Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Iradah Allah Swt. menghendaki untuk menjadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun akidah. Memang ada yang mengatakan bahwa para malaikat itu merupakan rantai penghubung antara Allah Swt. dengan para nabi. Merekalah yang menyampaikan risalah kepada para nabi. Mereka juga diberi tugas dalam urusan yang tidak terjangkau oleh indra kita.
Allah sajalah yang memberitahukan kepada kita tentang para malaikat. Mereka, antara lain ruhul-amin, Jibril; Mikail; malaikat kematian; Raqib dan ‘Atîd sebagaimana yang diberitahukan oleh Al-Qur’an kepada kita. Hanya saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa inilah sebabnya keimanan kepada mereka dijadikan sebagai salah satu rukun utama akidah. Namun, kami harus katakan bahwa inilah yang dituntut oleh Allah agar kita imani, dan kita harus berpandangan sesuai dengan batas yang dinyatakan oleh nas.
Allah Swt. berfirman,
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.'” (QS Al-Baqarah [2]: 285).
وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
“Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”(QS An-Nisa’ [4]: 136).
وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ
“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.”(QS Al-Baqarah [2]: 177).
Pendek kata, saya tegaskan bahwa malaikat telah disebut dalam Al-Qur’an pada lebih dari tujuh puluh tempat. Ada yang hanya menyebut malaikat dan ada yang menuntut untuk kita imani. Dan ada juga yang menyebut sejumlah aktivitas yang mereka laksanakan,
لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrîm [66]: 6).
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”(QS Qaf [50]: 18).
الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ ۖ
“Yaitu, orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS An-Nahl [16]: 28).
Berdasarkan pada keseluruhan ayat yang menyebut tentang malaikat dan dengan menganalisisnya, kita akan menemukan bahwa kurang lebih separuhnya dinyatakan dalam surah makiyah, sedangkan separuh yang lain dinyatakan dalam surah Madaniah, dalam konteks bahwa akidah merupakan asas baik dan tidaknya individu, sebagaimana asas baik dan tidaknya masyarakat.
Ia juga menjadi asas tegaknya negara, karena (keimanan kepada) malaikat merupakan salah satu rukun dasar akidah, dan dalilnya naqli, karena eksistensinya tidak terjangkau oleh indra. Oleh karenanya, ayat-ayat tentang masalah tersebut telah diulang-ulang sesuai dengan kebutuhannya. Hal itu membuktikan pentingnya salah satu rukun akidah tersebut. Jadi, malaikat itu merupakan rantai penghubung sekaligus utusan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Sebagaimana qudrah (kemahakuasaan)-Nya telah menghendaki. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia,
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 18). [MNews/Rgl]
Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an
