Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Kisah tentang kaum Nabi Musa pada pembahasan sebelumnya dilanjutkan dengan salah satu cerita mereka yang detail, bahkan kisah-kisah mereka, seraya menjelaskan jiwa mereka yang sakit, ketika mereka berkata,
فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ
“Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi.” (QS Al-Baqarah [2]: 61).
اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ
“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS Al-Baqarah [2]: 61).
sampai penjelasannya kepada kita tentang kisah Nabi Musa memintakan ampunan untuk mereka, dengan firman-Nya,
وَاكْتُبْ لَنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ اِنَّا هُدْنَآ اِلَيْكَۗ قَالَ عَذَابِيْٓ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَاۤءُۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ
“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman, ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.’ (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil.” (QS Al-A’raf [7]: 156—157).
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَقُصُّ عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَكْثَرَ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebahagian besar dari perkara-perkara yang mereka berselisih tentangnya.” (QS An-Naml [27]: 76).
Atau dialog yang menakjubkan antara Nabi Musa as. dengan Firaun, serta campur tangan seorang laki-laki dari keluarga Firaun yang beriman, tetapi menyembunyikan keimanannya dalam surah Al-Mu’min.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِيْٓ اَقْتُلْ مُوْسٰى وَلْيَدْعُ رَبَّهٗ ۚاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّبَدِّلَ دِيْنَكُمْ اَوْ اَنْ يُّظْهِرَ فِى الْاَرْضِ الْفَسَادَ
وَقَالَ مُوْسٰىٓ اِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ مِّنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ
وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌۖ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَانَهٗٓ اَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا اَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ
“Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), ‘Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.’ Dan Musa berkata, ‘Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Tuhanku ialah Allah.'” (QS Ghâfir [40]: 26—28).
hingga akhir dialog yang berlangsung di antara mereka; antara orang mukmin dari keluarga Firaun dengan Firaun yang biasanya memang membuktikan karakter tagut, diktator, dan orang-orang yang congkak, meski yang hak telah terbukti, dan dibuktikan dengan argumentasi di hadapan mereka. Di sini ada pancingan ringan, bahwa ini merupakan sikap keterlaluan; ia juga digunakan oleh Allah Swt. untuk melabelinya,
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى
“Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.” (QS Thâha [20]: 24).
اِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ
“Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS Yûnus [10]: 83).
مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْۚ فَاَوْقِدْ لِيْ يٰهَامٰنُ عَلَى الطِّيْنِ
“Aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku, maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat.” (QS Al-Qashash [28]: 38).
Sang tiran dan diktator yang destruktif ini ternyata menerima tantangan Nabi Musa as. sehingga beliau bisa menghantam hujah dengan hujah. Para pembantu di sekeliling Firaun pun percaya diri sehingga ketika mereka ditanya Firaun tentang apa yang harus dilakukan terhadap Musa,
قَالُوْٓا اَرْجِهْ وَاَخَاهُ وَابْعَثْ فِى الْمَدَاۤىِٕنِ حٰشِرِيْنَ
يَأْتُوْكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيْمٍ
“Mereka menjawab, “Tundalah (urusan) dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir), mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu.'” (QS Asy-Syu’ara’ [26]: 36—37).
Musa as. berkata,
فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِّثْلِهٖ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَّا نُخْلِفُهٗ نَحْنُ وَلَآ اَنْتَ مَكَانًا سُوًى
قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّيْنَةِ وَاَنْ يُّحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى
“Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya). Musa berkata, ‘Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah pada hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.'” (QS Thâha [20]: 58—59).
Maha Suci Allah, tiran dan diktator —bahkan siapa pun yang menyandang kediktatoran dan kezaliman—ini adalah manusia yang bisa menerima tantangan, sedangkan para penguasa sekarang, dan orang-orang yang mengeklaim bahwa mereka hidup pada era modern dan maju, ternyata tidak bersedia untuk berdiskusi.
Mereka menolak membantah hujah dengan hujah; kritikannya mereka tujukan terhadap orang yang menantang mereka dengan tuduhan berkhianat, kemudian dipenjara dan kadang kala dieksekusi. Manakah yang lebih zalim dan tiran? Jadi, politik bangsa saat ini dibangun dengan pemberangusan, pemenggalan rezeki dan leher; sedangkan ketika mereka memperoleh kemenangan terhadap orang mukmin, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadapnya dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. [MNews/Rgl]
Sumber: Hafidz Shaleh, Metode Dakwah Al-Qur’an
