Mencegah Anak Berbuat Zalim

Mencegah Anak Berbuat Zalim

Penulis: Wiwing Noeraini

Muslimah News, KELUARGA — Ayah-Bunda, pernahkah melihat anak-anak saling berebut mainan atau kue? Lalu, bagaimana sikap Ayah-Bunda melihat hal tersebut?

Ya, sebagian orang tua lebih memilih memberikannya kepada sang adik, sementara si kakak diminta mengalah. Dengan alasan, adik masih kecil, jadi kakak yang harus mengalah. Nah, benarkah sikap demikian? Hati-hati, Ayah-Bunda. Bisa jadi kita tanpa sengaja telah membiarkan anak kita berlaku zalim, mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Apa itu zalim? Zalim atau aniaya artinya bertindak  sewenang-wenang atau tidak adil. Seorang yang beriman kepada Allah Swt. dan memegang teguh prinsip keadilan tidak akan berbuat zalim. Ini karena ia sadar bahwa kezaliman merupakan kegelapan yang akan menutup rapat hati pelakunya. Demikian sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., ”Jauhilah dan takutlah kamu berbuat zalim. Sungguh, kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Tindakan mengambil sesuatu yang bukan haknya sama halnya dengan mencuri barang milik orang lain. Tentu saja ini adalah perbuatan zalim yang dilarang oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya. Larangan tersebut tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ. Di antaranya,

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  ١٨٨

Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil. (Jangan pula) kalian membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kalian tahu.” (QS Al-Baqarah [2]: 188).

Allah Swt. akan murka kepada hamba-Nya yang secara sengaja merampas hak orang lain. Sabda Rasulullah saw., “Siapa pun yang mengambil hak orang muslim dengan sumpahnya, Allah menentukan neraka bagi dirinya, lalu mengharamkan surga bagi dirinya.” Ada lelaki yang bertanya kepada Nabi saw., “Walaupun hal tersebut merupakan hal yang sangat sederhana, wahai Rasulullah?” Kemudian Nabi Muhammad saw. menjawab, “Walaupun itu sebatang kayu syiwak dari pohon arak.” (HR Muslim).

Jelas, mengambil hak orang lain akan menjerumuskan seorang muslim ke dalam neraka. Tentu sikap buruk ini haruslah ditinggalkan. Lalu, bagaimana menghindarkan anak dari sikap zalim ini? Berikut beberapa hal yang bisa Ayah-Bunda lakukan.

1. Membangun takwa.

Perlu kiranya kita membangun ketakwaan anak sejak dini, yakni menanamkan ketaatan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Aktivitas ini tidak dapat terbentuk secara instan. Ini karena hal yang harus ditaati untuk dikerjakan dan yang harus ditinggalkan mencakup semua hal (kafah) (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 208).

Oleh karena itu, penting mulai menanamkan konsep dan praktik takwa sejak dini. Sekalipun berbeda hal-hal yang boleh dikerjakan dan yang tidak saat anak belum balig dan sesudah ia balig.

Mengenalkan sejak dini hal-hal yang perlu dilakukan dan yang tidak boleh dikerjakan akan membuat anak senantiasa terpaut dengan Allah Swt. saat mengisi usianya. Beraktivitas sekaligus beribadah. Ayah-Bunda bisa mengenalkan bahwa perbuatan zalim adalah sikap yang tidak boleh dilakukan. Mengapa? Ini karena Allah Swt. melarangnya. Oleh karena itu, menghindari semua itu termasuk ibadah, yakni perbuatan yang disukai Allah Taala.

2. Memahamkan standar baik-buruk.

Sangat penting memberikan pemahaman kepada anak bahwa standar baik dan buruk adalah halal dan haram, yakni terikat pada hukum syariat. Bisa jadi anak-anak kita menganggap bahwa setiap yang menyenangkan itu adalah baik. Sebaliknya, sesuatu yang menyusahkan itu adalah buruk, padahal tidak demikian.

Baik dan buruk bukan berdasarkan apa yang dipikirkan atau yang dirasakan manusia, tetapi berdasarkan aturan Allah. Apa pun yang Allah halalkan, itulah yang baik. Sebaliknya, apa pun yang Allah haramkan, itulah yang buruk. Dengan pemahaman seperti ini, harapannya ketika anak kita dewasa, ia tetap teguh memegang hukum syariat, sekalipun sulit dan berat. Bisa jadi ia berada dalam lingkungan yang terbiasa berlaku zalim, misalnya, tetapi hal tersebut tidak akan menggoyahkan dirinya. Ia tetap tidak mau mengambil apa pun yang bukan haknya.

3. Menasihati anak ketika bersikap zalim.

Sudah seharusnya Ayah-Bunda menasihati anak ketika ia berlaku zalim, baik kepada saudaranya, temannya, bahkan ayah-bundanya. Sangat mungkin anak marah saat dihalangi mengambil sesuatu yang bukan haknya. Misalnya, saat kita melarangnya merebut mainan temannya atau mengambil kue milik adiknya. Kita perlu segera mengajaknya berbicara, mengingatkannya, lalu mengajaknya meminta maaf kepada orang yang diambil haknya. Tentu saja itu semua harus dilakukan Ayah-Bunda dengan bahasa yang ahsan. Tidak memarahinya, apalagi di depan orang lain, karena itu akan menyakiti hatinya.

Tidak perlu berpanjang kata mengingatkannya. Kita bisa mencari waktu lain untuk bisa berbincang lama berkaitan sikapnya yang tidak baik tersebut. Kita bisa mengajarinya tentang konsep kepemilikan dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti oleh anak. Misalnya, ketika Bunda memberikan mainan kepada kakak dan adik, ajarkan bahwa itu adalah milik masing-masing. Demikian juga ketika membagi kue atau minuman, perlu disampaikan kepada anak-anak bahwa ini adalah kue kakak dan itu adalah kue adik. Ketika adik ingin mainan atau kue milik kakak, ia harus terlebih dahulu meminta izin kepada kakak, demikian pula sebaliknya.

Jangan biarkan anak-anak mengambil dan memakan yang bukan miliknya, kecuali dengan cara yang benar sesuai syariat. Misalnya, dengan meminta baik-baik kepada empunya, menunggu sang pemilik memberi padanya, atau menunggu ayah-bunda memberinya, dst.

4. Bersikap bijak ketika terjadi perselisihan.

Ayah-Bunda pun harus bersikap bijak ketika ada perselisihan di antara kakak-adik karena berebut sesuatu. Bisa jadi Ayah-Bunda sering meminta kakak yang terus mengalah, lalu barang-barang miliknya bisa jadi berpindah ke sang adik tanpa keridaannya. Biasanya alasan Ayah-Bunda karena sang adik masih kecil dan belum mengerti sehingga kakak yang harus mengalah. Kondisi seperti ini bisa saja terus terjadi hingga anak-anak balig, bahkan dewasa.

Padahal tidak seharusnya demikian. Tidak selalu kakak harus mengalah. Ayah-Bunda juga harus berupaya memberikan pengertian kepada sang adik tentang siapa pemilik barang tersebut. Mengajak berpikir benar, sekalipun hal itu butuh proses, tidak bisa instan. Nah, ini yang kadang terlupakan. Sangat mungkin ada ayah atau bunda yang “malas” melakukan proses tersebut karena ingin semua masalah selesai dengan cepat. Tanpa perlu mengajak berpikir, langsung dengan tindakan, lalu barang kakak diserahkan kepada adik. Tanpa disadari, kita telah salah mendidik anak.

Ketika ada perselisihan antara kakak dan adik karena berebut sesuatu, Ayah-Bunda harus memahami masalah dengan sebaik-baiknya. Ketika salah satu menangis, tidak selalu yang menangis yang benar dan yang tidak menangis yang bersalah. Bisa jadi justru yang menangis itulah yang merebut lebih dahulu.

5. Menjadi teladan bagi anak-anak.

Ayah-Bunda, anak adalah peniru ulung. Ia akan mengikuti dan meniru semua hal yang ada di sekitarnya. Anak akan meniru semua yang dilakukan orang tuanya, baik itu ucapan, perilaku, maupun kebiasaan kedua orang tuanya. Masa-masa emas perkembangan anak antara usia 0-3 tahun adalah masa anak akan dengan cepat merespon dan meniru sesuatu yang ia lihat dan dengar. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan yang paling utama dalam mencetak perilaku dan karakter anak. Oleh karena itu, Ayah-Bunda harus menjadi teladan bagi anak-anak. Misalnya, saat Ayah-Bunda akan memakai barang milik anak-anak, tentu juga harus dengan keridaannya. Ayah-Bunda harus meminta izin kepada anak, bukan mengambilnya begitu saja.

Penutup

Demikianlah beberapa hal yang bisa kita lakukan. Tidak hanya memahamkan anak, kita juga harus terus mengawal proses pengajaran ini hingga anak-anak pun terbiasa menjauhi sikap zalim, yakni mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tentu saja proses ini tidak hanya dilakukan oleh orang tua, tetapi juga perlu melibatkan orang-orang yang ada di sekitar kita. Mereka adalah tetangga, keluarga besar, seperti kakek, nenek, atau kerabat lainnya, guru di sekolah, dan yang lainnya.

Jangan lupa terus menengadahkan tangan, mendoakan mereka. Semoga mereka menjadi anak-anak saleh dan salihah. Semoga Allah Swt. menjauhkan mereka dari sikap buruk dan dimudahkan menjalankan ketaatan kepada-Nya. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *