Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Papua hari ini dikenal sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya nonmuslim, khususnya Kristen. Kesan ini kian kental ketika beberapa tahun lalu, salah satu kota besar di sana, yakni Manokwari, berusaha mem-branding diri sebagai Kota Injil hingga sempat menuai kontroversi, bahkan memicu beberapa kasus intoleransi.
Sementara itu, jika menilik jejak sejarah, jauh sebelum agama Kristen masuk, penduduk Papua sudah terlebih dahulu mengenal ajaran Islam. Bahkan kekuasaan politik Islam pernah tegak dan berjaya di bumi Papua, terutama di Papua Barat. Setidaknya tercatat ada sembilan kesultanan yang pernah eksis di sana, di antaranya adalah Kesultanan Waigeo, Kesultanan Misool, Kesultanan Salawati, Kesultanan Sailolof, Kesultanan Fatagar, Kesultanan Rumbati (terdiri dari Kesultanan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar), Kesultanan Kowiai (Namatota), Kesultanan Aiduma, dan Kesultanan Kaimana.
Keislaman Papua
Masuknya Islam ke Papua memang ada beberapa versi cerita. Ada yang menyebut Islam langsung dibawa oleh para pedagang dari Arab. Ada yang menyebut Islam disebar oleh para dai yang datang dari Aceh. Namun, ada juga yang menyebut Islam disebarkan di Papua dari arah Maluku Utara.
Hanya saja, teori yang dipandang paling kuat adalah yang menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Papua terjadi sejalan dengan interaksi mereka dengan pedagang-pedagang muslim yang datang dari Maluku Utara pada abad ke-16. Lalu penyebaran Islam ini diperkuat oleh kerja dakwah dan politik kesultanan-kesultanan Islam di Maluku Utara, khususnya Kesultanan Bacan, Ternate, dan Tidore.
Pada masa kejayaannya, ketiga kesultanan ini memang saling bersaing untuk meluaskan pengaruhnya ke wilayah-wilayah di Papua. Akhirnya Kesultanan Ternate berhasil menancapkan pengaruh di Raja Ampat, Sorong, Fakfak, dan Kaimana. Adapun Tidore akhirnya berpengaruh di daerah Biak dan Numfor. Sementara itu, Bacan akhirnya berkuasa di pulau-pulau Waigeol, Misool, Waigama, dan Salawati.
Sejalan dengan menguatnya pengaruh Islam, di masing-masing tempat itu akhirnya berdiri kekuasaan-kekuasaan politik Islam (kerajaan/kesultanan). Hanya saja, posisi kesultanan-kesultanan ini tunduk pada ketiga kesultanan Islam di Maluku Utara sebagai vasal atau dalam hubungan pertuanan.
Pada perkembangan berikutnya, ketika VOC Belanda berhasil menggeser kedudukan Portugis di Maluku Utara, Sultan Tidore yang bernama Nuku Muhammad Amiruddin (berkuasa pada 1757—1779), berhasil mempersatukan kesultanan-kesultanan Islam di Maluku dan Papua di bawah komandonya. Beliau memimpin kesultanan-kesultanan tersebut untuk melakukan jihad fisabilillah melawan VOC Belanda hingga pada akhirnya berhasil mengalahkan penjajah dan mengusirnya dari wilayah Maluku dan Papua.
Sultan Nuku dari Tidore ini memang dikenal gagah berani dan disebut-sebut berhasil menyatukan Nusantara bagian Timur. Saat itu, ia diakui sebagai Sultan Papua, Raja Ampat, Halmahera, dan Seram dengan gelar Muhammad al-Mab’uts Sayyidul Jihad Kaicil Paparangan.
Bahkan sultan-sultan (raja-raja) yang ada di Papua tersebut, termasuk Raja Fatagor, Raja Rumbati, dan Waropen berperan sebagai perwakilan dari Sultan Tidore. Para penguasa muslim di wilayah-wilayah Papua ini diangkat oleh Sultan Tidore. Mereka bertugas untuk mengawasi jalannya perniagaan dan penarikan upeti.
Sayangnya.pengaruh Islam di Papua tidak berlangsung lama. Fluktuasi eskalasi politik di Maluku Utara pada abad ke-19 hingga 20 akibat penjajahan bangsa Eropa, serta masifnya misi Kristen di Bacan oleh Portugis dan di Papua oleh Belanda, turut memengaruhi pudarnya wajah Islam di Papua yang memang datang belakangan. Akhirnya, keruntuhan kekuasaan di Tidore yang diiringi menguatnya pengaruh Belanda pada 1896, membuat Papua benar-benar berada di bawah kekuasaan Belanda. Raja-raja di Papua menjadi perpanjangan tangan Belanda.
Misi Pemurtadan
Penjajah Eropa datang ke Nusantara bukan hanya untuk merampas sumber dayanya. Dengan slogan gold, glory, dan gospel, mereka menyertakan para penginjil dalam misi penjajahan, termasuk Belanda di Papua.
Tepat pada Minggu, 5 Februari 1855 pukul 06.00 pagi, misionaris asal Jerman, yaitu Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler berhasil sampai di depan Kampung Mansinam Pelabuhan Doreh. Mereka dibawa masuk ke Papua untuk menjalankan tugas mereka sebagai pengabar injil.
Masuknya Injil di Mansinam ini menjadi tonggak awal diterimanya agama Kristen oleh orang-orang Papua. Di sini pula, para pendeta mulai memperkenalkan pendidikan Barat pertama di Papua. Sekira tahun 1856, dibuka sekolah dasar pertama yang disusul dengan berdirinya sekolah-sekolah lain di Papua. Dari sinilah Kristen mulai tersebar luas ke wilayah-wilayah lain di Papua.
Sejalan dengan itu, pengaruh penjajahan Belanda menguat. Apalagi akhirnya Belanda mengetahui bahwa Papua memiliki banyak potensi sumber daya yang luar biasa, terutama minyak bumi yang saat itu bisnisnya telah berkembang pesat di dunia dan mendorong eksploitasi besar-besaran di negara-negara jajahan Eropa.
Di Papua, eksploitasi mulai masif terjadi sejak tahun 1934, ketika perusahaan minyak tanah Colijn milik Belanda atau lebih dikenal NNGPM (Nederlandse Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij) datang ke Kokas dan membuka tambang minyak bumi di sana. Sayangnya, Raja Kokas bernama Mahmud Singgirai Rumagesan dan rakyatnya justru membantu pembukaan tambang tersebut. Namun, ketika tampak kebijakan pemerintahan kolonial banyak merugikan rakyatnya, maka raja pun melakukan pembangkangan. Sejak itulah Belanda menganggapnya sebagai musuh dan menghukumnya dengan penjara dan pengasingan.
Setelah itu, sejarah Papua pun makin jauh dari Islam. Bahkan Papua menjadi incaran negara adidaya Amerika setelah diketahui ada harta karun yang tiada tara di perut buminya. Itulah yang melatari sejarah “perebutan” tanah Papua antara Indonesia dan Belanda. Atas bantuan Amerika, Indonesia bisa “merangkul” Papua ke dalam pangkuannya dan pada saat yang sama, penjajahan ekonomi berlanjut di tangan Amerika.
Khatimah
Data tahun 2021 menunjukkan bahwa Islam di Papua adalah agama minoritas yang dipeluk oleh sekira 14.57% penduduk dari total 4.310.000 jiwa. Mayoritas umat Islam tersebut adalah dari nonsuku asli Papua sebanyak 439.337 jiwa, atau 15,51%, sedangkan sisanya adalah dari suku asli Papua sebanyak 10.759 jiwa, atau 0,38%.
Ini menunjukkan, upaya penjajah mengkristenkan Papua berhasil. Bahkan sebagai tanda suksesnya misi Kristen di Papua ini, Patung Yesus setinggi 30 meter pun didirikan di Mansinam pada 2014. Keberadaan patung di dekat Kota Manokwari ini seakan menyiratkan klaim bahwa Papua adalah milik umat Kristen saja, sedangkan sejarah peradaban Islam yang sudah eksis di sana tidak ada apa-apanya.
Yang membuat miris, Papua hari ini justru menyimpan banyak masalah. Di luar penguasaan sumber daya alam, khususnya emas oleh Amerika, Papua identik dengan kemiskinan, keterbelakangan, dan konflik horizontal berkepanjangan. Potensi besar Papua pun tidak luput dari kepentingan politik dunia internasional. Mulai dari kepentingan ekonomi hingga politik pertahanan dan keamanan di kawasan.
Yang pasti, sepanjang tidak diatur oleh Islam, tanah Papua yang kaya raya tidak akan pernah memberi berkah bagi pemiliknya. Sistem politik kapitalisme yang hari ini mengangkangi dunia tetap akan menjadi ancaman bagi kedaulatan tanah dan rakyat Papua pada masa depan. [MNews/Rgl]
*) Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.
