[Editorial] Permainan Media di Tengah Krisis Gaza

[Editorial] Permainan Media di Tengah Krisis Gaza

Muslimah News, EDITORIAL — “Media sosial mematahkan monopoli narasi Israel. Itu sebabnya Benny Gantz mengadakan pertemuan darurat dengan Facebook, Instagram, dan TikTok selama pengeboman Israel terhadap Gaza untuk meminta mereka menghapus konten Palestina, karena dia tahu opini publik global sedang berubah.” (Sami Hamdi, Jurnalis).

Pernyataan Sami Hamdi, jurnalis sekaligus Pemimpin Redaksi International Interest tersebut, setidaknya mengonfirmasi apa yang sedang terjadi di medsos hari ini. Banyak netizen yang mengeluhkan betapa tidak fair-nya kebijakan medsos, semacam YouTube, Meta yang membawahi FB dan Instagram, Twitter yang berubah menjadi X, juga TikTok, terhadap opini yang dipandang memihak Hamas dan Palestina.

Banyak pos soal Hamas dan Palestina yang tiba-tiba hilang. Ada yang kena peringatan, hukuman, bahkan akun yang di-ban. Menyedihkannya, pos-pos drama ala “playing victims” Yahudi atau Israel justru makin banyak berseliweran di beranda pengguna dunia maya.

Cari-Cari Alasan

Meta sendiri mengakui bahwa selama tiga hari terakhir telah memusnahkan lebih dari 795.000 konten berbahasa Ibrani dan Arab terkait perang Hamas-Israel. Begitu pun dengan X. Ratusan tagar, bahkan akun yang dicurigai terafiliasi Hamas, sudah dihapus. Alasannya, demi mengurangi konten kebencian atau menyesatkan di platformnya.

Mereka juga beralasan, kebijakan ini adalah jawaban terhadap tudingan Eropa tentang adanya penyebaran berita bohong dan provokatif tentang perang Hamas-Israel di berbagai platform mereka.

Sebelumnya, Komisioner untuk pasar internal Uni Eropa, Thierry Breton, memang telah memberi peringatan kepada semua bos platform medsos, seperti Elon Musk (X), Mark Zuckerberg (Meta), dan Shou Zi Chew (TikTok) terkait Hamas-Israel. Ia meminta platform tersebut untuk segera menghapus konten ilegal dan berbahaya sesuai aturan UU Layanan Digital (DSA) UE. Jika melanggar, mereka diancam akan dikenai denda besar. Namun, benarkah demikian?

Jika kita menelusuri ke belakang, kebijakan diskriminatif platform medsos menyangkut krisis Palestina ini sebetulnya bukan perkara baru. Ketika merebak kekerasan di Gaza pada 2012, misalnya, fakta yang sama juga terjadi. Atas nama “mencegah penggunaan medsos oleh aktor politik dan bersenjata”, termasuk Hamas, Facebook menerapkan kebijakan moderasi, pembatasan, standar komunitas, penghapusan konten, hingga penghapusan akun.

Begitu pun saat terjadi kekerasan di Syekh Jarrah (Mei 2021), Facebook dan Instagram justru secara masif menandai konten menyangkut kasus Syekh Jarrah secara khusus, maupun Palestina secara umum, sebagai “konten sensitif”. Tidak jarang pula keduanya langsung menghapus tanpa alasan, sampai-sampai hanya menulis kata #AlAqsa saja bisa kena hukuman karena diidentifikasi terafiliasi gerakan berbahaya.

Bahkan, yang lebih jahat lagi, saat itu Facebook yang sudah terbuka mendukung Israel, secara atraktif berusaha membangun dukungan warga dunia dengan cara yang licik. Diketahui, Facebook meluncurkan sebuah grup bernama Jerusalem Prayer Team yang mendukung okupasi Israel dan menambahkan lebih dari 76 juta penggunanya. Dengan cara inilah Facebook memaksa pemilik akun untuk ikut mendoakan Israel dengan me-like pos-pos di grup tersebut secara otomatis.

Alat Propaganda

Di satu sisi, perilaku berbagai platform medsos maupun jenis media massa lainnya yang notabene dikuasai Barat atau tunduk kepada Barat, bisa dipahami. Ini mengingat kasus-kasus yang terjadi di Palestina selalu dipastikan mampu mengundang simpati dan solidaritas secara global.

Wajar jika ada pihak-pihak yang ketakutan akan menguatnya pembelaan masyarakat dunia terhadap umat Islam di Palestina. Lalu mereka pun sekuat tenaga membungkam atau mengalienasi semua narasi tentang Palestina yang isunya bisa menjadi pemersatu kaum muslim dunia.

Fakta inilah yang dibongkar Sami Hamdi. Salah satunya, soal upaya Benjamin “Benny” Gantz, politisi Israel yang sekaligus pemimpin Partai Ketahanan Israel untuk mengadakan pertemuan darurat dengan para stakeholder platform medsos dan mengarahkan mereka agar bekerja sesuai kemauan Israel. Tampak di sini kekuatan lobi Yahudi dan sekutunya Amerika dalam menggenggam kekuatan media massa.

Begitu pun dengan Uni Eropa. Dengan alasan penerapan UU Layanan Digital yang awalnya dibuat untuk memperketat aktivitas bisnis perusahaan-perusahaan digital besar dunia yang beroperasi di Eropa, UE menekan semua platform media sosial yang dikelola perusahan-perusahaan tersebut untuk melakukan berbagai langkah mitigasi demi mengatasi apa yang mereka sebut ‘konten disinformasi’ terkait perang di Gaza.

Bahkan, dengan alasan menjaga kekondusifan pemilu yang akan diselenggarakan negara-negara UE, pihak stakeholder pun memberi waktu 24 jam kepada semua perusahaan tersebut untuk menjelaskan cara mereka mematuhi UU Layanan Digital. Faktanya, sejatinya sikap UE ini merupakan bentuk dukungan mereka terhadap langkah brutal politik Israel untuk mengusir bahkan memusnahkan rakyat Palestina.

Begitulah cara mereka memenangi peperangan melalui kekuatan media. Mereka berusaha menghalangi akses masyarakat dunia terhadap kebenaran, sehingga opini umum pun bisa mereka kendalikan. Ndilalah-nya, upaya mereka ini memang sudah tampak menuai hasil.

Dalam konteks isu Palestina, tidak sedikit masyarakat yang tersesatkan. Mereka mulai melihat problem Palestina dengan kacamata Barat sehingga meski faktanya jutaan rakyat Palestina telah diusir dan dibantai selama rentang waktu puluhan tahun, Palestina tetap saja distigma sebagai penjahat. Sementara itu, Israel yang diserang Hamas sebagai aksi balasan, mereka tempatkan dalam posisi korban kezaliman.

Mirisnya, suara pembelaan dan simpati pada pihak Israel pun makin banyak yang datang dari mereka yang mengaku muslim. Bahkan, ada juga yang dipanggil dengan sebutan syekh, buya, dan ustaz dengan jumlah pengikut yang tidak sedikit. Sungguh menyedihkan!

Keberhasilan pihak Israel dan sekutunya dalam menundukkan semua platform media massa, termasuk medsos yang booming hari ini, tentu patut menjadi catatan. Mereka benar-benar memahami bahwa media adalah alat peperangan yang sangat strategis. Siapa yang menguasai media massa, ia akan menguasai dunia, sedangkan menguasai dunia adalah obsesi mereka.

Tampak benar mereka sedang menjalankan warisan nasihat Rashoron, seorang tokoh Rabi Yahudi ternama pada zamannya. Dalam khotbahnya pada 1869 di Braga Portugal, ia pernah berkata, “Jika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kita.”

Pernyataan Rashoron tersebut dikuatkan melalui Konferensi Zionis pertama yang diadakan di Swiss pada 1897 di bawah pimpinan Theodor Herzl. Di antara rekomendasi yang dikeluarkan adalah soal urgensi menguasai media massa, termasuk jurnalisnya, untuk membangun opini umum yang mendukung tujuan mereka menguasai dunia dan menghalangi dominasi media lawan.

Tengoklah, betapa hari ini mereka menguasai dan mengontrol media-media besar dunia. Bahkan, media-media tersebut menjadi acuan produksi pemberitaan media dunia lainnya, termasuk produksi konten-konten perang pemikiran dan budaya yang disebar ke berbagai negara yang tidak jarang dibumbui banyak kebohongan.

Dengan kekuasaan uang (emas) dan medianya pula, mereka terus memblokade informasi sahih tentang dunia Islam, termasuk Palestina. Mereka tidak peduli dengan stigma pelanggar HAM, bahkan sebutan “biang teroris” yang ditudingkan. Mereka hanya peduli agar perang ideologi ini bisa mereka menangkan.

Kelak, Kita yang Menang!

Hari ini, Israel dan sekutunya boleh saja jemawa karena kekuatan emas dan media memang sedang ada dalam genggaman mereka. Dengan keduanya, mereka berhasil mengendalikan dunia, bahkan mampu mencocok hidung para penguasa muslim yang jumlah penduduknya milyaran jiwa hingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun, bandul sejarah ada saatnya berubah. Kezaliman mereka akan dibayar dengan berlipat ganda. Geliat kebangkitan dan benih persatuan umat tidak mungkin bisa dicegah. Energinya pun terus bergulir di tengah umat, bak bola salju yang terus membesar, dan siap merobohkan peradaban rusak yang bentengnya dibangun di atas pengingkaran terhadap kebenaran.

Setiap mukmin tidak akan luntur keyakinan bahwa di luar dukungan politik, kecanggihan senjata dan pengaruh media mereka, ada Allah Yang Maha Kuasa. Terlebih Dia, Azza wa Jalla, telah menjanjikan akan datangnya kekuatan politik Islam yang digdaya, yakni Khilafah Rasyidah kedua yang akan menyatukan negeri-negeri Islam di bawah benderanya.

Kelak, Khilafah dan tentaranya akan membebaskan setiap jengkal tanah kaum muslim dari para perampasnya, seraya menghina dina Israel dan sekutunya. Jangankan mengusir bangsa Israel di Palestina, bahkan kota Roma pun kelak akan takluk di bawah ar-rayah dan al-liwa.

Hari ini, tugas kita sebagai muslim adalah melakukan bagian sejarah kita, yakni berusaha memegang teguh tali Allah, memupuk persaudaraan lillah, dan berjuang untuk menegakkan kalimat-Nya. Tentu wajib dengan berusaha sekuat tenaga agar tidak menyelisihi sedikit pun dari jalan yang Rasulullah saw. contohkan. Adapun urusan hasil, biarlah Allah yang menggenapinya.

Sungguh telah banyak nikmat dan potensi yang Allah anugerahkan pada kita. Oleh karenanya, dengan bekal iman yang membara, mari kita kontribusikan segenap waktu, tenaga, harta, bahkan jiwa dan raga. Kita belajar dari muslim Palestina, termasuk anak-anak belia mereka, bahwa tidak ada pilihan ketiga bagi kita, selain hidup mulia atau mati syahid demi kemuliaan agama. Isy kariiman aw mut syahiidan! [MNews/SNA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *