Toleransi Berujung pada Mengaburkan dan Menguburkan Agama

Toleransi Berujung pada Mengaburkan dan Menguburkan Agama

Penulis: Retno Sukmaningrum

Muslimah News, FOKUS — “Ini kebablasan. Kalau mau terima tamu nonmuslim, jangan di rumah ibadah. Kan masih ada ruangan pertemuan lain yang lebih tepat. Rumah masjid itu hanya untuk ibadah umat muslim, bukan untuk lainnya,” demikian kritik Kiai Cholis Nafis menyikapi 40 Biksu Thudong yang mampir di Masjid Baiturrohmah, Bengkal, Temanggung, Jawa Tengah. Para biksu tersebut tengah melakukan perjalanan menuju Candi Borobudur.

Kiai Cholil mengatakan bahwa hal tersebut kebablasan karena fungsi masjid adalah untuk beribadah, bukan untuk keperluan lainnya. Ada ruangan lain yang dapat dijadikan lokasi penyambutan tamu nonmuslim. Menurut beliau, masih ada cara lain yang dapat digunakan dalam hal menjaga toleransi terhadap agama lain, salah satunya dengan memberikan mereka ruang untuk beribadah.

Dalam unggahannya beliau lalu memberikan contoh bentuk toleransi agama. “Setiap umat Islam harus menjalankan toleransi dengan memberikan kesempatan kepada umat agama lain yang sedang merayakan ritual ibadah dan perayaan hari besar mereka. Bentuk toleransi beragama adalah (a) dalam hal akidah, memberikan kebebasan kepada umat agama lain untuk melaksanakan ibadah hari raya sesuai keyakinannya dan tidak menghalangi pelaksanaannya. (b) Dalam hal muamalah, bekerja sama secara harmonis, serta bekerja sama dalam hal urusan sosial bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”

Terakhir dalam unggahannya, beliau mengingatkan bahwa toleransi tidak boleh masuk dalam ranah akidah dan syariat agama lain.[i]

Penistaan Agama

Hal yang dilakukan oleh para biksu tersebut berpotensi terjadi penghinaan dan penistaan agama. Pada faktanya terbukti, dari berbagai video yang beredar di media sosial, para biksu tersebut melakukan ibadah dengan melakukan doa sesuai cara agama Buddha di masjid tersebut.

Meskipun mereka beralasan mendoakan masyarakat dan panitia yang telah melakukan penyambutan sebagai ungkapan terima kasih, tetaplah hal yang demikian tidak dibenarkan. Bagaimana bisa mereka bisa menyebut dan mengagungkan tuhan-tuhan mereka di rumah ibadah kaum muslim, di masjid?

Penyambutan yang terjadi di Masjid Baiturrahmah tersebut tampak bukan inisiatif dadakan dari para warga, melainkan jelas sekali jika memang dirancang sejak awal. Ada yang mendesain dan mempersiapkan kepanitiaan penyambutan. Jika kondisi ini didiamkan, bisa dipastikan ke depannya perilaku demikian akan makin marak dan justru dianggap sebagai keberhasilan dalam mewujudkan toleransi.

Mengaburkan Jati Diri

“Menjaga toleransi” menjadi jurus andalan dalam menjajakan proyek moderasi beragama. Moderasi beragama masuk dalam RPJMN 2020—2024 dan di dalamnya terdapat program prioritas moderasi beragama. Narasi yang dibangun akan pentingnya moderasi beragama adalah karena Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk perlu melakukan penguatan pemahaman menghormati perbedaan, bersedia hidup bersama dalam sebuah komunitas yang beragam, serta mengedepankan nilai-nilai toleran dan inklusif.

Selanjutnya dikatakan bahwa moderasi beragama sebagai salah satu arah kebijakan program nasional revolusi mental dan pembangunan kebudayaan merupakan fondasi cara pandang, sikap, dan praktik beragama jalan tengah guna terwujudnya masyarakat Indonesia yang berbudi luhur, berjati diri, bergotong royong, toleran, dan sejahtera.

“Praktik beragama jalan tengah” inilah yang jelas diusung dalam proyek moderasi beragama, bukan mengajak masyarakat Indonesia—yang notabene mayoritas muslim—makin kuat dalam beragama. Praktik beragama jalan tengah jelas merupakan upaya mengikis jati diri muslim.

Seiring dengan itu, bermunculan berbagai suara, semacam, “Tuhan itu satu, cara beribadahnya saja yang berbeda,” atau “Jangan mengeklaim kebenaran, yang berhak mengeklaim kebenaran hanya Tuhan.”

Dengan seruan-seruan demikian, tidak heran di kalangan muda yang labil, mereka mudah berpindah agama. Mereka berganti agama layaknya semudah berganti baju. Bermunculan pula tren agnostik dan ateis. Lebih miris lagi, banyak generasi muslim yang fobia terhadap Islam, agamanya sendiri.

Mengubur Islam

Moderasi beragama tidak hanya mengaburkan jati diri muslim, melainkan ditengarai bakal mengubur nilai-nilai Islam di Indonesia. Jika dahulu Indonesia dikenal dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, seiring gencarnya proyek moderasi beragama yang dipimpin Kemenag, kini posisi penduduk muslim terbanyak di dunia dipegang oleh Pakistan.

Berbagai program yang digagas Kemenag—dengan meluncurkan program Kampung Damai, Kampung Moderasi, ataupun Kampung Toleransi—membuat masyarakat berlomba meraih predikat, penghargaan, dan hadiah yang disediakan. Begitu pula gagasan KUA yang semula untuk melayani umat Islam saja, rencana diubah untuk melayani semua agama.

Rencana dibangunnya sarana ibadah di KUA untuk semua agama makin memperjelas bahwa proyek moderasi berupaya menguburkan Islam di tengah masyarakat. Islam tidak boleh tampak, Islam disetarakan dengan “agama bumi”, bahkan dengan keyakinan animisme-dinamisme.

Masyarakat sendiri sulit untuk tidak mengikuti “tabuhan” moderasi beragama tersebut. Rasa takut dicap radikal dan intoleran lebih dominan menyelimuti mereka. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat di Bengkal, Temanggung. Kemungkinan besar jika mereka ditanya keberatan atau tidak jika masjidnya didatangi para biksu, pasti jawabannya adalah “tidak”. Kalau mereka menjawab keberatan, bisa dipastikan cap “Desa Intoleran” akan disematkan pada desa mereka. Begitu pula pada Ketua MUI Cholil Nafis yang mengritisi para biksu yang masuk tempat ibadah umat Islam tersebut, harus siap dicap sebagai sosok intoleran.

Negara tidak Hadir

Sepanjang sejarah di Indonesia, meski ada beragam agama, tidak pernah terjadi bentrok antarumat beragama. Bentrok terjadi justru ketika negara tidak hadir dan ada pihak-pihak yang sengaja melakukan penyimpangan dan penistaan terhadap agama.

Ketika negara tidak hadir, sedangkan umat berkepentingan menjaga akidah mereka dan generasi umat, mereka pun akhirnya bertindak sendiri. Parahnya, pihak yang menistakan agama justru dilindungi atas nama HAM, sedangkan yang berseberangan dituntut untuk bersikap toleran.

Salah satunya adalah jaringan Islam moderat yang saat ini tengah mengusik kaum muslim. Jaringan ini bukan berdiri tiba-tiba, melainkan merupakan rencana matang dari RAND Corp. yang berawal dari jaringan hingga proyeknya masuk dalam RPJMN negara ini.

Di antara resume RAND Corp. yang bocor (atau sengaja dibocorkan) adalah Komunitas Internasional menilai bahwa upaya umat Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran adalah suatu ancaman bagi peradaban dunia modern dan bisa mengantarkan pada hal yang mereka sebut clash of civilization (benturan peradaban).

Selanjutnya, Komunitas Internasional menginginkan Dunia Islam yang ramah terhadap demokrasi dan modernitas, serta mematuhi aturan-aturan internasional untuk menciptakan perdamaian global. Komunitas Internasional perlu melakukan pemetaan kekuatan dan pemilahan kelompok Islam untuk mengetahui siapa kawan dan lawan, serta pengaturan strategi dengan pengolahan sumber daya yang ada di Dunia Islam.

Intinya, Barat takut Islam bangkit. Jika Islam kuat di satu wilayah, Barat akan berhadapan dengan kekuatan tangguh yang menghalangi mereka dalam mengeksploitasi SDA dan SDM-nya. Oleh karenanya, mereka berupaya melemahkan Islam melalui antek-anteknya.

Tetaplah Bersuara!

Melihat kerusakan yang kian masif hari ini, kaum muslim tidak boleh diam. Upaya penyadaran umat harus giat dilakukan. Sikap diam bermakna membiarkan kerusakan meluas.

Dengan meluasnya kerusakan akibat pembiaran kemaksiatan akan menarik bala dari Allah Taala, yang itu tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat maksiat saja, tetapi juga pada orang-orang yang diam membiarkan kemaksiatan merajalela.

Ingatlah firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25). [MNews/Gz]


[i]https://kumparan.com/kumparannews/ketua-mui-kritik-44-biksu-thudong-singgah-and-dijamu-di-masjid-kebablasan-22ncyODchfj/full

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *