Muslimah News, NAFSIYAH — Memiliki sifat dendam tidak diajarkan oleh syariat. Bahkan, hal itu merupakan salah satu sifat tercela dalam Islam. Jika manusia memiliki sifat dendam, itu bisa mendatangkan kemudaratan bagi kesehatan dirinya. Kok bisa?
Menurut pakar kesehatan, ada beberapa hal yang bisa dikenali sebagai gejala gangguan paranoid. Satu di antaranya adalah sering menyimpan dendam alias pendendam. Hal ini biasanya terjadi karena ada pengalaman atau trauma pada masa lalu, pernah merasa disakiti oleh orang sekitar sehingga menyimpan dendam dan berakhir pada perilaku paranoid.
Gangguan paranoid ialah masalah yang terjadi pada kesehatan mental. Penyakit mental ini ditandai dengan menyimpan dendam, rasa takut berlebihan, serta tidak bisa percaya dengan orang lain. Astagfirullah, ternyata dendam bisa menjadi masalah bagi mental manusia.
Rasulullah saw. mengingatkan agar kita tidak menyimpan rasa dendam. “Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat. Hanya saja, ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun. Ia juga tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.” Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR Ahmad).
Masyaallah, salah satu ciri penduduk surga ialah tidak memiliki perasaan dendam dalam dirinya. Dengan demikian, mengapa kita mau mempertahankan atau memiliki rasa dendam? Bukankah hal itu justru tidak membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat?
Agar Dendam Tidak Berkembang di Hati
Ada nasihat dari Ibnu Taimiyyah untuk setiap muslim agar bisa menghindarkan atau menghilangkan dendam di hati. Pertama, ingatlah bahwa perbuatan orang lain kepada kita tidak keluar dari kehendak-Nya. Allah menginginkannya itu terjadi dan ada hikmah di balik hal itu. Kedua, ingatlah dosa-dosa kita. Tidaklah keburukan menimpa kita, melainkan karena dosa-dosa kita. Sibukkan diri dengan bertobat dan istigfar, daripada sibuk mencela, serta mencari-cari cara untuk membalasnya.
Ketiga, ingatlah pahala yang sungguh besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. “Barang siapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS Asy Syuura: 40). Keempat, ingatlah bahwa memaafkan dan berbuat baik akan membuat hati kita bersih dari keinginan-keinginan buruk, hasad, dan dendam. Hati pun akan merasakan kelezatan yang jauh lebih lezat dari kelezatan melampiaskan dendam.
Kelima, dendam akan membuat jiwa menjadi hina. Sebaliknya, memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan, melainkan kemuliaan.” (HR Muslim). Keenam, kita akan mendapatkan balasan sesuai perbuatan yang dilakukan. Kita pun pasti pernah berbuat dosa. Jika kita memaafkan, Allah pun akan memaafkan kita.
Ketujuh, menyibukkan diri dengan dendam akan menghabiskan waktu dan membuat hati tidak fokus. Akibatnya, banyak hal bermanfaat kita lewatkan. Ingatlah, jangan sampai musibah lebih besar menimpa kita. Kedelapan, Rasulullah saw. tidak pernah dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?
Kesembilan, sabar adalah setengah dari keimanan. Jika sabar, berarti kita sedang menjaga keimanan kita dan Allah juga akan menolong kita. Jika kita sabar, orang yang telah berbuat zalim akan menyesal dengan tindakannya, malu, dan bisa jadi mencintai kita, setelah sebelumnya membenci kita. “Balaslah keburukan itu dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang tadinya antara kamu dan dia ada permusuhan, menjadi seolah-olah seperti teman yang dekat.” (QS Fushilat: 34).
Kesepuluh, jika kita membalas perbuatan buruknya, hal itu akan membuatnya semakin bertambah buruk. Orang yang biasa mendendam, ia pasti akan terjerumus pada kezaliman karena jiwanya sulit untuk berbuat adil. (Qaa’idatun fish shabri).
Saudariku, Rasulullah saw. menasihati kita, “Barang siapa meninggalkan pertengkaran sedang ia salah, maka akan dibangunkan untuknya rumah di sekitar surga. Barang siapa meninggalkan pertengkaran padahal ia benar, maka akan dibangun untuknya rumah di lantai tengah surga. Barang siapa yang membaguskan akhlaknya, akan dibangun baginya rumah di tingkat paling atas surga.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi).
Hilangkan rasa dendam dan berilah maaf kepada saudara seakidah, apalagi kepada sesama pejuang Islam. Pertolongan Allah Swt. akan diberikan pada mereka yang sungguh-sungguh menempuh berbagai jalan kebaikan, bukan keburukan. Rasul saw. juga pernah bersabda, “Sesungguhnya lelaki yang paling dibenci Allah ialah yang paling gigih dalam permusuhan.” (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu musta’an. [MNews/Rndy-YG]
