Muslimah News, DUNIA REMAJA — Belajar Islam? Eh, hemmm, gimana, ya? Boring, menakutkan, enggak gaul, dan segudang ketakenakan yang lain. Begitu jawaban remaja ketika diajak belajar Islam. Di sekolah, kan, sudah belajar Islam, kok harus belajar Islam lagi? Mau belajar Islam kek gimana lagi?
Belajar Islam? Why?
Logika gampangnya gini aja deh, bahwa semua hal butuh belajar. Iya, kan? Saat kecil dahulu biar bisa jalan, kita butuh belajar. Saat kita agak gede dikit, pas udah masuk SD, kita dituntut bisa calistung. Akhirnya, kita pun belajar calistung. Ketika kita sudah remaja dan pengin bisa naik motor atau sepeda, itu semua juga butuh belajar.
Belajar bikin kita bisa, bahkan mahir, ahli alias expert. Belajar pula yang bikin kita akhirnya bisa menemukan cara terbaik, cara tepat, bahkan mengetahui sesuatu yang boleh dan enggak boleh. Ketika sudah gede, kita belajar dari masa kecil kita. Itu juga yang sering diingatkan bapak or ibu kita.
Kenapa sih kudu belajar Islam? Jawabannya gampang, kok! Kita adalah muslim, sudah pasti harus belajar Islam, dong, belajar agama kita sendiri. Gimana kalau “bodoh” terhadap agama kita sendiri? Kalau enggak tahu dan enggak mau tahu tentang agama kita sendiri, bisa jadi orang-orang di luar Islam yang bakal lebih pintar dari kita yang muslim sejak lahir.
Dalam catatan sejarah negeri kita, ada nama Snouck Hourgenye, orang Belanda yang belajar Islam dan budaya Nusantara. Hourgenye bahkan (pura-pura) masuk Islam, lalu menyusup saat terjadi peperangan di Aceh. Berkat siasatnya itulah, peperangan itu dimenangkan oleh Belanda. Pahlawan seperti Teuku Umar dan Cut Nya Dien meninggal dalam perang tersebut.
Nah, tahu dari mana sejarah perang Aceh kalau kita enggak belajar? Oleh karenanya, sebagai muslim, kita kudu belajar Islam. Kalau enggak, kita akan dikuasai oleh kebodohan, bahasa zaman dulu disebut jahiliah. Persis seperti bangsa Arab ketika Rasulullah saw. belum lahir dan membawa risalah Islam, bangsa Arab diliputi kejahilan. Anak-anak perempuan dibunuh atau dikubur hidup-hidup, patung-patung disembah, minuman keras merajalela, riba membahana, dan sebagainya. Maukah kita kembali ke zaman jahiliah?
Pasti kagak mau, kan? Nah, itulah sebabnya kita harus belajar Islam. Kita sudah segede ini, tahu dari mana cara salat, puasa, atau pun ibadah lainnya dengan benar, kalau bukan karena belajar Islam? Akan tetapi Guys, Islam enggak cuma ngajarin kita salat atau puasa, dong. Islam itu way of life, alias panduan hidup yang sempurna dan paripurna. Islam akan jadi petunjuk saat kita hidup di dunia ini.
Belajar Islam, Mulai Kapan?
Kalau mengutip pepatah, belajar Islam dimulai sejak buain sampai ke liang lahat. Artinya, belajar Islam harus terus dilakukan, enggak boleh berhenti. Dimulai sejak kita kecil, hingga mati. Memang saat kecil, kita sudah diajari oleh bapak dan ibu kita. Diajari adab yang baik, hafalan doa harian, hingga hafalan surat-surat pendek. Setelah sekolah, enggak hanya di rumah, kita juga mendapat pelajaran agama Islam di sekolah, seperti cerita para nabi terdahulu, hingga pelajaran-pelajaran fikih Islam.
Apakah semua itu cukup? Tentu saja enggak cukup. Kita tetap harus belajar Islam sepanjang hayat. Allah Swt. menyatakan bahwa Islam diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu, “… Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An Nahl 89).
Jadi, kita sebagai muslim enggak perlu mencari petunjuk hidup lain, selain Islam. Yakinlah hanya kepada Islam, lalu pelajari dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanpa memilih syariat yang enak atau enteng saja yang kita kerjakan. Kalau ada masalah, carilah jalan keluarnya dengan Islam juga.
Mulailah belajar dari hal yang paling mendasar, yakni belajar akidah Islam. Kalau sudah punya pondasi akidah yang kukuh, kita enggak bakal ragu menerapkan Islam dan solusi-solusinya dalam kehidupan. Sebaliknya, kalau kita enggak belajar pondasinya dulu, walaupun disampaikan ribuan ayat berupa solusi Islam, enggak bakal berpengaruh, enggak akan yakin.
Misalnya, ada teman yang kita suruh ninggalin pacaran karena menurut Islam enggak boleh. Pasti enggak bakal ngaruh kalau akidah atau keimanannya masih lemah. Ia enjoy terus bermaksiat pacaran karena pondasi imannya enggak kukuh.
Semangat kita belajar Islam enggak akan menyala-nyala kalau pondasi iman atau akidah kita lemah. Sebaliknya, kalau kita punya keimanan yang kukuh dan benar, enggak ada rasa malas untuk terus belajar Islam.
Ternyata semua dimulai dari pondasinya, yakni akidah. Kalau pondasi akidah atau keimanannya beres, bangunan yang dibangun di atasnya juga akan beres. Hal ini sudah terbukti dan teruji dalam diri sahabat Nabi Muhammad saw., yakni Bilal bin Rabbah. Btw, sudah tahu, kan, kisah Bilal?
Jadi saat belajar Islam, mulailah dengan memperdalam akidah Islam yang benar dan kukuh. Carilah majelis-majelis halaqah agar bisa menjawab pertanyaan tentang keimanan kita. Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu tentang hidup kita, yakni berasal dari mana, kita di dunia untuk ngapain, dan kelak setelah mati kita akan menuju ke mana? Carilah jawaban benar dari tiga pertanyaan mendasar itu. Dengan demikian, kita akan mendapatkan jawaban yang memuaskan akal dan menenteramkan hati, tentu saja atas bimbingan para guru, ustaz, kiai, atau ajengan. Bisa juga dari orang tua kita di rumah atau dari kakak-kakak kelas kita. Jangan belajar sendiri tanpa guru, karena bisa jadi kita akan menafsirkan seenak perut sendiri. Don’t try this at home!
Belajar Islam, Diasyikin Aja!
Kalau sudah belajar akidah yang benar dan caranya juga benar, jangan merasa puas. Ilmu Islam itu luas. Kalau kita merasa sudah pintar lalu berhenti belajar, itu kesalahan terbesar dan berbahaya. Benih-benih kesombongan akan muncul. Duh, jangan, deh! You must try harder to learn Islam. Nyobain pakai bahasa Inggris, hehe.
Saat ini, belajar Islam tidak melulu harus di ruang kelas, musala, atau masjid. Para narasumber yang kompeten untuk dijadikan rujukan belajar Islam sekarang sudah ada di ruang-ruang publik, bahkan di ruang maya.
Para ustaz ini kadang mengadakan taklim di sebuah tempat yang off air. Namun, kita yang jauh pun bisa menyimak, bahkan berinteraksi via online, yakni via streaming YouTube atau aplikasi semacam zoom meeting. Recording atau kumpulan ceramah-ceramah mereka pun bisa kita lihat di YouTube atau didengar di spotify. Ragam acaranya juga sudah bervariatif. Ada yang berupa tablig, seminar, talkshow, hingga podcast.
Bahkan kalau kita suka berorganisasi dan mengorganisasi suatu event, kalau kurang puas menatap dan ngobrol dengan para narasumber tersebut, kita bisa mengundangnya hadir di tempat kita. Bahkan, kita bisa mengambil peran lebih di kepanitiaan dengan menjadi pembawa acara alias host, MC, atau semacamnya. Intinya, jangan sampai semangat kita menuntut ilmu Islam menjadi padam, sebaliknya tetap harus menyala.
Belajar Islam Itu Asyik, lo!
Nah, kalau soal bored yang enggak bikin asyik, itu kan bisa kita atur. Bored atau bosan adalah perasaan yang bisa kita kendalikan. Gimana sih cara, tip, atau langkah-langkahnya biar belajar Islam tetap asyik?
Pertama, coba tata rasa dan hati dahulu. Rasa bosan enggak akan mudah hinggap di benak, kalau kita fokus pengin ibadah kepada Allah Taala. Enggak ada yang pantas dan patut kita taati, kecuali Allah Taala. So, enggak usah mikir macam-macam. Fokuslah belajar dengan niat ibadah. Kalau ibadah kita benar, bisa dapat berkah-Nya dan dimudahkan ke surga. Insyaallah, bosan itu akan permisi pergi.
Kedua, cari forum-forum pembelajaran Islam. Awalnya, boleh kok belajar Islam dari ngobrol bareng teman-teman kita, saling tukar pendapat dan pikiran. Namun supaya bola perbincangan enggak liar, kudu tetap ada yang membimbing. Carilah pembimbing yang paham Islam untuk ngarahin tujuan perbincangan. Jangan cuma ngobrol tanpa ada ujung pangkalnya. Obrolan itu harus bisa ngasih solusi, bukan cuma buat kita, tetapi juga buat yang nonton, maupun yang menyimak.
Ketiga, kudu ada skala prioritas pelajaran. Pelajaran awal adalah masalah akidah, lalu pelajaran lainnya sesuai skala prioritas. Kalau tidak, malah membuat kita enggak paham. Jangan pula hanya puas belajar di forum-forum diskusi bebas, kajian besar, atau acara-acara training, tetapi harus mengikuti kajian rutin yang lebih intensif minimal seminggu sekali. Dengan demikian, kita mendapat materi pelajaran yang lebih detail dan terstruktur.
Keempat, harus ada alat ukur keberhasilan. Ya, layaknya belajar pada umumnya, pasti ada alat untuk mengukur hasil belajar. Tidak harus berupa nilai akademis di atas kertas. Justru lebih riil, yakni berupa realitas perbuatan kita sehari-hari. Yupz, jangan sampai kita belajar Islam bareng teman-teman cuma untuk happy aja. Islam yang kita pelajari harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, belajar Islam untuk menggerakkan. Hakikat belajar Islam adalah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau belajar Islam agar tampak pintar saja, untuk apa? Kalau kita belajar Islam dengan cara dan sumber yang benar, insyaallah kita akan tergerak untuk menyampaikannya kepada teman yang lain. Nah, saat itulah roda dakwah terus berputar. Ketika dakwah Islam bisa berjalan dengan baik, kebangkitan Islam tidak akan lama lagi. Insyaallah. Allahu Akbar! [MNews/YG]
Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 170
