Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar
Muslimah News NAFSIYAH — Alhamdulillah. Tiba saatnya kita merayakan Hari Raya Idulfitri 1445 H.
Sebagian orang menyebut Hari Raya Idulfitri sebagai Hari Kemenangan. Menang melawan hawa nafsu. Menang melawan setan. Menang melawan setiap kecenderungan dan perilaku menyimpang. Inilah yang sepantasnya dirayakan oleh orang yang berpuasa.
Oleh karena itu, Hari Raya bukanlah diperuntukkan bagi mereka yang memiliki segala hal yang serba baru. Baju baru, perhiasan baru, kendaraan baru, atau rumah baru. Hari Raya hanya layak dipersembahkan kepada mereka yang ketaatannya baru (bertambah). Dalam bahasa sebagian ulama dinyatakan,
“Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang ketaatannya bertambah.”
Dengan kata lain, pascapuasa, seorang muslim selayaknya menyandang predikat takwa. Laallakum tattaquun. (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 183).
Tentu takwa yang bertambah sempurna. Takwa yang makin paripurna. Takwa yang sebenarnya, haqqa tuqaatih. (Lihat QS Ali Imran [3]: 102).
Mereka inilah yang layak bergembira pada Hari Raya. Demikian sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama,
“Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang ketakwaannya bertambah.”
Salah satu definisi takwa yang sebenarnya dinyatakan oleh Imam Al-Hasan. Beliau berkata, sebagaimana dikutip oleh Imam Ath-Thabari di dalam tafsirnya, “Kaum yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa takut terjerumus pada apa saja yang telah Allah haramkan atas mereka dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan kepada mereka.” (Ath-Thabari, Jaami al-Bayaan fii Tawiil al-Quraan, 1/232).
Orang yang layak bergembira pada Hari Raya, sejatinya juga bukanlah orang yang berpakaian serba halus (seperti sutra atau mahal). Akan tetapi, mereka yang memahami jalan meraih rida-Nya. Demikian sebagaimana perkataan sebagian ulama,
“Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan pakaian yang serba halus (mahal). Hari Raya hanyalah untuk orang yang memahami jalan (untuk meraih rida-Nya).”
Satu-satunya jalan untuk meraih rida-Nya adalah takwa. Muslim yang bertakwa tentu muslim yang senantiasa taat kepada Allah Swt. dan menjauhi maksiat kepada-Nya.
Saat setiap hari seorang muslim mampu selalu taat dan menjauhi maksiat, saat itulah hari raya sesungguhnya. Demikian sebagaimana perkataan Imam Ibnu al-Mubarak rahimahulLaah,
“Setiap hari yang di dalamnya aku tidak bermaksiat kepada Allah, itulah hari raya (bagiku). (Al-Mawardi, Adab ad-Dunyaa’ wa ad-Diin, I/131).
Alhasil, semoga kita bisa berhari raya setiap hari. Hari-hari yang di dalamnya kita tidak bermaksiat kepada Ilahi Rabbi.
Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib. [MNews/YG]
Sumber: Telegram Arief B. Iskandar
