Penulis: Ustazah Rahmah
Muslimah News, KELUARGA — Problematika umat setiap hari terus bertambah dan makin ruwet. Umat tidak mempunyai perisai/pelindung dari segala macam musibah. Akibat ketiadaan perisai, yaitu pemimpin yang menerapkan Islam secara kafah, umat Islam ditimpa berbagai permasalahan. Misalnya, kasus penghinaan terhadap Al-Qur’an, Nabi Muhamad saw., dan syariat Islam. Kasus lainnya yang menimpa umat Islam berupa penganiayaan, pelecehan, dan penjajahan seperti yang dialami saudara kita di Rohingya dan Palestina.
Menghadapi berbagai permasalahan tersebut, umat Islam tidak boleh diam. Keluarga-keluarga muslim juga tidak boleh diam. Mereka wajib berjuang agar seluruh permasalahan itu segera mendapatkan solusi dengan benar dan tuntas. Kita wajib berupaya membentuk keluarga pejuang yang memperjuangkan tegaknya tatanan kehidupan Islam, sekaligus keluarga pembela dan penolong agama Islam.
Beberapa Upaya
Dalam membentuk keluarga pembela Islam, ada beberapa hal yang harus dilakukan para orang tua.
Pertama, wajib mendidik anak-anaknya dengan pendidikan agama Islam. Bersama ayah, seorang ibu wajib mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang saleh, yaitu yang berkepribadian Islam (yang perilakunya berdasarkan akidah Islam). Pendidikan Islam sangat penting diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak ada pemberian seorang ayah (orang tua) yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.” (HR At-Tirmidzi).
Orang tua wajib menjaga anak-anaknya dari api neraka. Bersama ayah, seorang ibu memberi bekal ilmu-ilmu Islam kepada anak-anaknya melalui pendidikan keluarga maupun pendidikan formal. Orang tua bisa menyekolahkan putra putrinya di sekolah atau memasukkan mereka ke madrasah/pesantren/lembaga pendidikan Islam yang mampu memberi bekal ilmu agama Islam yang kuat. Targetnya agar mereka fakih fiddin dan berkepribadian Islam. Dengan demikian, mereka kelak bisa terhindar dari azab neraka. Allah Swt. berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS At-Tahrim [66]: 6).
Makna ayat ini, “Jagalah diri dan keluarga kalian (anak-anak dan istri-istri kalian) dari azab api neraka. Didiklah dan ajarilah mereka kebaikan (agama Islam, menerapkan aturan Islam). Niscaya hal demikian akan menyelamatkan kalian dari azab neraka.” (Ibn Abbas, Tanwiir Miqbqas, 2/95).
Kedua, harus menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam ketakwaan. Biasakan anak-anak senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya secara kafah (menyeluruh). Ini bisa diawali dengan membiasakan mereka melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharamam. Selanjutnya, ditingkatkan dengan melaksanakan yang sunah dan meninggalkan yang makruh. Berikutnya, dengan melaksanakan yang ihsan dan mengganti yang mubah, yang tidak berguna, dengan menyibukkan diri pada yang wajib dan sunah. Semua itu harus dilaksanakan dengan ikhlas dan bahagia. Allah Swt. berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran: 102).
Imam Az-Zamaksari menafsirkan frasa “حَقَّ تُقَاتِهِ” yaitu benar-benar melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya (Az-Zamaksari, Tafsiir Al-Kasysyaaf, I/306).
Anak-anak harus dibiasakan dalam ketakwaan di keluarga, sekolah, dan lingkungannya. Mereka harus berteman dengan teman-teman yang saleh/salihah. Begitu pula selalu dalam ketakwaan saat mengakses media dan berteman di media sosial. Seorang yang bertakwa akan selalu menjaga agar Allah tidak melihat dirinya di tempat yang dilarangan-Nya, sebaliknya selalu ada di tempat yang diperintahkan-Nya. Senantiasa melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyah al-Awlad fii al-Islam).
Orang tua adalah guru, serta teladan pertama dan utama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus senantiasa bertakwa. Orang tua bertugas mendidik anak agar perilakunya sesuai tuntunan Islam, bertakwa kepada Allah, dan menjadikan mereka makin dekat dengan-Nya (Abdurrahman Amirah, Manhaaj al-Qur’aan fii Tarbiyah ar-Rijaal).
Ketiga, harus menanamkan kepada keluarganya bahwa mereka adalah khairu ummah. Tanamkan kepada anak-anak bahwa ajaran Islam itu mulia dan baik. Kita harus bangga dan bersyukur menjadi umat Islam. Tidak ada kenikmatan melebihi iman dan Islam. Aturan Islam sangat baik dan mampu menyolusi tuntas problematika kehidupan. Sementara itu, umat Islam adalah umat terbaik (khairu ummah).
Kondisi umat Islam sekarang buruk karena tidak menerapkan Islam. Dengan demikian, kalau umat ini ingin mulia dan menjadi umat terbaik, mereka harus menerapkan Islam secara sempurna. Allah Swt. berfirman,
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110).
Ibnu Abbas ra. menafsirkan ayat tersebut, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf dengan mentauhidkan Allah (tidak menyekutukan Dia), dan mengikuti Nabi Muhammad saw. Juga melakukan nahi mungkar, yaitu menghindari kekufuran, syirik, dan menyalahi Rasulullah. Mengimani Allah, Al-Qur’an, dan kitab-kitab sebelumnya, serta mengimani Rasulullah Muhammad saw. dan para rasul sebelumnya.” (Ibnu Abbas, Tanwiir al-Miqbaas, [Tafsir QS Ali Imran: 110).
Keempat, membiasakan anak peduli terhadap permasalahan umat Islam dan beramar makruf nahi mungkar. Hal ini bisa dilakukan orang tua dengan menceritakan penderitaan umat Islam. Misalnya, anak-anak di Palestina sekarang dalam kondisi memprihatikan. Kita harus mendoakan mereka dan berjuang agar mempunyai pemimpin yang mampu membebaskan Palestina dari penjajahan. Hal ini bisa dilakukan anak dengan berdakwah, beramar makruf nahi mungkar, senantiasa mengajak teman-temannya untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, serta mencegah dari berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman,
“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).
Kelima, menanamkan kepada keluarga bahwa keluarga terbaik adalah keluarga penolong agama Allah dan pembela Islam. Menurut Imam Al-Qaththan dalam Tafsir Al-Qaththaan, menolong agama Allah dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan dalam Islam, serta menjalankan aktivitas kehidupan dan memperjuangkan tatanan kehidupan berdasarkan manhaj yang lurus (sesuai Al-Qur’an dan hadis.) Niscaya, Allah akan menolong kalian dengan mengalahkan musuh-musuh kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.
Allah Swt. berfirman,
“Hai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS Muhammad [47]: 7).
Dengan demikian, akan terbentuk keluarga-keluarga pembela Islam yang senantiasa bertakwa kepada Allah dan menolong agama-Nya dengan memperjuangkan tegaknya Islam secara kafah. Insyaallah, pertolongan-Nya makin dekat, yaitu kejayaan Islam dan kaum muslim segera bisa diraih kembali. Amin.
Wallahualam bissawab. [Mnews/YG]
Sumber: alwaie[dot]net
