Muslimah News, REMAJA — “Kuping kamu lucu, ya, ngegemesin kayak telinga gajah.”
“Suara kamu bagus juga, tetapi lebih baik nyanyi dalam hati aja, ya.”
“Pantas kamu pinter. Kelihatan jidatnya lebar kayak lapangan terbang.”
Pernah dengar omongan teman kamu seperti di atas yang disambut dengan gelak tawa teman lainnya? Hmm.. jangan-jangan kamu termasuk salah satu yang ngomong gitu atau malah korbannya. Ups!
Tahu enggak, omongan di atas itu termasuk body shaming alias mengejek penampilan fisik seseorang yang bisa bikin teman kamu ilfil alias sakit hati. Meskipun niatnya cuma bercanda biar ada hiburan, tetapi akhirnya bisa bikin teman yang diledekin jadi insecure, lo. Hati-hati!
Insecure, Apaan, tuh?
Insecure adalah kondisi saat mental kita lagi enggak fit. Ibaratnya, daya tahan tubuh lagi drop. Akibatnya, kita gampang goyah dan galau, enggak percaya diri, lebih sering menyendiri, merasa enggak berguna dan enggak ada yang menghargai keberadaannya. Akhirnya, kita jadi gundah gulana dan malu untuk ketemu orang. Waduh, ini semua “penyakit hati”.
Emang gitu kenyataannya. Remaja insecure itu sensor bapernya sensitif banget. Omongan apa saja yang berkaitan, dengan cepat akan dibaperin. Enggak peduli temannya itu lagi bercanda atau sekadar mencairkan suasana. Kalau ia yang jadi objek penderitanya, sinyal insecure-nya langsung menguat.
Sialnya, kadang kita sering enggak peka dengan teman yang baperan itu. Bercandanya suka kelewatan. Apalagi kalau sudah bahas fisik, body shamming enggak tanggung-tanggung. Dari ujung rambut sampai ujung kepala, semuanya diroasting. Teman-teman yang lain pada tertawa di atas penderitaan batin sang korban. Nyesek!
Body shamming di kalangan remaja seolah menjadi budaya. So, enggak heran kalau menurut survei Body Peace Resolution yang dilakukan oleh Yahoo ditemukan bahwa 94% remaja putri telah mengalami tindakan body shaming, sementara remaja putra hanya 64%. Dari hasil survei tersebut, ternyata remaja putri lebih banyak mengalami tindakan body shaming dan paling banyak jadi korban insecure dibandingkan dengan remaja putra.
Selain body shaming, pemicu remaja jadi insecure juga bisa disebabkan oleh pola pergaulan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Di dunia nyata, budaya bullying yang masih merajalela paling banyak menjadi faktor pemicu remaja insecure. Enggak ada remaja yang tahan kalau setiap hari diejek, dihina, dan direndahkan oleh temannya, baik secara fisik maupun verbal. Apalagi itu cuma lantaran ada kekurangannya yang dibesar-besarkan. Kadang karena enggak match penampilannya, atau ritme gaul remaja modern yang latah ngikutin tren kuliner, musik, film, dan hiburan lainnya.
Di samping itu, di dunia maya, lekatnya keseharian remaja dengan media sosial memaksa mereka untuk terus kepo kepada tren dunia digital yang terus berubah setiap waktu. Beranda mereka dijejali gambar dan cerita artis idola atau teman sebaya dengan penampilan fashion terbaru, sedang makan bareng di tempat yang lagi viral, hingga jalan-jalan ke tempat wisata elite. Mupeng mode ON. Jadi sering ngebandingin antara dirinya dengan kondisi temannya. Jika dirasa bagai punduk merindukan bulan, minder yang ada. Insecure pun merajalela.
Kalau pun mencoba ngikutin tren yang lagi viral, eh bukannya dapat love atau like, yang ada malah banjir komen negatif. Dikatakan enggak cocok, enggak pantas, terlalu maksain, atau lebai. Ekspektasi yang tinggi mendadak turun drastis. Nyungsep. Sakit, tetapi enggak berdarah.
Insecure, Bisa Bikin Hidupmu Hancur. Wadidaw!
Insecure wujudnya enggak kelihatan, tetapi akibatnya bisa bikin hidup kita berantakan. Sebelum kejadian, kenali beberapa ciri yang sering ditemui pada remaja yang terpapar virus insecure.
Pertama, memandang diri sendiri lebih rendah. Akibat sering menjadi korban bullying, ia merasa enggak ada yang membanggakan pada dirinya, baik penampilan fisik, hingga prestasi belajar. Seolah setiap inci permukaan tubuhnya enggak ada nilainya, kecuali untuk dijadikan bahan ejekan teman-teman.
Kedua, menghindari berinteraksi dengan orang lain. Ia merasa rendah diri, selalu enggak nyaman kalau ngumpul dengan teman-temannya. Ada rasa takut bakal menjadi korban bullying atau dihinggapi rasa insecure. Jadinya lebih senang menyendiri dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Ketiga, merasa enggan untuk keluar dari zona nyaman. Ia asyik menyendiri, enggak ada perasaan khawatir jadi korban bullying. Punya ruang sendiri untuk bebas berekspresi, tetapi akibatnya menjadi terkucil dan anti sosial.
Keempat, sering membandingkan diri dengan orang lain, terutama kalau rajin mantengin media sosial. Ia doyan melototin foto dan cerita orang lain yang kelihatannya ideal banget kondisinya. Akibatnya, ia menilai dirinya sendiri lebih rendah dibandingkan orang lain. Tidak lebih baik dari bubuk rengginang di kaleng biskuit saat Lebaran. Remeh-temeh.
Kelima, memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan. Sikapnya paranoid dalam segala situasi. Serba salah kalau pakai baju. Takut salah kostum dan jadi korban bullying. Ia juga gampang berburuk sangka kepada orang lain.
Keenam, haus akan pengakuan dan pujian dari orang lain. Agar enggak merasa insecure, mesti ada prestasi yang dilihat orang lain. Apa pun caranya bakal dilakukan. Kalau seorang cewek badannya diejek over size alias landscape, ia mencoba diet ekstrim biar cepat kurus. Kalau seorang cowok wajahnya dikatakan kurang “sedap” dipandang, bisa jadi ia bela-belain ke Korea untuk operasi plastik biar kinclong kayak opa-opa.
Nah, semoga keenam ciri remaja insecure di atas enggak ada pada diri kamu, ya. Serius, enggak ada baiknya melihara perasaan insecure. Sebaliknya, bakal ngabisin waktu, tenaga, dan pikiran, tetapi tidak produktif. Galau everyday. Ngerinya, kalau sudah enggak tahan bisa depresi dan berakhir bunuh diri. Nah, lo!
Salah satu contoh yang menggemparkan dunia, yakni ketika penyanyi sekaligus aktris Korea Selatan Choi Jin-Ri atau dikenal sebagai Sulli meninggal karena bunuh diri pada 2019 lalu. Setelah diteliti, Sulli mengakhiri hidupnya lantaran merasa insecure akibat komentar-komentar buruk mengenai dirinya oleh para netizen sehingga ia depresi dan terganggu mentalnya. Tuh, kan!
Berdamai dengan Insecure
Sobat, jangan biarkan perasaan insecure merampas kebahagiaanmu. Seorang muslim itu hakikatnya pantang mundur dari perasaan insecure. Rasulullah saw. sudah mengajari kita agar enggak gampang baper. Apa pun yang terjadi pada diri kita, Islam punya dua kunci untuk menjaga hati dan mental agar tetap strong, yakni bersabar dan bersyukur.
Dari Shuhaib bin Sinan ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika ditimpa kesusahan, ia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim).
Tidak ada alasan bagi kita untuk terjerumus dalam jurang mental illness alias jiwa yang rapuh. Meskipun si insecure datang menghampiri, ajak temenan aja. Jangan dimusuhi biar enggak bikin galau dan menurunkan produktivitas kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk menjinakkan insecure?
Pertama, jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Ingat ya, Allah Swt. menciptakan kita sebagai makhluk terbaik, bukan untuk dibanding-bandingkan kayak para Emak berburu barang flash sale. Allah Swt. menciptakan manusia berbeda-beda dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jauhkan deh perasaan rendah diri karena merasa enggak pintar, enggak cantik, atau enggak punya keahlian yang bisa dibanggakan.
Bagaimanapun kondisi fisik kita, syukuri apa yang ada. Cintai dirimu sendiri (self love). Sesungguhnya, Allah Swt. menilai kita dari ketakwaan, bukan penampilan fisik atau harta.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim).
Kedua, hidup dalam lingkungan yang positif. Carilah teman yang bisa menguatkan kita kala insecure menghadang dan mengingatkanmu kala insecure meradang. Teman yang selalu berada di sampingmu dalam suka dan duka. Teman yang mendukungmu untuk berubah menjadi lebih baik. Teman yang menerimamu apa adanya, bukan ada apanya. Teman yang menularkan semangat dan perilaku taat, bukan yang hobi ngebully atau ngajak maksiat. Temukan mereka dalam komunitas dakwah Islam.
Ketiga, positif thinking. Enggak ada salahnya kita belajar berbaik sangka pada setiap orang yang bikin kita insecure. Kalau niat mereka bercanda, anggap saja angin lalu. Enggak perlu ditanggapi. Kalau mereka ngebully, syukuri saja karena kita sedang dikasih banyak pahala dari mereka.
Rasulullah Muhammad saw. menyebut orang yang suka menghina sesamanya sebagai golongan yang bangkrut. Ini karena, pahala yang susah payah ia kumpulkan akan berkurang banyak karena telah menghina orang lain.
“Tahukah kalian, siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kita adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Rasulullah saw. lalu bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia telah menghina si A, menuduh berzina si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Maka, si A diberi pahala kebaikannya dan si B, C… diberi pahala kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar semua kezalimannya, dosa-dosa mereka yang dizalimi itu diambil, lalu dilemparkan kepadanya. Kemudian, ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).
Perasaan insecure itu anugerah dari Allah Swt., tetapi bukan berarti bikin kita galau atau terhambat untuk berkarya dan berkontribusi bagi umat. Jadikanlah omongan-omongan orang yang bikin insecure itu sebagai pemicu agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan catatan, niatkan perubahan itu untuk mendapatkan rida Allah Swt., serta menjadi kebaikan bagi diri sendiri, bukan karena ingin terlihat keren di mata orang lain.
Mulailah mencintai diri sendiri dengan segala kelebihan yang telah Allah Swt. berikan agar rasa percaya diri kita meningkat. Jangan lupa rutin mengikuti kajian Islam kafah agar benteng keimanan kita terus kuat dan mental kita kukuh. So, rasa insecure akan hilang dengan sendirinya. Jadi, daripada insecure, lebih baik kita bersyukur. [MNews/YG]
Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 148
