Muslimah News, NAFSIYAH — Aktivitas dakwah merupakan ladang menuai pahala dan aktivitas mulia yang Allah embankan di pundak para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. Para pengembannya merupakan manusia-manusia yang terbaik perkataanya. Hal ini diungkapkan oleh Syekh Dr. Shalih bin Fauzan, “Saudariku, kita ketahui bersama bahwa dakwah bertujuan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Memberi petunjuk kepada manusia dan menjelaskan kebenaran.”
Allah Swt. memuji para pengemban dakwah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110).
Pengemban dakwah hendaknya selalu mengingat firman-Nya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104).
Menjadi Qudwah Hasanah
Pengemban dakwah harus menjadi contoh terbaik (qudwah hasanah) di tengah umat. Hendaknya perkataan, perbuatan, dan segala hal yang ada pada diri pengemban dakwah dilakukan atas dasar dorongan akidah Islam. Bukan mengikuti hawa nafsu semata sehingga keluar dari koridor syarak.
Pengemban dakwah bisa menjadi contoh terbaik di tengah umat dengan menempuh jalan-jalan berikut ini.
Pertama, membekali diri dengan ilmu. Apabila juru dakwah mengajak kepada Islam, hendaknya ia memiliki pengetahuan tentang Islam. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata.’” (QS Yusuf: 108).
Pengemban dakwah semestinya mampu menjelaskan hakikat Islam dengan sejelas-jelasnya kepada umat.
Kedua, menjauhi sifat ria, sumah, ingin mendapat ketenaran, dan keinginan pribadi lainnya. Ini karena hakikatnya dakwah mengajak kepada Allah, bukan mengajak kepada dirinya. Ia tidak meminta imbalan apa pun atas dakwah yang dilakukan, karena Allahlah sebaik-baik pembalas aktivitas dakwah.
Ketiga, mengamalkan ilmu yang ia miliki sebelum menyampaikan kepada orang lain. Firman-Nya, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44).
Firman Allah Swt. berikutnya, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaf: 2—3).
Keempat, memiliki kesabaran. Pengemban dakwah hendaklah bersabar atas gangguan yang ia dapatkan dalam perjuangan. Allah Swt. berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1—3).
Kesabaran dalam berdakwah akan meraih dua hal. Pertama, apabila dakwah diterima, hal itu menjadi petunjuk bagi manusia. Kedua, apabila mereka menolak, lepaslah tanggung jawab dari pundak pengemban dakwah. Ini karena tugas utamanya ialah menyampaikan kebenaran, sementara hidayah hanyalah di tangan Allah Taala.
Semoga kita menjadi pengemban dakwah yang memberi contoh terbaik di tengah umat. Mewarnai masyarakat dengan syariat-Nya, bukan justru terwarnai dengan celupan sistem sekularisme. Tetaplah berpegang teguh pada akidah Islam dan tidak mengambil aturan selain dari Islam untuk mengurusi kehidupan. Jadilah pengemban dakwah ideologis, pemimpin orang-orang bertakwa. Masyaallah. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]
