Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Dengan melihat banyaknya jumlah ayat dalam Al-Qur’an, menunjukkan dengan jelas bahwa Al-Qur’an dalam menggugurkan dan mengabsahkan berbagai perkara, serta mendorong manusia untuk menggunakan akalnya, tidak menggunakan selain metode yang benar dalam berpikir yakni metode akliah (rasional). Kita temukan dalam ayat-ayat berikut:
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ
يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”(QS Ath-Thariq: 5—7).
وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.”(QS Yasin: 37).
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ
“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”(QS Al-Hajj: 73).
Ayat-ayat ini dan ratusan ayat lainnya memerintahkan manusia untuk menggunakan alat indra yang berbeda-beda untuk mengindra berbagai realitas, kemudian hasil pengindraan itu dibawa ke otak dengan dikaitkan pada informasi awal agar bisa menghasilkan sebuah hukum dan kesimpulan yang benar. Seandainya kita membaca ayat apa pun di dalam Al-Qur’an, niscaya ayat- ayat tersebut mengandung empat syarat proses berpikir. Contohnya firman Allah Swt.,
وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS Yasin: 37).
Allah Swt. menyatakan bahwa pergantian siang menjadi malam menjadi bukti akan keberadaan Al-Khaliq Yang Maha Mengatur.
Dengan membahas seluruh kesesuaian ayat Al-Qur’an atas empat syarat proses berpikir, kita menemukan persesuaian yang sangat jelas, yakni:
-Realitas
Pergantian siang menjadi malam, selanjutnya datangnya siang dan perginya malam dalam gerak yang terus menerus dan berkelanjutan tanpa ada yang terlewat, yang menjadikan alam semesta memiliki dua penampilan yang berbeda, yaitu alam semesta ketika malam tiba akan tampak gelap, menakutkan, dan sunyi senyap, berbeda dengan kala siang yang tampak terang benderang, penuh lalu lalang, dan ramai adanya.
– Menyaksikan realitas ini dengan indra penglihatan (pengindraan).
– Otak yang layak untuk mengikat dan mengaitkan informasi. Otak ini ada pada seluruh orang yang berakal.
– Informasi awal
Menjadi sebuah kebenaran yang dipahami semua orang bahwa segala sesuatu yang berubah itu bersifat terbatas, yakni bermula dan akan berakhir, sedangkan setiap yang terbatas itu berarti makhluk yang diciptakan, karena ia membutuhkan pada siapa yang menetapkan permulaannya, dan tidak mampu melepaskan diri dari kata akhir yang pasti datang. Mengaitkan antara informasi awal yakni keterbatasan sesuatu yang berubah sehingga ia menjadi makhluk dari satu sisi dengan realitas alam semesta yang tergambar dalam proses ini yang berubah juga dari sisi lain akan menghasilkan sebuah kesimpulan atas realitas ini bahwa alam semesta ini makhluk yang diciptakan Al-Khaliq.
Inilah metode Islam dalam berpikir dan menjadi satu-satunya metode yang benar. Kami telah menjelaskan kerusakan konsep sosialisme tentang akal, konsep yang menjadikan pengindraan sebagai asas proses berpikir, dan telah kami jelaskan pula kerusakan konsep kapitalisme tentang akal sebagaimana dalam teori empirisme dan teori intuisi.
Ketika kita meneliti apa yang diduga sebagai metode-metode berpikir, kita hanya mendapati tiga metode utama, yakni metode akliah (rasionalisme), metode ilmiah (saintisme), dan metode mantik (logika silogisme).
Berkaitan dengan apa yang disebut sebagai metode ilmiah dalam berpikir, yakni metode yang diagung-agungkan oleh dua ideologi yakni kapitalisme dan sosialisme, maka realitasnya menunjukkan bahwa metode ini tidak layak untuk dijadikan asas berpikir atau memikirkan segala sesuatu. Metode ini hanya cocok untuk memikirkan materi atau benda yang terindra saja.
Adapun berkaitan dengan ide dan pengetahuan yang nonmaterial, maka metode ini tidak layak dan tidak bisa dijadikan asas metode berpikir. Untuk menjelaskan hal ini adalah bahwasanya metode ilmiah pada dasarnya hanya untuk menundukkan materi atau sesuatu yang dibahas pada kondisi selain kondisi alaminya, yakni menggunakannya untuk percobaan atau eksperimen, kemudian diteliti sepanjang eksperimen tersebut lalu ditariklah kesimpulan dari data dan informasi yang ada. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 2/2
Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
