Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Islam dan Akal
Islam bisa dipastikan sebagai satu-satunya ideologi yang mewajibkan seseorang mengimani bahwa ada Pencipta yang telah menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan dari ketiadaan. Islam menjadikan pengakuan atas keberadaan Pencipta menjadi landasan masuknya orang tersebut ke dalam ideologi ini. Islam juga mewajibkan akal manusia untuk mengimani keberadaan Pencipta dengan keimanan yang bersumber dari akal (pemikiran).
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (TQS Ali Imran: 190).
Allah Swt. berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (TQS Rum: 22).
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?”(TQS. Al-Ghasyiyah: 17—20).
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” (TQS. Ath-Thariq: 5-7).
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”(TQS Al-Baqarah: 164).
Ayat-ayat ini serta ratusan ayat lainnya dalam Al-Qur’an mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya dengan cara yang benar agar bisa mencapai hakikat alam semesta, manusia, dan kehidupan, dan agar bisa menguraikan simpul besar dengan penguraian yang bisa memuaskan akal dengan cara meneliti secara mendalam dan cemerlang pada segala sesuatu dan apa yang ada di sekelilingnya dan berkaitan dengannya, untuk mencari bukti atas keberadaan Pencipta Yang Maha Pengatur sehingga keimanannya akan Pencipta menjadi iman yang kukuh karena berdasarkan akal (pemikiran) dan bukti.
Al-Qur’an telah menetapkan sifat-sifat Pencipta tersebut. Allah Swt. berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (TQS Asy-Syura: 11).
Bahwasanya tidak ada sesuatu pun—dari apa yang bisa dicapai oleh indra manusia—yang serupa dengan Pencipta. Allah Swt. berfirman,
“Dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah….” (TQS Adz-Dzariyat: 51).
Bahwasanya tidak ada Pencipta selain Allah sehingga Pencipta itu hanya satu. Allah Swt. berfirman,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).'” (TQS AL-An’am: 19).
“Katakanlah, ‘Jikalau ada Tuhan-Tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya Tuhan-Tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai `Arsy.” (TQS Al-Isra: 42).
Allah Swt. berfirman,
“Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (TQS Al-Anbiya: 22).
Allah Swt. berfirman,
“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(TQS Al-Baqarah: 267).
Allah Swt. berfirman,
“Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (TQS Ali Imran: 97).
Inilah pemecahan yang disodorkan oleh Islam pada akal seputar masalah keberadaan Sang Pencipta. Islam menyatakan dengan adanya Sang Pencipta, maka wajib bagi manusia untuk mengimani Pencipta tersebut. Dan sifat-sifat Sang Pencipta tersebut sangat berbeda sekali dengan sifat manusia, Dia itu satu, Maha Kaya, dan tidak membutuhkan apa dan siapa, serta tidak berawal dan tidak berakhir. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Hadid,
“Dia-lah Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Dhahir, Yang Maha Batin, dan Dia Maha Tahu atas segalanya.” (TQS Al-Hadid: 3).
Jika kita kembali pada akal dan pemikiran kita tentang keberadaan Sang Pencipta, dengan melihat makhluk-makhluk yang tercapai oleh indra kita, niscaya akan kita temukan bahwa yang dibawa oleh Islam sepenuhnya menjadi solusi cemerlang atas simpul besar sehingga Islam bisa memuaskan akal sepenuhnya. [MNews/Rgl]
Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
