[Ath-Thariq] Konsep Islam tentang Tujuan Hidup (Bagian 2/2)

[Ath-Thariq] Konsep Islam tentang Tujuan Hidup (Bagian 2/2)

Penulis: Syekh Ahmad Athiyat

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Betapapun, Islam tidak menghendaki dunia—dengan perhiasannya yang tidak kekal dan kehinaannya di sisi Allah Swt. yang Rasul menyifatinya sebagai sesuatu yang tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sayap seekor nyamuk—dijadikan tujuan akhir seorang muslim atau maksud segala cita dan ambisinya. Oleh karenanya, di dalam Islam, dunia ini tiada lain hanya semata titian tangga dan sekadar jalan pengantar menuju akhirat.

Pada kaum muslim generasi pertama tampak sikap yang tidak terlalu mementingkan kekayaan dunia dan tidak memedulikan kehilangannya. Mereka menjadi umat yang paling bangkit dan paling maju, serta memiliki ikatan kasih sayang serta persaudaraan yang sangat kuat tak berbanding. Semua ini karena komitmen mereka akan tujuan yang telah ditetapkan oleh Islam sebagai harapan yang mereka upayakan dengan segenap kekuatan agar menjadi kenyataaan dan deminya mereka mengorbankan segala sesuatu.

Allah Swt. berfirman,

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah: 24).

Itulah tujuan hidup seorang muslim, yakni keridaan Allah Swt. sehingga kenikmatan, perhiasan, dan gemerlap dunia bagi seorang muslim dianggap semata jalan pengantar, bukan sebagai tujuan akhir. Begitu pula posisi dunia di hadapan masyarakat yang menjadi umat pertama dan utama di dunia ini, yakni masyarakat yang terlahir dari Islam dan tujuan yang ditetapkannya.

Oleh karena itu, seseorang yang mengimani ideologi Islam ini harus menjadikan rida Allah sebagai tujuannya, yakni dengan menetapi segala perintah dan larangan Allah. Sedangkan sikap sebagian besar manusia yang menjadikan terpenuhinya kenikmatan ragawi sebanyak mungkin sebagai tujuan mereka dan faktor yang membahagiakan mereka, maka hal itu bertentangan dengan Islam dan realitas manusia. Mengapa? Penjelasan yang lalu cukup menjelaskan sebab pertentangannya dengan Islam.

Sedangkan bila ditilik dari segi pertentangannya dengan realitas manusia, bisa diperhatikan bahwasanya seesorang yang menjadikan tujuan hidup dan kebahagiaannya hanya terbatas kenikmatan ragawi, maka segala perbuatan dan daya upayanya hanya dicurahkan untuk mendapatkan tujuan itu saja, yakni dengan menggunakan berbagai cara agar bisa meraihnya sebagai orang yang terengah-engah di belakang harta, status, kedudukan, dan sebagainya.

Apa yang terjadi kemudian adalah salah satu dari dua kemungkinan ini. Kemungkinan pertama, orang tersebut bisa mendapatkan kesenangan dan kenikmatan yang diinginkannya sehingga dengan diperolehnya segala yang dibutuhkan, baik uang, sawah ladang, dan sebagainya, dia dihinggapi kejemuan dan rasa bosan karena tidak tersisa sesuatu pun yang harus dijadikan tujuan hidupnya. Dia bisa mendapatkan dan memperoleh segala yang diinginkan, dan tidak tersisa maksud dan tujuan yang harus diupayakan sehingga pilihan di hadapannya hanya tinggal dua perkara, pertama bunuh diri, dan kesuraman akibatnya begitu jelas, atau menciptakan cara-cara baru dalam memperoleh kenikmatan ragawi, berbagai akibat dari langkah ini jelas tampak di pelupuk mata dalam gerakan kaum hippie, Bettles, Al-Khanafis, dan sebagainya, yang membasahi dahi kemanusiaan karena meluncur ke jurang ketololan dan kebodohan yang paling bawah, serta turun ke derajat binatang, bahkan bisa jadi lebih rendah.

Adapun kemungkinan kedua adalah bahwa orang tersebut tidak sampai pada tujuannya, dan terus saja terengah-engah mengejar pengantar kesenangan tanpa ada satu pun yang ia dapatkan. Ia pun menghadapi hidupnya dengan pesimis, penuh keluh kesah, risau, gelisah, dan penyesalan. Ini kondisi mayoritas mereka yang meyakini kenikmatan ragawi sebagai tujuan hidup dan simbol kebahagiaan, padahal sebenarnya bukti yang terindra menunjukkan hakikat dua golongan ini yang mereka tidak memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman.

Realitas masyarakat Barat, bahkan sebagian besar masyarakat negeri-negeri Islam, menunjukkan dengan sangat jelas ketidakberuntungan individu-individu yang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan, dan kehancuran masyarakat yang salah satu unsur pembentuknya adalah individu-individu tersebut. Maha Benar Allah Swt. yang telah berfirman,

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman. Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’ Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (TQS Thaha: 124—127). [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *