Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar
Muslimah News, NAFSIYAH — “Sekarang ini, cari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Demikian kira-kira ungkapan segelintir orang yang berputus asa. Sekilas mungkin benar. Di tengah kungkungan kehidupan sekuler-kapitalisme saat ini, usaha yang halal memang makin susah. Barangkali inilah yang diisyaratkan oleh Nabi saw.,
قِلُّ مَا يُوْجَدُ فِي أَمَّتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ دِرْهَمُ حَلاَلٍ، وَأَخٌ يُوْثَقُ بِهِ
“Pada akhir zaman nanti, di tengah-tengah umatku akan sedikit harta yang halal dan saudara yang dapat dipercaya.” (HR Ibn Adi dan Ibn Asakir).
Oleh karena itu, di tengah beragam kesulitan hidup saat ini, banyak orang akhirnya tidak lagi peduli halal-haram dalam mencari nafkah. Akibatnya, banyak yang kemudian terjerumus dalam beragam dosa dan keharaman, seperti korupsi, suap-menyuap, tipu-menipu, riba, dan sebagainya.
Meski hidup makin sulit, tentu keadaan ini tidak boleh menjadi pembenaran bagi kita untuk memperoleh harta dengan segala cara. Kesulitan hidup harus kita sikapi dengan kesabaran, karena sesungguhnya akan mendatangkan kebaikan.
مَنْ صَبَرَ عَلَى الْقُوْتِ الشَّدِيْدِ صَبْرًا جَمِيْلاً، أَسْكَنَهُ اللهُ تَعَالَى مِنَ الْفِرْدَوْسِ حَيْثُ شَاءَ
“Siapa saja yang bersabar atas kekurangan makanan (kelaparan) dengan kesabaran yang sempurna, Allah pasti akan menempatkan dirinya di Surga Firdaus, sebagaimana yang Dia kehendaki.” (Ibn Hajar al-Haitami, Al-Inâfah, I/2).
Meskipun sulit, mencari harta halal tetap wajib.
طَلَبُ الْحَلاَلِ فَرِيْضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ
“Mencari harta halal adalah salah satu kewajiban di antara sejumlah kewajiban yang ada.” (HR Ath-Thabrani).
Bahkan, Nabi saw. bersabda,
طَلَبُ الْحَلاَلِ جِهَادٌ
“Mencari harta halal termasuk jihad.” (HR Abu Nua’im dalam Al-Hilyah).
Oleh karena itu, Allah Swt. memuji hamba-Nya yang selalu berusaha keras mencari harta halal.
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ تَعَبًا فِي طَلَبِ الْحَلاَلِ
“Sesungguhnya Allah Swt. suka melihat hamba-Nya yang bersusah-payah dalam memperoleh harta halal.” (HR Ad-Dailami).
Harta halal juga menjadi sumber keberkahan hidup.
اَلْعَافِيَةُ عَشْرَةُ أَجْزَاءٍ، تِسْعَةٌ فِي طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ، وَجُزْءٌ فِي سَائِرِ الْأَشْيَاءِ
“Kesejahteraan (keberkahan) itu ada sepuluh bagian, yakni sembilan bagian dalam mencari penghidupan (yang halal), satu bagian lagi dalam semua perkara (yang baik).” (HR Ad-Dailami).
Pertanyaannya, halalkah seluruh harta yang kita upayakan? Jika ternyata masih bercampur harta haram, tidakkah kita takut terhadap ancaman Nabi saw. ini?
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari harta haram, neraka lebih layak baginya.” (HR Ahmad).
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. [MNews/YG]
Sumber: ariefbiskandar[dot]com
