[Sur’atul Badihah] Tiga Perkara Penting dalam Sur’atul Badihah (Bagian 2/3)

[Sur’atul Badihah] Tiga Perkara Penting dalam Sur’atul Badihah (Bagian 2/3)

Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani

Sambungan dari Bagian 1/3

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Jika ditanyakan pada manusia biasa, “Jika Anda menghadapi suatu masalah, apa yang akan Anda lakukan? Misalnya dia tidak menjawab dengan jawaban lisan, tetapi dengan tulisan maka yang penting adalah adanya langkah pengajaran, yaitu dengan melontarkan pemikiran-pemikiran kepada manusia secara umum dan menjauhi pengajaran yang bersifat personal. Apa saja yang dihasilkan dari pendidikan yang bersifat jemaah atau lontaran pemikiran-pemikiran kepada manusia dilaksanakan, apakah dengan cara tulisan seperti brosur-brosur, buku-buku, surat-surat, pamflet-pamflet, dan yang sejenisnya, atau dengan cara lisan seperti berbicara, khotbah, diskusi, nasihat dan petunjuk, dan yang semisal dengan itu.

Pada masing-masing dari kedua cara ini ada lontaran pemikiran-pemikiran kepada manusia, di dalamnya ada pendidikan yang bersifat kolektif. Yang penting dalam hal ini adalah materi pembicaraan atau bahan tulisan, yaitu berupa pemikiran, kemudian beraktivitas berdasarkan pemikiran itu, dan tidak ada keraguan lagi bahwa materi harus berupa pemikiran yang bukan merupakan perdebatan antara penanya dan manusia. Akan tetapi, merupakan pemikiran yang diterima kebenarannya oleh kedua belah pihak.

Dengan kata lain, pemikiran itu telah menjadi mafhum, bukan sekadar pemikiran karena yang dimaksud bukan meyakinkannya dengan suatu pemikiran, tetapi mengetahui penggunaan pemikiran itu dan mengetahui cara-cara pengambilan pemikiran yang dapat menyelesaikan permasalahan. Tindakan ini, yaitu cara mengambil pemikiran ini merupakan objek yang diperbaiki. Dengan kata lain, bahwa hal itu yang diketahui dengannya atau darinya segi benar dan salah, diulangi atau dihentikan, kemudian bantuan untuk mengulang, kemudian berpindah kepada sesuatu yang lebih kompleks dan sulit.

Dalam menciptakan sur’atul badihah pada masyarakat umum, hanya perlu menjadikannya sebagai adat atau tabiat bagi mereka dan ketika itu akan terwujud sur’atul badihah pada manusia. Jika dibutuhkan jenis pemikiran, perlu diperinci dan didefinisikan, tetapi bukan untuk menjadikannya samar dan kabur.

Seperti jika Anda menghadapi suatu masalah, bagaimana Anda menyelesaikannya? Akan dikatakan kepada para petani, misalnya, “Jika hujan tidak turun, sedangkan Anda tidak mampu membuat hujan buatan, apa yang Anda lakukan dengan tanaman Anda?” Jika dia menjawabnya dengan cepat, dia memiliki sur’atul badihah, dan jika dia tidak menjawab atau menjawab dengan lambat dan setelah mendalami terlebih dahulu, berarti dia tidak memiliki sur’atul badihah.

Jika perlu dijelaskan secara detail, sesungguhnya kedetailan itu tidak penting bagi manusia, karena manusia mengambil segala sesuatu secara sederhana dan mereka memahami kesamaran dan kekaburan yang mereka pahami, dan yang penting adalah jawaban mereka atau mengamati jawaban mereka. Oleh karena itu, tidak ada kesulitan dalam membiasakan manusia dengan sur’atul badihahbadihah dan mengadakannya pada diri mereka.

Akan tetapi, kesulitan itu ada pada selain mereka ini, yaitu dengan orang-orang yang berpendidikan (akademisi) dan para politikus ideologis. Dengan kata lain, kesulitan yang ada pada orang yang pekerjaan mereka adalah berpikir atau ilmu dan bukan pekerjaan fisik. Orang-orang ini memerlukan perhatian yang cukup dalam masalah mereka dan dalam menciptakan sur’atul badihah pada mereka karena meskipun sur’atul badihah sudah ada pada sebagian mereka, tetapi pekerjaan mereka yang asli adalah tidak adanya sur’atul badihah. Oleh karena itu, harus diketahui topik mereka karena hal itu merupakan objek pembicaraan. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3

Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

Share

One thought on “[Sur’atul Badihah] Tiga Perkara Penting dalam Sur’atul Badihah (Bagian 2/3)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *