Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Metode ilmiah, walaupun benar dalam membahas materi atau benda terindra dan membawa pada berbagai konklusi yang baik dalam aspek-aspek ilmu pengetahuan material—yang lebih membuktikan pernyataan ini adalah adanya kemajuan sains dan teknologi yang begitu pesat di Barat karena penggunaan metode ini—tetapi metode ini tidak layak untuk dijadikan asas berpikir atau memikirkan segala sesuatu seluruhnya. Berdasarkan hal ini metode ini seharusnya tidak disebut metode karena metode memberikan arti sesuatu terbukti kelayakannya untuk segala sesuatu. Keberadaan metode ini seharusnya tidak menjadi asas tampak dari dua aspek:
1. Tidak mungkin melakukan metode ini kecuali dengan adanya informasi awal walau hanya informasi pokok. Adapun pernyataan mereka akan pentingnya menghilangkan informasi awal, maka maksudnya adalah ketiadaan pendapat-pendapat terdahulu, bukannya informasi. Karena realitas berpikir itu bagaimana pun jenisnya, tidak mungkin dilakukan tanpa adanya informasi awal, walau hanya sedikit. Misalnya tidak mungkin sebuah eksperimen dilakukan untuk memahami realitas air, jika sang peneliti tidak mengetahui bahwa yang dibahasnya itu air dan inilah yang disebut informasi awal itu. Begitu pula dalam berbagai hal lainnya.
Adapun berkaitan dengan pentingnya menghilangkan pendapat-pendapat terdahulu selama pembahasan atau penelitian, inilah yang disebut dengan objektivitas atau tidak memihak atau kemurnian dalam penelitian. Ketika seorang peneliti dikuasai oleh opini atau pendapat terdahulu seputar objek penelitiannya, maka hal itu akan mengakibatkan keberpihakan dia pada dalil-dalil atau bukti yang menguatkan pendapat tersebut dan menjauhi segala bukti yang bertentangan dengan pendapat terdahulu tersebut selama penelitiannya.
Hal ini telah dilakukan kalangan komunis selama mereka membahas realitas berpikir, ketika mereka menjadikan ide mereka—tentang pentingnya ketiadaan agama atau pencipta yang berkuasa—memengaruhi penelitian mereka sehingga menghilangkan objektivitas, ketidakberpihakan, dan kemurnian dari penelitiannya sehingga membawa mereka pada kesesatan.
Oleh karena itu, butuhnya penelitian ilmiah atau apa yang disebut dengan metode ilmiah akan informasi awal yang diambil dari selainnya dan memang bukan menjadi bagian darinya tidak memperkenankan metode tersebut sebagai metode—kecuali secara majazi—karena ia bukanlah asas berpikir.
Sesungguhnya penelitian ilmiah menetapkan bahwa segala sesuatu yang tidak tersentuh secara materiel itu tidak ada wujudnya, karena tidak mungkin meletakkannya sebagai objek eksperimen. Dengan demikian, metode ilmiah ini mengingkari segala hal yang gaib, bahkan menafikan politik, mantik, sejarah, dan pemikiran, karena semua itu sebenarnya tidak bisa disentuh oleh tangan dan tidak bisa digunakan dalam eksperimen karena semua itu tidak terbukti secara ilmiah. Ini merupakan sebuah kekeliruan yang amat keji dan melampaui batas, karena materi yang terindra tidaklah kecuali hanya sebuah cabang dari berbagai cabang pengetahun, dan keberadaan cabang-cabang lain telah dibuktikan secara pasti.
Oleh karena itu, penelitian ilmiah tidak bisa disebut sebagai metode berpikir, ia hanya menjadi uslub (cara) dari berbagai cara berpikir yang ada yang layak untuk meneliti benda materiel yang terindra saja. Selain apa yang telah kami paparkan ini, sesungguhnya berbagai konklusi yang bisa diperoleh dari penelitian yang disebut dengan metode ilmiah merupakan konklusi yang tidak pasti. Seperti tampak dalam pernyataan mereka bahwa al-dzarrah (atom) merupakan bagian terkecil dari materi, kemudian pendapat ini berubah setelah ditemukannya beberapa unsur pembentuk atom sehingga proton dan elektron adalah yang menjadi bagian terkecil materi. Pendapat mereka yang terdahulu itu bahwa materi tidak akan lenyap musnah, kemudian pendapat tersebut berubah menjadi, mungkin saja materi itu bisa lenyap.
Berbagai konklusi dan simpulan yang tidak pasti inilah yang menjadi penyebab tidak layaknya metode ilmiah menjadi asas berpikir. Oleh karena itu, kita wajib untuk membatasi penelitian ilmiah di bidangnya saja, tidak lebih sehingga membawa pada kebaikan manusia, adapun bila melebihi batasannya dan menyebutnya sebagai metode ilmiah, maka ia adalah yang menjadi penjamin akan hancurnya alam ini.
Adapun berkaitan dengan logika silogisme (mantik), maka paparan berikut cukup memperlihatkan kerusakannya:
– Ketergantungannya yang menyeluruh—dalam kondisinya yang benar—pada metode akliah (rasional) ketika ia bergantung pada perkara-perkara yang disyaratkan agar terindra yang dibenarkan sebelumnya, dan inilah yang disebut dengan postulat/aksioma sehingga jika postulat tersebut pada dasarnya bisa dicapai oleh akal, apa urgensi dari mantik ini kemudian?
– Adanya potensi kebohongan atau kesalahan dalam penelitian manthiqiy (logika silogisme), baik dalam realitas postulat, atau kaitannya dengan yang lain sehingga tidak mungkin membuktikan ketidaksalahannya kecuali dengan metode ilmiah, kalau begitu, apalah arti penelitian manthiqiy (logika silogisme) ini?
Contoh pertama: Setiap kayu bisa terbakar (terbukti secara indrawi), sabak (papan kecil untuk menulis) berasal dari kayu sehingga sabak ini bisa terbakar. (Benar karena benarnya premis-premis dan benarnya hubungan).
Contoh kedua:
Amerika negara yang bangkit, Amerika maju dalam bidang ekonominya sehingga negara yang maju ekonominya itu bisa bangkit (salah karena bertentangan dengan realitas, akibat adanya kesalahan). [MNews/Rgl]
Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
