Penulis: Ustaz Iwan Januar
Muslimah News, NAFSIYAH — Bisakah kita berdakwah tanpa support jemaah? Mampukah kita berdiri di atas panggung dakwah tanpa kolektivitas jemaah? Bisakah membangun peradaban seorang diri tanpa keikutsertaan jiwa dan raga kita dalam sebuah kutlah dakwah?
Sulit rasanya menjawab “ya” untuk pertanyaan di atas. Tabiat manusia itu lemah, mudah tergelincir, membutuhkan ilmu, dan membutuhkan link pertemanan. Untuk membangun sebuah rumah yang besar saja tidak bisa seorang diri, apalagi membangun peradaban. Oleh karena itu, kita membutuhkan kawan dan pembimbing dalam mengarungi medan dakwah ini.
Sehebat apa pun seseorang, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kolektivitas. Kebersamaan merupakan salah satu syarat perjuangan mencapai kemenangan. Dalam dunia bisnis, hampir tidak ada satu pun perusahaan yang tidak menjalin kemitraan.
Dalam dunia politik dan militer, negara-negara imperialis menjalin persekongkolan satu dengan lainnya untuk mencabik-cabik umat muslim dan mencegah kebangkitan Islam.
Bagaimana dalam dunia dakwah? Tentu lebih membutuhkan. Kebersamaan, keberjemaahan, kesatuan, unity, atau apa pun namanya adalah syarat untuk menggapai pertolongan Allah Taala. Penghulu umat ini, yakni Rasulullah saw. mewasiatkan akan kebaikan hidup berjemaah,
« اثْنَانِ خَيْرٌ مِنْ وَاحِدٍ وَثُلاَثٌ خَيْرٌ مِنِ اثْنَيْنِ وَأَرْبَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلاَثَةٍ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَنْ يَجْمَعَ أُمَّتِى إِلاَّ عَلَى هُدًى »
“Dua orang lebih baik dari seorang, tiga orang lebih baik dari dua orang, dan empat orang lebih baik dari tiga orang. Tetaplah kamu dalam jemaah. Sesungguhnya, Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mempersatukan umatku, kecuali dalam petunjuk (hidayah).” (HR Ahmad).
Mari renungkan, ketika Allah memberikan kecerdasan dalam berdakwah, membuat fasih lisan kita menyampaikan kalimatullah, dari manakah semua itu ditempa? Hasil kecerdasan sendirikah atau karena terasah dalam liqo-liqo yang dibantu oleh para guru yang mukhlis? Kita semua tahu jawabannya, itu karena jemaah. Tentu karena ada kawan dan para guru yang tulus hati membina sehingga Allah Swt. memudahkan pemahaman kita.
Dari mana pula Anda mendapatkan jaringan dakwah yang begitu luas hingga seantero negeri, bahkan mancanegara? Semua berawal dari pertemanan kita dalam jemaah. Satu, dua, atau tiga kawan memberi Anda panggung untuk menyampaikan kalimatullah karena mereka memercayai Anda lebih fasih dan lebih pandai dari mereka. Kemudian, mereka amanahkan panggung demi panggung dakwah agar dakwah ini berkembang lewat diri Anda sebagai bagian dari jemaah. Bukankah ini the power of relationship?
Sampai kemudian dunia mengenal Anda sebagai seorang juru dakwah yang andal. Kalimat-kalimat Anda cerdas dan berisi, menggelora, serta membuat umat merasa terpuaskan sehingga Anda pun seolah menjadi ikon dakwah baru di antara para juru dakwah yang lain.
Namun, di situlah sebenarnya perangkap dipasang. Ketika setan tidak bisa menghentikan dakwah seorang hamba, mereka akan berusaha memisahkan seorang juru dakwah dari jemaahnya. Waspadailah penyakit hati juru dakwah yang bisa membuat seseorang terlepas dari jemaahnya.
Tidak jarang dan tidak sedikit pengemban dakwah yang lepas dari orbit dakwah berjemaah karena hilang kesadaran berjemaah. Tanpa disadari, satu persatu ikatan jemaah mereka lepaskan. Kemudian, muncul satu pemikiran, yakni tidak butuh lagi dakwah berjemaah.
Ada beberapa penyakit hati yang bisa membuat seorang juru dakwah tergelincir di jalan dakwah. Akhirnya, ia lepas kendali dan lepas dari orbit dakwah berjemaah.
Meremehkan Amal Jama’i
Merasa asyik dakwah secara pribadi, tidak jarang membuat seorang hamba meremehkan amal jama’i, seperti liqo, kontak, dan segenap agenda dakwah berjemaah. Ia jarang hadir dalam agenda bersama, bahkan mulai melanggar komitmen dakwah berjemaah.
Inilah simpul awal yang terlepas dari kehidupan dakwah berjemaah. Ini terjadi ketika seorang pengemban dakwah mulai meremehkan kedisiplinan hidup berjemaah meskipun dengan alasan berdakwah (pribadi). Untuk hal ini, mereka punya alasan yang seperti benar, “Saya juga berdakwah!” Ironis.
Sibuk dengan Citra Diri
Dunia milenial menciptakan gaya hidup baru bagi manusia, yakni brand mark! Sedihnya, tidak jarang mereka yang terlibat dalam dakwah juga ikut berlomba membangun brand image. Ingin menunjukkan dirinya adalah sosok penting, bahkan sampai menampilkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting ke hadapan umat. Ia merasa umat harus tahu ketika ia minum kopi, makan bersama seseorang, bahkan ketika ia bernafas dan memejamkan mata. Semua demi brand image.
Marilah renungkan bahwa yang harus kita muliakan dan agungkan adalah agama dan pribadi Nabi Muhammad saw., bukan diri, keluarga, atau orang tua kita. Sesungguhnya, kemuliaan adalah milik Allah Taala. Dia akan memberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Ini dinyatakan dalam firman-Nya,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS Ali Imran[3]: 26).
Penyakit Bahaya Kelas
Alamah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Takattul Hizbiy menyebutkan salah satu bahaya yang bisa menimpa sebuah kutlah atau jemaah dakwah adalah bahaya kelas. Ini ketika sebuah jemaah merasa lebih hebat dan ingin dilayani umat.
Apabila kita menjadikan pernyataan beliau sebagai pisau bedah dalam kehidupan pribadi para dai, hal ini pun bisa terjadi. Seorang juru dakwah bisa lupa diri sehingga merasa lebih tinggi derajatnya, lebih penting dibandingkan kawan-kawannya, bahkan merasa lebih unggul dibandingkan jemaahnya.
Penyakit hati ini menyebabkan ia meremehkan segala keterikatan dengan jemaah, serta meremehkan nasihat dan teguran dari kawan-kawannya yang berada di dalam jemaah. Ia merasa lebih penting berdiri di panggung dakwah di tempat lain, ketimbang duduk dalam agenda dakwah bersama. Bahkan, ia merasa bahwa umat lebih memuliakannya ketimbang jemaahnya. Hingga akhirnya, ia marah pada saat jemaah mengingatkan dan menegurnya, padahal semua itu dilakukan jemaah karena rasa cinta dan sayang kepadanya.
Tidak Merasa Bersalah
Ada nasihat klasik yang disampaikan para alim ulama. Apabila hati telah ternoda dosa lalu tidak meminta ampunan, lama-kelamaan hati akan membeku. Ia tidak tersentuh lagi dengan nasihat dan peringatan.
Siapa pun bisa mengalami hal itu, termasuk para juru dakwah yang orbit dakwahnya telah bergeser dari dakwah jemaah menuju keasyikan dakwah pribadi. Berbagai pengabaian amanah dan agenda dakwah dalam berjemaah tidak lagi menjadi perhatiannya. Bahkan, ketakdisiplinannya dalam kehidupan berjemaah sudah dianggap biasa. Ironisnya, ia sendiri marah ketika ada orang tidak menepati akad dengannya.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya Al-Jawabul Kafi menuliskan bahwa suatu dosa biasanya akan menuntut dosa yang lain dan akan menuntut eskalasi atau peningkatan. Waliyyadzu billah.
Mencari Kesalahan Jemaah
Level lebih jauh dari bergesernya seorang dai dari orbit dakwah adalah ia mulai banyak mengeluhkan kondisi jemaah. Seolah mencari pembenaran bahwa ia memang layak meninggalkan jemaah.
Para Sahabat pecinta dakwah, sedari awal kita harus sudah menyadari bahwa jemaah dakwah diisi oleh manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan khilaf. Di mana pun kita berada, selalu akan bertemu sosok-sosok yang penuh dosa dan khilaf.
Namun, itu bukan alasan kita menyalahkan jemaah, lalu berpaling dari mereka, kecuali bila mereka sepakat melakukan kemungkaran. Bukankah bila rumah kita kurang layak, tugas kita adalah ikut membenahinya, bukan malah meninggalkannya, apalagi membumihanguskannya?
—
Ikhwah fillah, tulisan ini adalah pengingat bagi al-faqir pribadi dan ikhwan semua karena dorongan rasa cinta kepada Allah. Luangkan waktu sejenak untuk merenung bahwa panggung demi panggung dakwah yang telah terbangun semua adalah karunia Allah yang dilimpahkan melalui perjuangan kawan-kawan dalam jemaah.
Ada jasa guru-guru kita, juga jasa kitab-kitab yang telah dikaji bertahun-tahun. Saatnya menurunkan ego diri, membuang bahaya kelas, dan merendahkan hati. Mari menyemai kembali keikhlasan untuk menggelar tikar, lalu duduk bersama kawan-kawan dalam jemaah. Ini karena rumah kita adalah jemaah dakwah. Kita berasal dari sana dan kita pun ingin berkumpul bersama orang-orang saleh dalam jemaah kita.
Percayalah, andai pun kaki melangkah untuk pergi berlalu dan tidak kembali, rumah itu tidak akan runtuh karena di dalamnya masih banyak orang-orang yang jauh lebih ikhlas, lebih bagus dalam beramal dibandingkan diri kita. Malah bisa jadi akan datang penghuni-penghuni baru yang lebih bersih dibandingkan hati dan tangan kita ini.
Sesungguhnya, kitalah yang membutuhkan jemaah. Mari kembali merapatkan hati dan barisan dalam rumah ini untuk memenangkan agama Allah bersama-sama.
إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاذَّةَ وَالْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ
“Sesungguhnya, setan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang terasing, menjauh, dan menyisih. Oleh karenanya, janganlah kalian menempuh jalan sendiri, serta hendaklah kalian berjemaah dan berkumpul dengan orang banyak.” (HR Ahmad). [MNews/YG]
