[Metode Dakwah Al-Qur’an] Sanggahan terhadap Orang Nasrani (Bagian 1/4)

[Metode Dakwah Al-Qur’an] Sanggahan terhadap Orang Nasrani (Bagian 1/4)

Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Selama agama Nasrani ada di tengah masyarakat, meski dalam bentuk yang terbatas atau bisa menguatkan agama Yahudi, maka harus dibantah. Lebih-lebih sebagian bangsa Arab telah memeluknya, atau terpengaruh dengannya, seperti Waraqah bin Naufal dan Al-Qis bin Sa’idah al-Ayâdi. Mereka telah dibantah secara global dan dijelaskan bahwa mereka itu kafir, jika mereka tidak mengimani kenabian Muhammad. Demikian juga, ayat-ayat Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Muhammad saw. nyata telah disebut dalam Injil, sekali dengan nama Ahmad, dan kali lain dengan nama Muhammad. Beliau disebut dengan nama Ahmad melalui lisan Nabi ‘Isa as. dengan firman-Nya,

وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ

“Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (QS Ash-Shaff [61]: 6)

Sementara itu, nama Muhammad terdapat dalam firman-Nya,

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadi makin kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.” (QS Al-Fath [48]: 29).

Al-Qur’an juga menyerang mereka, karena mereka telah menjadikan ulama dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah. Selama orang yang disebut Paus itu tetap berposisi layaknya Tuhan bagi mereka, maka ketika Rasulullah saw. ditanya bagaimana mungkin mereka menjadikan ulama dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, beliau menjawab, “Mereka (ulama dan rahib) itu membuat syariat untuk mereka, dan mereka berjalan mengikuti syariat ini.” Atau yang senada.

Demikian juga sanggahan terhadap apa yang mereka buat-buat dalam urusan agama mereka; apa yang mereka modifikasi dalam Injil mereka. Al-Qur’an juga mengkhususkan sejumlah ayat untuk men-counter masing-masing kelompok. Al-Qur’an telah menyerang orang yang mengatakan bahwa Al-Masih adalah anak Allah, menyerang orang yang mengatakan bahwa Al-Masih adalah Allah, ketika Lâhawt dan Nâsût mengejawantah menjadi satu, menyerang orang yang mengatakan bahwa Allah adalah tiga dalam satu, juga menyerang orang yang mengharuskan praktik kependetaan (monastisme) bagi para tokoh gereja,

وَرَهْبَانِيَّةَ ِۨابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنٰهَا عَلَيْهِمْ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

“Dan mereka mengada-adakan rahibaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (QS Al-Hadid [57]: 27). [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/4

Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *