Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Iman kepada hari kiamat dan hari kebangkitan, dalil-dalilnya benar-benar tak terbatas. Ia dinyatakan dalam ratusan ayat karena pembahasan ini jauh dari gambaran mereka secara materi, juga karena mereka menapak di bumi. Firman-Nya,
اِنْ هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْنَ
“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.” (QS Al-Mu’minûn [23]: 37).
Hal-hal yang mengguncang akal (intelektualitas) mereka dan mengusik benak mereka adalah bagaimana mereka akan dibangkitkan setelah mati dan bagaimana tulang-tulang yang sudah berantakan itu dihidupkan kembali? Sanggahan terhadap mereka itu dinyatakan dengan berbagai gaya yang berbeda, ayat-ayat yang beragam dan secara akal (intelektual) luar biasa mencengangkan, serta dengan berbagai upaya pendekatan yang akan mendorong akal mereka untuk berpikir.
Dengan demikian, mereka bisa menerima ide ini dan mengimaninya, selagi yang memberitahukannya adalah pencipta mereka yang pertama, Zat yang Maha Menciptakan seluruh wujud, tanpa adanya persamaan dan karena ikut-ikutan. Siapa saja yang bertanya mengenai kembalinya ciptaan dan kebangkitan setelah kematian, serta terheran-heran dengannya, mengapa tidak heran terhadap proses penciptaan yang pertama? Sedangkan mengembalikan jauh lebih mudah dibandingkan menciptakan. Oleh karenanya, kita menemukan Al-Qur’an menyanggah masalah ini dengan panjang lebar; sekali waktu sangat menusuk perasaan, dan berkali-kali menggugah akal,
اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ
قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba menjadi penantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'” (QS Yasin [36]: 77-79).
hingga akhir surat. Bagaimana Al-Qur’an meminta orang yang bertanya-tanya untuk memikirkan pertanyannya, karena mungkin dia lupa akan dirinya, bagaimana dia ada? Tibalah pada pertanyaan, bagaimana dia akan dikembalikan?
Perdebatan yang panjang lebar adalah perdebatan dalam hal ini. Adapun yang paling mengagumkan adalah keterangan yang terdapat dalam surah Qaf,
بَلْ عَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا شَيْءٌ عَجِيْبٌ
ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۚ ذٰلِكَ رَجْعٌۢ بَعِيْدٌ
“Mereka tidak menerimanya bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kalir, ‘Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.'” (QS Qaf [50]: 2-3).
Setelah Al-Qur’an menyanggah mereka di seputar persoalan ini dengan sanggahan rasional, serta menarik perhatian mereka untuk mengamati apa yang diciptakan oleh Allah sejak awal mula, seperti langit, bumi, turunnya hujan, tumbuhnya tanaman dan pepohonan, lalu bagaimana Dia menghidupkan bumi tersebut setelah mati? Semuanya itu adalah hal-hal yang sering kali tampak di sekitar mereka. Setelah itu, ia menyatakan,
كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ
“Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaf [50]: 11)
Kemudian ia menyebut mereka sebagaimana orang kafir yang lain, yang buta matanya. Lalu timbul pertanyaan,
اَفَعَيِيْنَا بِالْخَلْقِ الْاَوَّلِۗ بَلْ هُمْ فِيْ لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيْدٍ
“Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.”(QS Qaf [50]: 15).
Dengan cara yang sama, mereka juga diberi banyak contoh mengenai masalah ini. Antara lain, sebagaimana yang dinyatakan dalam surah Al-Kahfi,
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرً
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagaimana air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka meniadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Kahfi [18]: 45). [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 2/2
Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an
