[Kabar] Invasi Zion*s di Tepi Barat, Aktivis: Episode Epik Baru bagi Rakyat Palestina

[Kabar] Invasi Zion*s di Tepi Barat, Aktivis: Episode Epik Baru bagi Rakyat Palestina

Muslimah News, INTERNASIONAL — Militer Zion*s telah melancarkan operasi besar-besaran di Tepi Barat bagian utara dan Lembah Yordan, Rabu (28-8-2024), yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 22 tahun terakhir. Invasi ini disebut sebagai operasi terbesar sejak Operasi Perisai Pertahanan pada 2002.

Zion*s menyerbu Kota Jenin dan Tulkarem serta kamp Al-Far’a dekat Tubas. Mereka mundur pada Kamis subuh dari kamp Al-Far’a, kemudian malam harinya mundur dari Tulkarem, sementara operasi masih berlanjut di Jenin.

Menteri Keuangan Zion*s Smotrich menyatakan komitmennya untuk memperluas operasi militer hingga mencakup seluruh Tepi Barat, memperluas pemukiman, dan mengembangkan rencana strategis untuk menggagalkan terbentuknya negara Palestina. Mereka mengungkapkan mimpi dan ambisi yang saat ini tidak realistis, meskipun mencerminkan mentalitas Alkitab mereka yang sedang terbentuk.

Bahkan, baru-baru ini di jalanan mereka, pernyataan-pernyataan lainnya dari para pemimpin Zion*s, seperti pejabat militernya, mengungkapkan tujuan dari operasi kriminal ini.

“Badan keamanan sedang bersiap untuk meningkatkan langkah menghilangkan terorisme yang mengancam warga [Zion*s] setelah periode yang sangat penuh kekerasan di mana terorisme meningkat di seluruh Tepi Barat dan Yordania, Valley, juga meluas ke negara ini,” ucapnya.

Demikian pula Kepala Staf Zion*s Herzi Halevy mengatakan dalam kunjungannya ke Jenin pada Sabtu bahwa pasukan Zion*s tidak akan membiarkan terorisme di Tepi Barat meningkat yang mengancam entitas Yahudi.

Epik

Menurut aktivis dakwah Baher Saleh, mengutip pernyataannya di Kantor Berita ideologis Palestina, Rabu (4-9-2024), ini adalah episode epik baru bagi rakyat Palestina.

“Hampir semua pernyataan yang dikeluarkan oleh pejabat senior Zion*s Yahudi berbicara tentang alasan yang sama atas invasi tersebut, tetapi mereka tidak menyadari realitas Islam dan umat Islam,” ucapnya.

Entitas Zion*s, lanjutnya, telah melihat mujahidin Tepi Barat sebagai ancaman yang menjengkelkan dan bahaya yang makin meningkat dari hari ke hari. “Ini karena mereka menerima serangan dan operasi yang menyakitkan dari mujahidin di Tepi Barat bagian utara,” ujarnya.

Oleh karena itu, bebernya, Zion*s berupaya untuk menghilangkan infrastruktur dan para mujahidin yang terkonsentrasi di Tulkarem, Jenin, dan Tubas, terutama di kamp-kamp mereka.

“Zion*s juga mengejar mujahidin di Gaza dari satu tempat ke tempat lain, dari satu terowongan ke terowongan lainnya. Zion*s percaya, jika mereka bisa menghancurkan mujahidin atau memenjarakannya, ini akan memungkinkan orang-orang Yahudi tersebut berada di tanah Palestina karena yang tersisa hanyalah otoritas patuh yang mengoordinasikan keamanan dengan Zion*s dan menjamin perlindungan entitasnya,” ulasnya.

Namun, tutur Baher, Zion*s tidak menyadari makna jihad sebagai bagian dari ajaran Islam yang telah merasuk ke dalam diri anak-anak, remaja, dan orang tua muslim.

“Apa pun yang dilakukan Zion*s tidak akan bisa menghilangkan Islam dari hati dan pikiran umat Islam dan rakyat Palestina. Sebagaimana contoh yang terjadi dalam tiga dekade terakhir. Meskipun tumbuh dalam keadaan  yang “damai” dengan normalisasi  akan proyek pengkhianatan, kelalaian, dan korupsi, generasi baru di Palestina tampil seolah-olah mereka tidak lahir dari zaman itu dan tidak menjalaninya (normalisasi-red.),” urainya.

Operasi di Tepi Barat

Di sisi lain, ungkap Baher, operasi di Tepi Barat ini terjadi tanpa sepengetahuan Amerika karena para pejabat Amerika menyangkal mengetahui operasi tersebut sebelumnya.

“Bahkan seorang pejabat senior Gedung Putih membenarkan bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden sedang melakukan kontak dengan pejabat dari entitas Zion*s untuk mencari tahu apa yang terjadi, juga tujuan [Zion*s] dalam melancarkan serangannya terhadap Tepi Barat,” bebernya.

Baher mengatakan bahwa Washington menolak pemindahan paksa warga Palestina karena khawatir operasi tersebut akan menjadi awal pengulangan pengalaman di Gaza.

“Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas pun mempersingkat kunjungannya ke Arab Saudi pada hari Rabu lalu untuk menindaklanjuti agresi dan invasi tersebut karena khawatir ia tidak akan mampu melakukannya kembali jika orang-orang Yahudi bermaksud untuk mengakhiri kekuasaannya dalam operasi itu. Ini menegaskan bahwa Amerika tidak menyadari operasi tersebut, besarnya, atau tujuannya,” ulasnya.

Hanya saja, ia mengungkapkan, ini tidak berarti Amerika menentang apa yang terjadi. Amerika, tambahnya, berada di pihak entitas Zion*s dalam kejahatannya terhadap rakyat Palestina.

“Dengan alasan  keamanan entitas Yahudi dan apa yang mereka sebut sebagai aktivitas teroris, Amerika tidak keberatan menumpahkan darah mujahidin dan rakyat Palestina. Amerika tidak keberatan jika orang-orang Yahudi menyerbu kota-kota di Tepi Barat, menyerbu Gaza, menghancurkan rumah-rumah di atas kepala warga Palestina, menghancurkan dan membakar masjid, serta membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua, selama hal ini memenuhi kebutuhan keamanan entitas Yahudi!” cetusnya

Sebelumnya, ia mengutarakan, ini juga yang dilakukan Amerika dengan mengumumkan penentangan pemindahan paksa penduduk Gaza.

“Faktanya, tiga perempat penduduk Gaza menjadi pengungsi, tanpa tempat tinggal atau perumahan, begitu juga di Tepi Barat. Ini karena Amerika adalah ayah, ibu, dan gembala bagi entitas Zion*s Yahudi sekaligus menyatukan kebenciannya terhadap Islam dan muslim,” paparnya.

Intinya, ia mengulas, Amerika memberikan kebebasan kepada orang-orang Yahudi untuk membunuh, menghancurkan, melakukan korupsi, dan kejahatan di Palestina.

“Amerika tidak melihat hal itu sebagai masalah bangsa Palestina, dan malah memberdayakan kaum Yahudi di tanah dan rakyat Palestina. Mereka satu agama, meskipun berbeda dalam detil dan beberapa visi, tetapi mereka sepakat dalam garis-garis umum, termasuk kebolehan darah, tempat suci, dan tanah umat Islam,” kecamnya.

Ia menilai, para pemimpin dengan kriminalitas dan mentalitas seperti itu tidak dapat dihalangi oleh hukum internasional yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka atau oleh seruan dan slogan-slogan palsu.

“Sebaliknya, mereka merasakan bahaya yang lebih besar apabila negara muslim dan tentaranya bergerak, tetapi saat ini [negara muslim] lebih memilih untuk berhenti dan puas dengan apa yang telah dicapai sejauh ini atas kehilangan segalanya,” cetusnya.

Kalah Telak

Meskipun demikian, Baher menegaskan, yang menyebabkan Amerika kalah telak dan kalahnya kaum Zion*s Yahudi adalah ketabahan rakyat Palestina dan terpeliharanya tekad mereka yang kuat hingga saat ini, serta gerak bala tentara kaum muslim untuk menggulingkan tahta-tahta para penguasa dengan terus menuju Palestina, Gaza, dan Masjidilaqsa, kemudian membebaskan mereka dengan kemenangan besar.

Terakhir, ia menutup dengan firman Allah dalam surah Al-Ghafir: 51,

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari kiamat).” [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *