[Tapak Tilas] Mengintip Perkembangan Islam di Belanda

[Tapak Tilas] Mengintip Perkembangan Islam di Belanda

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Pada 2023 lalu, muslim Belanda dikejutkan oleh kemenangan partai anti-Islam pimpinan Geert Wilders di pemilu. Tidak hanya kaum muslim, kemenangan Partai untuk Kebebasan atau Partij voor de Vrijheid (PVV) ini juga mengguncang politik Belanda sekaligus mengejutkan seluruh Eropa.

Betapa tidak, Wilders dikenal sebagai politisi yang sering menyulut kontroversi. Aksinya membuat film Fitna bersama Arnoud van Doorn tahun 2008 membuat umat Islam di dunia marah. Begitu pun seruannya untuk melarang masjid, Al-Qur’an, sekolah Islam, dan penggunaan hijab, juga ide soal pajak di Belanda membuat kaum muslim marah ketar-ketir.

Diduga ia bisa menang karena gagasannya yang tegas soal isu imigran dan tunjangan sosial yang kala itu sedang menjadi keresahan utama warga asli Belanda. Ia sering menyerukan dampak islamisasi yang disebutnya sebagai ancaman eksistensial bagi identitas dan kebebasan bangsanya.

Umat Islam dan Masifnya Arus Sekularisasi

Jumlah umat Islam di Belanda per Maret 2024 ada sekira 1,2 juta dari 18 juta total penduduknya. Mayoritas mereka merupakan keturunan imigran yang berasal dari Turki kemudian diikuti oleh Maroko, Tunisia, Aljazair, Indonesia, dan Suriname. Generasi awal mereka datang sebagai pekerja tamu pada masa “keemasan” Belanda sebagai negara penjajah. Lalu jumlahnya bertambah seiring gelombang migrasi besar-besaran pascaperang dunia ke-2, diikuti migrasi dampak perang Yugoslavia tahun 90-an, serta krisis Suriah tahun 2011.

Jumlah komunitas muslim ini terus bertambah di tengah krisis agama yang melanda warga Belanda sendiri. Meski tercatat mayoritas warganya beragama Kristen dan Protestan, tetapi faktanya jumlah agnostik terus meningkat. Mereka sudah banyak yang meninggalkan Tuhan dan gerejanya. Bahkan Belanda tercatat sebagai salah satu negara paling sekuler di Eropa dan dunia.

Terbukti, penerapan apa yang mereka sebut sebagai nilai-nilai progresif makin kental, termasuk dalam isu-isu emansipasi perempuan dan kebebasan seksual. Belanda termasuk negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis dan keras dalam membela hak-hak kaum gay. Undang-undang soal ini sudah disahkan sejak tahun 1996.

Kebebasan perilaku juga sudah demikian parah yang menunjukkan Belanda sedang mengalami bencana moral luar biasa. Sampai-sampai di Belanda ada tempat khusus dan terbuka laiknya Las Vegas yang membebaskan siapa pun melakukan aktivitas seksual di sana. Kawasan ini dikenal sebagai Red Light District Amsterdam yang disebut sebagai kawasan prostitusi legal paling berkelas. Kawasan ini berada di bawah regulasi negara. Aktivitas para PSK-nya dilindungi polisi karena mereka menjadi sumber pajak yang menjanjikan bagi negara. Na’udzubillah.

Hidup di Tengah Islamofobia

Pada awalnya, pemerintah dan para politisi Belanda memang cukup longgar dalam masalah imigran muslim dan suaka. Mereka berusaha mempertahankan citranya sebagai negara pembimbing yang cukup toleran dan menjunjung kebebasan. Namun, sejalan dengan peningkatan eskalasi politik dunia menyangkut Islam dan umat Islam, spirit memerangi Islam pun mulai kental dalam kancah perpolitikan Belanda. Hal ini sedikit demi sedikit menularkan islamofobia di kalangan masyarakat

Wilders, misalnya. Saat wawancara pada bulan Maret 2014 dengan situs berita Belanda NU.nl, ia terang-terangan menyebut bahwa niatnya memasuki dunia politik adalah hanya karena satu alasan, “memerangi Islam”. Ia menstigma Islam sebagai “ideologi politik totaliter dengan sedikit nuansa keagamaan” yang menetapkan kepada para pendukungnya perang terus-menerus hingga seluruh dunia menjadi Islam (brookings[dot]edu).

Niatnya tersebut diwujudkan dalam perjuangan politiknya hingga sampai di titik sekarang. Ketakutannya akan islamisasi budaya di Belanda, bahkan Barat, sedemikian kuat sehingga dia berpikir, jika itu tidak dihentikan, negaranya akan menjadi negara Islam dan penduduknya akan tergantikan oleh muslim imigran.

Inilah yang menyebabkan kehidupan kaum muslim Belanda menjadi tidak mudah. Mereka hidup dengan ancaman upaya penghilangan identitas serta berbagai tuntutan asimilasi yang keras. Narasi Islam agama teror dan berbahaya terus digaungkan sebagian politisi Belanda, terutama pascapembunuhan seniman Van Gogh dan kartunis Charlie Hebdo yang menghina Islam sempat mengguncang Eropa.

Namun, di tengah masifnya tekanan dan penghinaan terhadap Islam, tidak sedikit warga asli Belanda yang justru tertarik untuk mengetahui ajaran Islam, bahkan berakhir dengan masuk ke dalam Islam. Portal Antara menyebut, dalam setiap tahun ada ratusan orang Belanda yang masuk Islam karena kesadaran. Sebagiannya lagi menjadi mualaf melalui jalan pernikahan.

Khatimah

Sejarah hubungan Belanda dengan Islam memang sudah berumur panjang. Masyarakat Islam Nusantara sendiri pernah menjadi korban intrik keji Belanda demi mengukuhkan misi penjajahan. Siapa tidak kenal Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis liberal Belanda yang ditugaskan menyelidiki rahasia kekuatan umat Islam nusantara, mulai Aceh hingga ke Jawa.

Segala cara ia lakukan, termasuk berpura-pura masuk Islam dan pergi ke Makkah agar punya modal bergaul dengan orang-orang muslim asal Aceh dan Nusantara lainnya, terutama Jawa. Bahkan ia berpenampilan seperti ulama dan mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar.

Ia pun banyak menarasikan hal yang sama seperti narasi yang disampaikan penerus-penerusnya pada era kekinian. Semisal soal bahaya Islam, bahaya masjid, dan bahaya politik Islam. Lalu di antara rekomendasinya pada pemerintah Belanda adalah politik adu domba kaum adat dan ulama, serta deideologisasi Islam atau propaganda pemisahan agama dan negara dengan menjauhkan umat dari pemahaman Al-Qur’an.

Dengan cara itulah, sedikit banyak Belanda berhasil melemahkan perjuangan umat Islam. Penjajahan pun berlangsung dalam rentang yang sangat panjang.

Namun, apa yang dihasilkan? Harta haram hasil penjajahan yang digunakan untuk membangun dan memodernisasi Belanda dari masa ke masa, nyata telah menjauhkan mereka dari kebenaran agama. Mereka bahkan terus memilih posisi sebagai musuh bagi Islam dan umatnya. Sampai kapan? Boleh jadi hingga Khilafah menaklukkan! [MNews/Rgl]

*) Diramu dari berbagai sumber tulisan.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *