Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Al-Qur’an telah membicarakan secara detail kehidupan Maryam yang jujur itu, yaitu apa yang dikatakan ibundanya, pengasuhan pamannya kepada beliau, ketika mengandung Isa dan melahirkannya, serta dialognya dan juga anaknya dengan kaumnya. Secara mendasar, Al-Qur’an telah menyatakan semuanya tadi dalam dua surah dan dalam beberapa tempat yang berbeda, baik menyangkut poin ataupun pemikiran tertentu. Kisah tersebut telah dinyatakan dalam surah Ali-Imran,
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ
“(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmaqdis). Oleh karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ Maka tatkala istri `Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam.’” (QS Ali-Imrân [3]: 35—36).
hingga firman-Nya,
وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ
“Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam.” (QS Ali-Imrân [3]: 44).
وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ
“Dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah.’” (QS Ali-Imrân[3]: 37).
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ ۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
“Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik.’“ (QS Ali-Imrân [3]: 38).
Demikian juga Al-Qur’an menyatakan kisah Nabi ‘Isâ sebagaimana yang dinyatakan dalam surah Maryam, sejak datangnya wahyu kepadanya, kehamilan Maryam mengandung anaknya, kelahiran anaknya, serta pelariannya ke kebun kurma hingga Nabi ‘Isâ as. Berkata,
اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا
وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ
“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS Maryam [19]: 30—31).
hingga ayat tersebut menyatakan hakikat tadi,
ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ
“Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya.” (QS Maryam [19]: 34).
مَا كَانَ لِلّٰهِ اَنْ يَّتَّخِذَ مِنْ وَّلَدٍ سُبْحٰنَهٗ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
“Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.”
Kelahiran Maryam telah memengaruhi perasaan dan naluri Zakaria, lalu beliau berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang saleh, sembari melupakan kondisi istrinya, bahwa dia ternyata mandul? Sementara itu, beliau sendiri sudah sangat tua dan kepalanya telah dipenuhi dengan uban, kemudian datanglah kabar gembira, ketika beliau sedang berdiri salat di mihrab, bahwa Allah memberi kabar gembira kepadanya dengan kalimah (yang datang) dari-Nya.
Kemudian beliau dihinggapi kekaguman, lalu mulai bertanya kepada Malaikat, bagaimana mungkin semuanya bisa terjadi, sedangan beliau dalam usia yang uzur dan istrinya pun mandul. Malaikat itu berkata, “Demikianlah Allah menciptakan apa saja yang Dia kehendaki.“
وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا
“Sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.” (QS Maryam [19]: 9). [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 3/4
Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an
