[Editorial] Antara Terorisme, Tahun Politik, dan Jihad Palestina

[Editorial] Antara Terorisme, Tahun Politik, dan Jihad Palestina

Muslimah News, EDITORIAL — Sepanjang 2023, Densus 88 AT Polri telah melakukan penegakan hukum terhadap tersangka terorisme dan pendanaannya sebanyak 142 orang. Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan pada acara konferensi pers terkait pengungkapan jaringan terorisme Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dan Negara Islam Indonesia (NII) di Bareskrim Polri, Rabu (20-12-2023).

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengimbau agar masyarakat turut berperan aktif dalam mencegah penyebaran terorisme, salah satu caranya dengan melaporkan kepada aparat keamanan jika mengetahui ada kegiatan yang mengarah pada tindak pidana terorisme.

Sekuel Berulang

Setiap momen Natal dan tahun baru (Nataru), isu terorisme memang dipastikan akan selalu muncul ke permukaan. Densus 88 mengeklaim, sepanjang Desember ini telah menangkap 18 orang terduga teroris di berbagai daerah. Penangkapan tersebut dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya aksi terorisme di Indonesia, terutama agar acara Nataru bisa berjalan lancar.

Menariknya, setiap isu terorisme muncul, bisa dipastikan pula yang menjadi objek penangkapan adalah orang Islam. Latar belakang mereka pun tidak jauh dari anggota atau aktivis gerakan Islam yang menginginkan berdirinya negara Islam melalui aksi-aksi kekerasan. Akibatnya, muncul kesan bahwa terorisme itu identik dengan perjuangan umat Islam.

Hanya saja, masyarakat sendiri tampaknya sudah tidak terlalu peduli dengan munculnya narasi terorisme ini. Mereka cenderung berpandangan bahwa isu ini hanyalah “drama” yang diulang-ulang untuk menciptakan kondisi tertentu sesuai kepentingan kekuasaan. Sebagian lagi bahkan menuding bahwa di balik isu terorisme yang berulang, ada aroma proyek tahunan yang dilakukan demi kucuran cuan, terlebih tahun ini adalah tahun politik yang sarat dengan berbagai kepentingan.

Dalam skala lokal, kebutuhan mencitraburukkan Islam dan kelompok perjuangan Islam tentu sangat relate dengan munculnya isu politik identitas yang terus digaungkan di tengah suasana persaingan merebut kursi kekuasaan. Maklum, sebagian umat Islam masih concern dengan identitas keagamaan dan keberadaan mereka menjadi ceruk pasar pemilih yang menggiurkan bagi parpol atau kelompok pemburu kekuasaan. Sedangkan bagi sebagian kalangan lainnya, realitas ini justru memunculkan ketakutan yang sangat besar.

Adapun pada skala global, isu ini pun masih relate dengan gagasan kebangkitan Islam yang terus menjadi momok bagi negara-negara besar. Terlebih, qadarullah, gagasan ini sedang mendapatkan momentum baru untuk kembali digaungkan. Krisis Palestina kembali bergolak dan berhasil membungkam narasi Barat soal HAM, nasionalisme, konsep negara bangsa, jihad dan terorisme, radikalisme dan fundamentalisme, serta narasi-narasi lain yang sering dipakai untuk menyerang dan atau menstigma Islam. 

Hal yang terjadi di Palestina memang benar-benar telah membuka mata dunia untuk melihat lebih dalam soal Islam dan umatnya. Rakyat dan para pejuang Palestina telah berhasil menunjukkan wajah Islam yang begitu menakjubkan di satu sisi, sekaligus menelanjangi peradaban Barat yang buruk dan tidak adil terhadap umat Islam di sisi yang lain. Kekukuhan iman, keindahan adab, bahkan hakikat dan praktik jihad telah menunjukkan siapa yang layak dituduh sebagai teroris sebenarnya.

Krisis Palestina bahkan telah menjadi jalan bagai warga masyarakat Barat untuk mengenal Islam, sekaligus melihat keajaiban dan kebenaran Al-Qur’an sebagai sumber spirit dan aturan kehidupan. Hingga tidak sedikit di antara mereka akhirnya berbondong-bondong masuk ke dalam pangkuan Islam dan meyakini bahwa masa depan peradaban akan lebih baik jika berada di tangan umat Islam.

Mengadang Kebangkitan Islam

Tentu saja, bagi negara-negara Barat, khususnya AS dan tentakelnya di dunia Islam, realitas ini ibarat lonceng kematian. Mereka tidak ingin gagasan kebangkitan Islam kian mendapat dukungan yang makin luas dan mengancam hegemoni yang sudah mereka bangun dengan penuh pengorbanan. Mereka pun tidak ingin cengkeraman atas dunia Islam beserta kekayaan mereka dan loyalitas mutlak para penguasanya, hilang begitu saja hanya karena mereka kendor dalam mengawal peperangan panjang yang sudah mereka mulai dengan sebutan perang global melawan teror atau global war on terrorism (GWoT).

Apalagi mereka melihat, gerakan perjuangan penegakan kembali institusi politik Islam global (Khilafah) nyatanya tidak pernah padam, sekalipun berbagai fitnah, monsterisasi, penyesatan politik dan pemikiran terus mereka lancarkan dalam perang ini. Sedangkan gerakan inilah yang sejatinya mereka takuti dan menjadi inti dari proyek GWoT yang digagas negara Barat di bawah kepemimpinan Amerika pada era 2000-an. Ini karena mereka paham ketika ideologi sosialisme komunisme runtuh sejalan dengan bubarnya Uni Soviet pada 1991, tidak ada lagi ancaman ideologis bagi kapitalisme, selain Islam dan gerakan (penegakan kembali) Khilafah.

Hal ini salah satunya terkonfirmasi dari pernyataan Henry Kissinger, Asisten Presiden AS untuk urusan Keamanan Nasional 1969—1975. Dalam sebuah wawancara pada 2004 ia menyatakan, “Apa yang kita sebut sebagai terorisme di Amerika Serikat, sebenarnya adalah pemberontakan Islam radikal terhadap dunia sekuler dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam kekhalifahan.”

Dengan kata lain, terminologi “terorisme” memang sengaja disematkan untuk menstigma berbagai gerakan yang melawan hegemoni sistem sekuler kapitalisme neoliberal, khususnya gerakan-gerakan yang mengusung visi perjuangan menegakkan kembali sistem kekhalifahan pada era kekinian.

Itulah sebabnya, meski hingga sekarang ide Khilafah belum menjadi arus utama perjuangan mayoritas umat Islam, tetapi Barat melihat ide ini menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap ringan. Prospek keberhasilan perjuangannya pun terhitung sangat besar. Sampai-sampai berbagai analisis atau riset mereka lakukan dan menghasilkan berbagai rekomendasi untuk melakukan pengadangan.

Oleh karenanya, kita juga melihat, selain melakukan pendekatan hard power seperti pemaksaan negara-negara di dunia untuk mendukung GWoT tadi, AS melalui lembaga-lembaga internasional juga intens menggunakan strategi soft power untuk menjauhkan umat dari pemahaman yang lurus tentang Islam. Salah satunya melalui pengarusan gagasan moderasi Islam (menyelaraskan Islam dengan ide-ide Barat) dan berupaya membangun jaringan muslim moderat dalam skala lokal maupun global. Strategi ini merupakan hasil rekomendasi lembaga RAND Corporation kepada pemerintahan AS yang kini sedang running di seluruh dunia Islam, bahkan masuk ke dalam rencana pembangunan negara mereka yang didukung pendanaan yang cukup besar.

Mirisnya, Indonesia sendiri termasuk negara yang terdepan memperjuangkan agenda Barat ini. Bahkan, pada 20—22 Desember 2023 ini, pemerintah Indonesia yang direpresentasi oleh Kemenag dan bekerja sama dengan PBNU, berhasil menyelenggarakan Konferensi Moderasi Beragama Asia-Afrika dan Amerika Latin (KMB-AAA) di Gedung Asia Afrika Bandung dengan tajuk “Religion and Humanity”. Konferensi ini digadang-gadang sebagai momentum penting dalam memperkuat moderasi beragama secara global di tengah berbagai konflik, termasuk krisis Palestina.

Jangan Terjebak!

Masifnya narasi tentang bahaya terorisme di satu sisi dan urgensi memoderasi Islam di sisi lain, tentu menjadi PR tersendiri bagi umat Islam. Ini mengingat persepsi umat pada akhirnya terus dicekoki dengan kesimpulan yang salah bahwa problem utama mereka adalah aksi-aksi teror yang lahir akibat pemahaman agama Islam yang cenderung radikal. Lalu pada saat yang sama, mereka pun dicekoki dengan kesimpulan bahwa mereka harus memusuhi gerakan-gerakan Islam dan merevisi pemahaman Islam yang dipandang radikal, menjadi Islam yang bisa menoleransi kebatilan.

Nyatanya, tidak ada kaitan langsung antara aksi-aksi teror yang nyatanya “hanya” satu dua kasus dan berbagai penangkapan yang bahkan sering kali tanpa kasus, dengan berbagai problem kehidupan yang nyata-nyata mereka rasakan. Misalnya, hilangnya kedaulatan negara, sulitnya mewujudkan ukhuah umat Islam dunia, maraknya problem kemiskinan dan lingkungan, merebaknya problem dekadensi moral dan perpecahan atau konflik horizontal, juga munculnya instabilitas politik lokal maupun global, termasuk penjajahan Zionis atas Palestina, ataupun kasus Muslim Uighur dan Rohingya, dan sebagainya.

Di sinilah urgensi memahamkan umat bahwa bahaya yang mengancam mereka sejatinya tidak datang dari Islam, melainkan akibat tegaknya sistem kapitalisme global yang eksploitatif, serta hadirnya para penguasa antek yang menyukseskan agenda penjajahan negara-negara pengusung kapitalisme global.

Umat pun semestinya paham bahwa Islamlah justru satu-satunya obat dan jalan keselamatan. Ini karena Islam adalah sistem hidup yang tegak di atas kebenaran dan aturan-aturannya menyolusi seluruh problem kehidupan hingga menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Sudah semestinya mereka tidak terjebak propaganda melawan Islam, termasuk dengan munculnya narasi terorisme yang terus ditujukan untuk memojokkan ajaran-ajaran Islam dan para pejuangnya. Juga narasi lain yang di-setting untuk menjauhkan umat dari keinginan kembali hidup dalam sistem Islam, sebagaimana mainstreaming gagasan moderasi Islam.

Tegaknya sistem Islam sudah semestinya menjadi visi dan arah perubahan yang diperjuangkan umat Islam hari ini. Hanya saja, Islam tidak mungkin tegak dengan jalan perubahan sekuler demokrasi yang justru disediakan untuk menjegal Islam.

Islam pun tidak mungkin tegak melalui jalan kekerasan, seperti aksi-aksi teror yang justru diciptakan untuk menstigma perjuangan Islam karena terorisme jelas bukan dari Islam dan bukan jalan menegakkan Islam. Kemunculannya justru merupakan fitnah keji demi mengadang kebangkitan Islam sekaligus melanggengkan agenda penjajahan.

Satu-satunya jalan menegakkan Islam adalah mengikuti minhaj dakwah Rasulullah (saw.). Jalan inilah yang harus ditempuh oleh umat Islam agar segera beroleh kemenangan.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108) [MNews/SNA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *