[Editorial] 2024, Momentum Perubahan Hakiki (?)

[Editorial] 2024, Momentum Perubahan Hakiki (?)

Muslimah News, EDITORIAL — Tahun 2023 telah kita tinggalkan, tetapi begitu banyak PR yang tersisa. Kehidupan umat sepanjang tahun ini terus diwarnai kesedihan. Kezaliman demi kezaliman terus terjadi di depan mata, baik dalam skala global maupun lokal. Wajar jika kita bertanya-tanya, adakah harapan baik pada tahun depan?

Terlebih saat sebagian kecil rakyat berpesta pora, banyak saudara kita yang justru sedang dirundung bencana. Pada penghujung 2023 ini, beberapa wilayah di Indonesia dilanda banjir dan gempa. Sementara itu, nun jauh di sana, muslim Palestina tidak henti mengalami upaya genosida. Begitu pun muslim Rohingya, tengah menunggu pertolongan saudara seagama yang tidak kunjung tiba, malah mereka kini sedang menjadi korban propaganda.

Deretan Persoalan

PR tersisa di negeri kita, ndilalahnya bukan hanya satu dua, melainkan merata di semua sektor kehidupan. Di bidang politik, potensi konflik begitu besar menjelang pesta lima tahunan. Para pemburu kekuasaan saat ini sedang sibuk-sibuknya mengonsolidasi sumber daya demi memenangkan persaingan, termasuk memproduksi propaganda pecah belah dan melakukan pencitraan.

Di bidang ekonomi, kondisi negeri ini pun tidak juga beranjak baik. Penguasa nyata-nyata telah gagal menyejahterakan rakyatnya. Biaya hidup kian mahal, layanan publik pun malah dibisniskan. Adapun klaim naiknya angka pertumbuhan ekonomi dan turunnya angka kemiskinan, nyatanya tidak relate dengan kondisi kesejahteraan rakyat. Bahkan yang tampak, gap sosial kian hari kian menganga.

UU Cipta Kerja yang dibangga-banggakan penguasa, alih-alih menyolusi problem ketenagakerjaan yang diwariskan dari zaman ke zaman, malah terbukti menjerumuskan negara dalam hegemoni oligarki atas nama investasi dan utang. Anehnya, para elite penguasa masih berani mengatakan bahwa investasi adalah penyelamat perekonomian, sedangkan kondisi utang yang sudah menembus angka 8.000 triliunan, masih saja disebut aman.

Sementara itu, faktanya, dominasi kekuasaan oligarki yang dilegalkan UU, nyata-nyata telah mengakibatkan penderitaan rakyat banyak, tidak terkecuali anak-anak dan perempuan. Terbukti pada tahun 2023 ini, berbagai proyek pembangunan yang jorjoran hanya menambah parah kasus-kasus konflik lahan di tanah air.

Rakyat pada konflik ini benar-benar berada di posisi tidak berdaya. Mereka harus berhadapan dengan pengusaha yang dibekingi penguasa. Sebagiannya terusir dari tanahnya, tetapi ada pula yang berusaha melawan, meski tebusannya darah dan nyawa mereka.

Hal ini bisa dipahami karena tanah bagi mereka bukan sekadar sepetak lahan yang bisa diganti dengan uang. Lahan bagi mereka adalah habitat kehidupan dan warisan masa depan. Wajar ketika dipaksa hengkang, mereka melawan hingga titik darah penghabisan.

Terlebih manfaat pembangunan yang dilakukan sering kali tidak memberi kemaslahatan kepada rakyat banyak. Sebaliknya, malah dampak buruk, baik bagi perekonomian dan kehidupan sosial budaya mereka, maupun bagi lingkungan, seperti menyebabkan kerusakan alam, perubahan iklim, krisis pangan dan air bersih, bencana banjir dan gempa, karhutla, dan sebagainya.

Salah satu kasus yang fenomenal pada 2023 ini adalah kasus perampasan lahan di Pulau Rempang, Kepulauan Riau. Atas nama proyek strategis nasional, penguasa rela menyerahkan nasib rakyat yang tidak berdaya kepada sekelompok kecil pemilik modal rakus yang gila harta. Kasus semacam ini terjadi di mana-mana. Wajar jika ada yang menyimpulkan bahwa para penguasa dalam sistem yang ada sekarang sejatinya hanya menjadi pelayan bagi para pengusaha alias para pemilik modal, bukan pengurus apalagi perisai bagi rakyatnya.

Adapun di bidang sosial, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Dekadensi moral makin hari makin merajalela. Kasus-kasus kriminalitas pun kian menggila. Kekerasan, bunuh diri, narkoba, judi online, tawuran, seks bebas di kalangan remaja, perselingkuhan, korupsi, perilaku menyimpang, dan sejenisnya tidak berhenti menghiasi pemberitaan media massa.

Ini semua menunjukkan, individu-individu rakyat sudah kehilangan ketakwaannya. Struktur keluarga dan masyarakat pun kian rapuh sehingga gagal menjadi benteng pelindung dan penjaga. Adapun negara, jelas-jelas telah gagal mewujudkan kehidupan yang nyaman dan berkah bagi rakyatnya. Hal ini tersebab paradigma kepemimpinan dan aturan-aturan yang diterapkannya sudah jauh dari nilai-nilai ruhiyah, termasuk sistem hukum yang mandul dalam mengeliminasi kerusakan.

Muhasabah

Jika dicermati secara mendalam, semua problematik ini saling berkait satu sama lain. Namun, ujung dari semuanya berakar pada satu sebab, yakni penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal yang menafikan peran Sang Khaliq (agama) dalam kehidupan. Pada saat yang sama, sistem ini memberikan hak membuat hukum pada akal manusia yang lemah dan terbatas, bahkan sangat sarat dengan kepentingan segelintir orang.

Kedurhakaan inilah yang ditengarai memicu kesempitan hidup yang tidak pernah usai. Alam seakan marah karena bangsa ini sudah begitu melewati batas. Tahun pun terus berganti, tetapi cita-cita kesejahteraan hakiki tampak sebatas utopia. Maha Benar Allah dengan firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Dan jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96).

Serta firman-Nya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’.” (QS Thaha: 124-126).

Saat ini, para pemimpin umat yang mayoritas mengaku muslim jelas-jelas telah berani mencampakkan hukum-hukum Allah. Mereka yang berusaha taat, distigma dan difitnah sebagai pelaku teror. Proyek-proyek menjauhkan umat dari ajaran Islam yang benar terus digencarkan, salah satunya dengan pengarusan ide-ide Islam moderat yang sejatinya merupakan pesanan Barat untuk menjauhkan umat dari ideologi Islam, padahal ideologi Islam adalah kunci utama kebangkitan dan kemuliaan umat Islam.

Menyongsong Perubahan

Semua realitas buruk ini tentu harus memicu keinginan kuat untuk melakukan perubahan. Namun, tentu bukan perubahan yang sebagaimana hari ini sedang gencar dinarasikan para pemburu kursi kekuasaan. Mereka berbusa-busa menjual kata perubahan, semata-mata hanya demi menarik sebanyak-banyak dukungan rakyat.

Ya, perubahan yang kita butuhkan bukan sekadar perubahan parsial berupa pergantian rezim setiap lima tahunan, melainkan harus mengarah pada perubahan sistem hidup yang diterapkan, yakni perubahan dari sistem sekuler demokrasi jahiliah yang nyata rusak dan merusak menuju sistem Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.

Bukankah fakta menunjukkan bahwa pergantian orang atau rezim sudah berkali-kali dilakukan, tetapi tidak pernah mengubah keadaan? Itu dikarenakan kerusakan memang bukan sekadar ada pada orang, tetapi ada pada sistem yang diterapkan, yakni sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal yang memang rusak sejak dari asasnya dan melahirkan aturan hidup yang sarat kepentingan.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem batil ini dicampakkan. Umat Islam harus bersegera kembali menerapkan hukum-hukum Allah yang dipastikan akan membawa keberkahan, yakni dengan berjuang menegakkan institusi penerap syariat Islam yang tidak lain adalah sistem Khilafah.

Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum muslim yang akan menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh alam. Sistem inilah yang secara empiris pernah menaungi umat Islam bahkan nonmuslim selama belasan abad. Sepanjang masa itu pula kesejahteraan dan persatuan hakiki terwujud dalam kadar yang tidak pernah ada bandingannya. Dengan demikian, umat Islam pun mampu tampil sebagai umat terbaik yang memimpin peradaban cemerlang sekaligus menebar rahmat ke seluruh alam.

Umat Islam punya potensi besar untuk kembali mulia dengan modal ideologinya. Hanya saja, yang menjadi PR besar adalah bagaimana agar kadar pemikiran umat akan Islam ini tidak parsial dan pergerakannya tidak pragmatis pada satu isu saja. Akan tetapi, kafah dan fokus pada isu besar yakni ikhtiar menegakkan syariat Islam dalam naungan institusi Khilafah.

Untuk bisa demikian, tentu dibutuhkan upaya dakwah yang targetnya membangun kesadaran atas Islam sebagai ideology, yakni dakwah pemikiran yang dilakukan secara berjemaah sebagaimana yang dicontohkan baginda Rasulullah saw., bukan dakwah kekerasan dan dakwah fardiyah yang tidak fokus arah.

Melalui dakwah fikriyah dan jamaiyyah inilah, umat dipahamkan dengan akidah yang lurus, disertai pemahaman tentang konstruksi hukum-hukum Islam sebagai solusi kehidupan. Harapannya, akan tergambar pada diri umat bahwa tidak ada yang bisa membawa mereka pada kesejahteraan hakiki dan keberkahan hidup selain dengan menerapkan hukum-hukum Islam di bawah naungan institusi Khilafah.

Kesadaran inilah yang kelak akan menggerakkan umat untuk bersama menuntut perubahan yang lebih besar dan lebih mendasar, yakni dengan menumbangkan sistem sekuler demokrasi yang kufur dan menggantinya dengan sistem Khilafah Islam.

Khatimah

Inilah visi dan langkah perubahan yang dicontohkan baginda Rasulullah saw. yang sudah sepatutnya menjadi visi dan langkah perjuangan kita sekarang. Beliau bersama para sahabatnya berjuang di tengah umat untuk mengganti sistem kufur jahiliah hingga tegak sistem politik Islam di Madinah al-Munawwarah yang dipenuhi dengan keberkahan dan menjadi titik tonggak peradaban Islam cemerlang. [MNews/SNA]

Share

2 thoughts on “[Editorial] 2024, Momentum Perubahan Hakiki (?)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *