Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KELUARGA — Salah satu keluarga yang disebut di dalam Al-Qur’an ialah keluarga Imran yang dinamai dengan surah Ali Imran. Ini artinya keluarga Imran atau Ali Imran memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah Taala. Sangat sedikit nama seseorang atau nama keluarga yang tercantum dalam Al-Qur’an, selain para nabi dan Rasul. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Ketika Allah Swt. menyebut nama mereka dan diabadikan menjadi nama surah dalam Al-Qur’an, tentu ia memiliki keistimewaan. Apakah keistimewaan keluarga Ali Imran? Bagaimana keluarga muslim bisa mengambil pelajaran dari keluarga mulia ini?
Keistimewaan Keluarga Imran
Imran bukanlah sosok nabi dan Rasul. Namun, ia adalah orang saleh yang namanya tertulis secara abadi di dalam Kitab Suci. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa posisi keluarga Imran begitu mulia, disejajarkan dengan keluarga Ibrahim yang dinilai sebagai keluarga yang melebihi segala umat pada masanya. Ini sebagaimana firman Allah Swt.,
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ * ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa mereka masing-masing). (Sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Ali Imran: 33–-34).
Ia adalah Imran bin Matsan bin Al-Azar bin Al-Yud. Ia merupakan keturunan Nabi Sulaiman bin Nabi Daud as.. Keluarga Imran memiliki cukup banyak anggota. Beberapa di antaranya masyhur karena namanya disebutkan di dalam Al-Qur’an atau hadis Nabi Muhammad saw., yakni istrinya, anak dan cucunya, serta anggota keluarga lainnya.
Istri Imran ialah Hannah binti Faquda yang dikenal sebagai perempuan salihah pada masanya. Bersamanya, Imran memiliki anak perempuan. Yang pertama adalah seorang putri bernama Asy-ya’. Perempuan ini kemudian menikah dengan Nabi Zakaria as., lalu dikaruniai seorang putra, yakni Nabi Yahya as. yang menjadi utusan Allah Taala. Anak keduanya adalah Maryam. Namanya pun diabadikan dalam salah satu surah Al-Qur’an. Ia adalah ibunda yang melahirkan Nabi Isa as. dan Rasulullah saw. pun memuliakannya. Semisal sabdanya dalam sebuah hadis, “Ada banyak lelaki yang sempurna. Tidak ada perempuan yang sempurna selain Maryam binti Imran dan Asiyah istri Firaun.” (HR Bukhari dan Muslim).
Al-Qur’an pun mengisahkan proses persalinan Maryam. Orang-orang Yahudi lantas menudingnya sebagai pelaku zina. Atas petunjuk Allah Swt., perempuan mulia ini berdiam diri dan semata-mata mengisyaratkan mereka agar berbicara langsung kepada bayi yang dilahirkannya. “Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)-nya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’ Dia (Isa) berkata, ‘Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’” (QS Maryam: 29--33).
Sosok berikutnya dari keluarga Imran adalah Nabi Isa as., cucu Imran. Allah Swt. menjadikan putra Maryam itu sebagai Nabi dan Rasul-Nya yang diutus kepada Bani Israil untuk mengajak mereka agar teguh bertauhid. “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.” (QS An-Nisa: 171).
Demikianlah gambaran keluarga Imran yang diabadikan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari keluarga mulia ini.
Pelajaran bagi Keluarga Muslim
Dari beberapa penjelasan sebelumnya, sangat jelas bahwa keluarga Imran memang sangat istimewa. Mereka diberikan keistimewaan oleh Allah Swt. agar kita bisa mengambil ibrah. Berikut beberapa ibrah yang bisa keluarga muslim ambil.
1. Keluarga Imran adalah keluarga yang bersikap dan berperilaku mulia.
Keberhasilan keluarga Imran mendidik anggota keluarganya dapat dilihat pada sikap dan karakteristik anggota keluarganya. Keluarga Imran adalah keluarga yang bersikap dan berperilaku mulia. Hal ini diketahui oleh masyarakat pada masa itu. Allah Swt. berfirman,
يٰٓاُخْتَ هٰرُوْنَ مَا كَانَ اَبُوْكِ امْرَاَ سَوْءٍ وَّمَا كَانَتْ اُمُّكِ بَغِيًّا ۖ
“Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangainya dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.” (QS Maryam: 28).
2. Sosok ibu yang benar-benar menyiapkan anak-anaknya sejak dalam kandungan.
Betapa peran seorang istri yang kelak menjadi seorang ibu adalah peran sentral. Menyiapkan seorang ibu dengan baik berarti menyiapkan satu generasi istimewa. Sebaliknya, gagal dan mengabaikan penyiapan seorang perempuan yang kelak menjadi istri dan ibu merupakan kegagalan lahirnya generasi yang baik.
Istri Imran dikenal sebagai perempuan salihah pada masanya. Ia juga sangat taat beribadah. Upayanya mempersiapkan anak keturunannya dengan sangat baik diabadikan dalam Al-Qur’an di surah Ali Imran ayat 35,
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرَانَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Kesalehan istri Imran tampak jelas dalam ayat ini. Beliau terus memohon dan bernazar pada Allah agar anaknya itu menjadi hamba terpilih, taat, mengabdi, dan mendapatkan bimbingan serta penjagaan dari Allah. Doa dan harapan seorang ibu sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang dan jiwa anak.
Dalam ayat ini dibahas tentang kehamilan. Sebuah fase yang sangat penting. Mengabaikannya berarti kehilangan sebuah fase penting. Ayat ini mengajarkan kepada setiap keluarga muslim agar para istri banyak menyematkan harapan mulia bagi janinnya, dengan harapan semulia istri Imron. Demikian pula banyak mendoakan bagi calon jabang bayi agar kelak menjadi orang yang saleh dan mulia.
3. Pantang menyerah dalam berharap kepada Allah Taala.
Dari Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 35 ini, kita dapat meneladan seorang istri yang pantang menyerah dalam berharap kepada Allah. Hannah terus berdoa kepada Allah karena tidak kunjung dikaruniai anak laki-laki sampai saat itu ia telah menopause. Suatu hari tatkala bernaung di bawah pohon, ia melihat induk burung yang memberi makan anaknya. Keinginan untuk memiliki anak laki-laki kembali muncul. Lantas, ia memohon pada Allah agar keinginannya diijabah. Seketika saja Allah mengabulkannya. Hannah dapat kembali haid dan memberitakan itu pada suaminya, Imran. Selang beberapa lama, ia hamil. Hanya saja bayi yang dilahirkannya adalah perempuan.
Ternyata Allah berkehendak lain. Hannah melahirkan seorang anak perempuan. Oleh karenanya, terdapat rasa gelisah di dalam diri Hannah. Akan tapi, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Taala. Ini sebagaimana diabadikan dalam QS Ali Imran ayat 36,
“Maka ketika melahirkannya, ia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.‘ Padahal Allah lebih tahu apa yang ia (Hannah) lahirkan dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ‘Aku memberinya nama Maryam dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.‘”
4. Memberikan nama yang baik dan memilihkan pembimbing yang baik.
Saat bayi yang dikandungnya telah lahir, Hannah memberikan nama sesuai perencanaan dan harapannya bersama suaminya, yakni agar menjadi manusia yang taat dan mendekatkan diri kepada Allah. Keduanya memberikan nama terbaik bagi putrinya, yakni Maryam, disertai doa agar terhindar dari godaan setan.
Selanjutnya, keduanya mempersiapkan dan mempercayakan pembimbingan putrinya kepada orang tepercaya. Untuk mewujudkan generasi yang mulia, keluarga Imran memilihkan guru dan pembimbing yang pintar, bijak, dan saleh bagi putrinya itu. Imran dan Hannah meminta Nabi Zakaria agar membimbing Maryam menjadi manusia yang dekat dengan Allah Taala.
Khatimah
Keluarga Imran memang bukan Nabi dan Rasul. Mereka dari kalangan orang biasa. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang diistimewakan oleh Allah sehingga keluarga Imran diabadikan dalam Al-Qur’an. Dengan mengkaji QS Ali Imran ayat 33–37, banyak sekali ibrah yang bisa kita ambil dari kehidupan keluarga ini. Ikhtiar yang dilakukan Imran dan Hannah dari fase perencanaan, doa-doa terbaik, dan permohonan yang tidak kenal lelah, lalu memberi nama terbaik, menyiapkan tempat yang sesuai, dan memilihkan pembimbing yang tepat akhirya memperoleh keridaan-Nya. Allah menerima ikhtiar keluarga Imran dengan memberi perhatian, mencukupi kebutuhan, membimbing, dan memberikan penjagaan dalam kehidupan Maryam. Ia seorang perempuan yang dijaga kesuciannya oleh Allah, lalu lahir dari rahimnya Nabi Isa as., seorang Nabi yang mulia.
Kisah keluarga Imran ini juga memberikan pesan bagi para orang tua untuk menyiapkan generasi terbaik dengan perencanaan terbaik sejak dini. Mengajak setiap orang tua agar mulai membangun cita-cita mulia terhadap anak-anaknya. Bahkan dimulai ketika suami istri menjalani program untuk memiliki anak. Setelah itu, orang tua pun harus memberikan nama terbaik sesuai yang dicita-citakannya. Dengan demikian, setiap orang tua akan ikhlas membersamai dan selalu bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
