Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KELUARGA — Salat adalah kewajiban utama bagi setiap muslim yang telah balig dan berakal. Namun, apa kabar salatnya remaja hari ini? Tidak sedikit dari mereka yang tidak memahami kewajiban salat lima waktu. Ini karena minimnya pendidikan agama yang mereka dapatkan, baik di rumah, maupun di sekolah. Kalaupun ada aktivitas salat berjemaah di sekolah, itu hanya sebagai aktivitas pilihan bagi remaja muslim yang mau mengerjakannya.
Sudah seharusnya keluarga muslim mencermati remaja dengan kewajiban salat lima waktunya. Salat adalah tiang agama. Muslim yang menjaga salatnya, artinya ia telah menunjukkan dan menjaga keislamannya.
Remaja Menjaga Salat
Kewajiban salat ada berdasarkan Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Allah Swt. berfirman, “Dirikanlah salat, keluarkanlah zakat, dan tunduklah rukuk bersama orang-orang yang rukuk.” (QS Al-Baqarah: 43).
“Kerjakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut: 45).
Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Islam didirikan di atas lima dasar, yaitu memberi kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa saat Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.” (HR Imam Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Auf).
Remaja muslim harus dipahamkan bahwa salat adalah salah satu rukun agama ini. Tidak boleh ada muslim yang meremehkan salat, apalagi meninggalkannya. Meninggalkan salat berarti meninggalkan kewajiban dan itu sebuah dosa besar.
Akibat Paham Sekuler Kapitalisme
Remaja muslim tidak akan langsung paham dan mau senantiasa menunaikan salat lima waktu. Harus ada proses penanaman pemahaman yang dilalui. Terlebih sistem kehidupan saat ini, yakni sekuler kapitalisme menilai segala sesuatu, termasuk amal salat, dengan standar materi dan asas manfaat. Apa untungnya jika remaja salat lima waktu? Nuansa berpikir spiritual pun, pelan-pelan mulai dikikis dari benak remaja muslim. Kalaupun remaja salat, sebagian karena disuruh guru dan orang tua atau karena tidak enak terhadap orang lain jika mereka tidak salat.
Inilah suasana kehidupan yang menjauhkan agama dari kehidupan. Agama diambil jika ada manfaat yang segera didapatkan saja.
Pemikiran keluarga muslim yang masih memegang Islam sebagai pedoman hidup akan bertarung dengan sistem kapitalisme sekuler di seluruh lini kehidupan. Tidak terkecuali di ranah individu atau domestik, seperti pelaksanaan kewajiban salat.
Bersama Mengkaji Islam Kafah
Menyikapi hal ini, tidak ada jalan lain bagi keluarga muslim yang ingin selamat dari keburukan sistem kapitalisme sekuler, selain mengikuti pembinaan Islam kafah. Ini sebuah ikhtiar yang akan menyelamatkan keluarga dan remaja muslim dari berbagai perbuatan keji dan mungkar.
Pembinaan ini membuat setiap muslim yang istikamah di dalamnya akan semangat mempelajari salat dan berupaya khusyuk di dalam salat. Mereka tidak memandang salat sekadar gerakan tubuh dengan bacaan tertentu yang diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Namun, mereka berupaya khusyuk sehingga mendatangkan ketenangan dalam diri. Sesungguhnya, hakikat salat bagi setiap muslim adalah saat ia sedang sangat dekat dengan Rabb Penciptanya.
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS Al-Mukminun: 1—2)
Bersama Menjaga Salat
Sepertinya, tidak hanya remaja yang kurang paham tentang kewajiban salat. Orang dewasa pun karena kesibukan dan ketidakpahaman mereka banyak yang meninggalkan salat. Para remaja itu butuh contoh dan dibersamai oleh orang dewasa di sekitarnya.
Oleh karena itu, mengkaji Islam untuk menguatkan keimanan dan pemahaman rukun Islam mutlak harus dilakukan oleh setiap muslim. Mereka harus berpihak dan menganggap penting urusan agama Islam. Orang tua, keluarga, dan remaja akan saling menguatkan dan mengingatkan untuk menjaga tiang agama Islam ini.
Menjaga salat, berarti menjaga agama. Dengan menjaga keduanya, keterhubungan dengan Allah Swt. pun senantiasa rutin terlaksana. Remaja yang menjaga salatnya akan menjadi remaja yang senantiasa mengingat Allah pada setiap hari yang dilaluinya. Dengan selalu menghadirkan Allah dalam ingatannya, diharapkan menjadi alarm agar remaja tidak mudah tergelincir di jalan maksiat.
Tentu kondisi ini harus berlangsung kontinyu. Dengan demikian, ada pengingat dari diri dan lingkungan yang senantiasa menjaga ketaatan remaja kepada Allah Taala. Inilah suasana dakwah. Sikap saling mengingatkan yang hendaknya ditumbuhsuburkan dalam kehidupan keluarga, serta di lingkungan pertemanan remaja. [MNews/YG]
