Miqdad bin Amr, sang Pemikir Ulung

Miqdad bin Amr, sang Pemikir Ulung

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara golongan assabiqunal awwalun, yakni orang-orang yang pertama masuk Islam, ada nama sahabat Nabi saw. yang berperan cukup besar dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut, ia mendapat tugas sebagai pasukan pemanah. Ia dikenal sebagai sosok pemberani dan berjiwa kesatria.

Kegigihannya membela Islam membuat sahabat lain mengaguminya. Di antaranya, Abdullah bin Mas’ud ra. berkata perihal dirinya, “Aku telah menyaksikan perjuangan Miqdad sehingga aku lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini.” Ia adalah Miqdad bin Amr, orang ketujuh yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan tidak gentar menanggung risiko penderitaan dan siksaan pada masa awal dakwah Islam.

Sang Pemikir

Miqdad merupakan satu dari banyak sahabat yang memiliki kecerdasan luar biasa. Pada masa jahiliah, nama asal Miqdad adalah Miqdad bin Aswad karena ia terikat janji dengan Aswad Abu Yaghuts untuk diangkat sebagai anaknya. Namun, setelah turun ayat dalam Islam yang melarang menyematkan nama ayah angkat di belakang nama anak, nama Miqdad disematkan kembali dengan nama ayah kandungnya, Amr bin Sa’ad. Akhirnya, ia dikenal sebagai Miqdad bin Amr.

Di kalangan para sahabat, Miqdad dikenal sebagai pemikir ulung. Tutur katanya yang penuh makna dan menghunjam saat Perang Badar memberikan motivasi dan semangat yang berkobar bagi pasukan kaum muslim. Dalam orasinya itu, ia menyulut kesetiaan umat Islam kepada Rasulullah ﷺ. Ia mengutip QS Al-Maidah: 24 yang berisi ucapan Bani Israil kepada Nabi Musa.

“Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah Swt. dan kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua,’ sedangkan kami akan mengatakan pada engkau, ‘Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu.’ Demi Zat yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan sabar hingga mencapai tujuan.”

Tidak Gila Jabatan

Dalam satu riwayat, Rasulullah saw. pernah mengangkat Miqdad menjadi Amir di suatu wilayah. Selepas ia bertugas, Nabi saw. bertanya kepadanya perihal jabatannya, “Bagaimana pendapatmu setelah menjadi Amir?”

Dengan tegas, Miqdad berkata, “Engkau telah menjadikan diriku menganggap diri sendiri di atas semua manusia, sedangkan mereka semua di bawahku. Demi Zat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, sejak saat ini aku tidak berkeinginan menjadi pemimpin, sekalipun untuk dua orang selama-lamanya.”

Pada masa sekarang, adakah pemimpin yang merasa takut dengan jabatan yang akan melenakannya dalam gelimang pujian dan kemegahan? Di sistem kapitalisme, mereka justru berebut kursi jabatan dan kekuasaan. Jika terpilih dan menang, mereka akan ketagihan dengan jabatan tersebut dan akhirnya lupa diri karena terlalu nikmat berkuasa.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Miqdad. Ia menganggap pengalamannya menjadi Amir sebagai kenangan pahit yang tidak ingin ia lakukan lagi. Selama menjabat sebagai Amir wilayah, ia selalui dipenuhi kemewahan dan pujian dunia. Hal ini pun membuatnya resah dan tidak tenang. Ia selalu terngiang ucapan Nabi saw., “Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.”

Untuk menghindari fitnah dunia berupa kemewahan dan pujian, ia bersumpah tidak akan menerima jabatan apa pun. Sikap zuhud dan kecintaannya pada Islam membuat Rasulullah saw. memujinya dan berkata, “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu dan menyampaikan pesan-Nya kepadaku bahwa Dia mencintaimu.”

Setelah Rasulullah saw. wafat, Miqdad bin Amr hidup melewati tiga masa pergantian khalifah, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, hingga Utsman bin Affan. Miqdad masih mengikuti perang penaklukan, termasuk hingga ke Afrika dalam perang Sufetula (647 M) melawan tentara Kekaisaran Bizantium yang dipimpin Flavius Gregorius.

Miqdad wafat pada usia 73 tahun. Saat para sahabat menguburkannya, salah seorang berkata, “Kini salah satu pedang Allah, yakni Miqdad bin Amr, telah kembali ke sarungnya.”

Khatimah

Begitulah kehidupan salah satu sahabat terbaik, generasi pertama Islam yang jauh dari kenikmatan dunia. Miqdad bin Amr telah menggapai jalan surga yang tidak mudah. Ia tidak tergoda nikmat dunia. Pandangan matanya hanya tertuju pada kehidupan akhirat yang abadi. Sosok yang patut menjadi teladan bagi para pejuang yang mempersembahkan diri berjalan di jalan dakwah yang penuh onak, duri, dan dunia yang melalaikan. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari sisi kehidupan Miqdad agar tidak lupa diri dari tujuan kita diciptakan, yakni ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya. [MNews/YG]

*Disarikan dari berbagai sumber

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *