus berbasis Islam.

“Dalam surah Ar-Rum ayat 21 disebutkan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut akibat tangan manusia. Kerusakan apa? Kerusakan ekonomi, kesenjangan, kemiskinan, korupsi, kerusakan politik, kerusakan moral, kerusakan lingkungan. Kenapa itu terjadi? Al-Qur’an mengatakan bimaa kasabat aidin naasi (karena tangan manusia-red.),” bebernya.

UIY mengutip penjelasan Imam Ash-Shabuni dalam kitab Shafwah al-Tafasir bahwa yang dimaksud bimaa kasabat aidin naasi adalah kemaksiatan dan dosa-dosa manusia.

“Apa itu maksiat? Maksiat adalah setiap pelanggaran terhadap syariat, [yaitu] melakukan yang haram, meninggalkan yang wajib,” imbuhnya.

Melakukan yang haram dan meninggalkan yang wajib ini, menurutnya, bisa dilakukan di level personal maupun komunal. “Seberapa besar kerusakan tergantung seberapa besar kemaksiatan yang dilakukan,” tegasnya.

Kerusakan personal, ia memberikan contoh, orang yang tidak salat wajib, mabuk-mabukan, itu akan menimbulkan kerusakan atau fasad, tetapi hanya di level individu.

“Ada juga kemaksiatan komunal atau struktural. Contohnya, sistem ekonomi kapitalisme, Machiavelis, sikap beragama yang sinkretis, westernisasi, itu semua kemaksiatan struktural yang menimbulkan fasad kepada seluruh masyarakat. Jadi dampaknya juga terstruktur,” bebernya.

Menurutnya, di sinilah pentingnya mengaitkan perubahan dengan akidah dan syariat karena pelanggaran terhadap syariat pasti menimbulkan fasad.

“Itu keyakinan! Dan faktanya memang seperti itu, bahwa apa yang ditetapkan Allah pasti baik dan yang dilanggar pasti akan menimbulkan keburukan seperti yang Allah sampaikan sendiri,” tandasnya.

Ia mendasarkan pada Al-Quran surat Thaha ayat 123 bahwa siapa saja yang mengikuti petunjuk Allah, maka tidak akan sesat dan tidak akan celaka. “Ini akidah!” tukasnya.

UIY menegaskan, seharusnya kerangka berfikir seperti itulah yang dipakai oleh umat. “Jika dari kerangka berfikir ini kemudian terdorong melakukan perubahan inilah yang disebut dengan perubahan ideologis. Jadi tidak sekadar berhenti pada perubahan politik, apalagi perubahan teknis ekonomi,” terangnya.

Belum Selesai

UIY tidak sepakat jika dikatakan bahwa masalah ideologi sudah selesai bagi bangsa ini karena faktanya masih tetap menggunakan sistem sekularisme kapitalisme.

“Siapa bilang masalah ideologi itu selesai? Kalau selesai mestinya setiap kali ada tuntutan untuk penerapan syariat dengan mudah diterima. Ketika ini ditolak pasti ada persoalan ideologi,” argumennya.

Dalam analisis UIY, banyaknya masalah yang belum selesai menunjukkan persoalan ideologi karena tidak ketemu ujung pangkalnya.

“Kita bilang bahwa ekonomi saat ini pasti akan menimbulkan kesenjangan. Kenapa? Karena kapitalisme itu wataknya pasti akan menimbulkan kesenjangan. Ketika kita bilang bahwa kapitalisme ini menimbulkan kesenjangan, pasti orang enggak terima. Sudahlah enggak usah ngomong soal kapitalisme. Ini berarti kan soal ideologi. Jadi orang mengingkari inti dari masalah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *