Penulis: Ustaz Yahya Abdurrahman
Muslimah News, SYARAH HADIS —
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya perbuatan itu bergantung pada niatnya dan bagi setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang akan dia nikahi, maka hijrahnya adalah pada apa yang ia tuju itu.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, Al-Humaidi, Ibn al-Jarud, Ibn Hibban, Ath-Thahawi, Ath-Thayalisi, Ad-Daraquthni, dan lainnya).
Hadis ini adalah hadis gharib. Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarh al-Arba’în, itu karena hanya Umar bin Al-Khaththab ra. yang meriwayatkannya dari Rasulullah saw.. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh Alqamah bin Abi Waqash; dari Alqamah hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim at-Taimi; dari Muhammad bin Ibrahim hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Said al-Anshari. Dari Yahya bin Sa’id barulah diriwayatkan oleh banyak orang hingga lebih dari dua ratus orang yang kebanyakan adalah para imam.
Menurut mayoritas ulama, lafaz innamâ adalah untuk membatasi (li al-hashr). Maknanya adalah bahwa perbuatan itu bergantung pada niatnya. Artinya, tidak ada perbuatan kecuali dengan niat. Penafian yang dimaksud adalah penafian konsekuensi hukum perbuatan itu dari sisi keabsahannya. Artinya, niat menentukan status perbuatan. Hadis ini juga menunjukkan bahwa seseorang hanya akan mendapatkan dari perbuatannya sesuatu yang sesuai dengan apa yang ia niatkan.
Jadi, hadis ini menyiratkan dua hal. Pertama, niat dari sisi motif suatu perbuatan. Kedua, niat sebagai penentu perbuatan.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikâm menyatakan bahwa niat dalam pembicaraan para ulama ada dua makna. Pertama, penentuan maksud (motif) perbuatan apakah karena Allah, karena yang lain, atau karena Allah bersama yang lain. Jadi, niat di sini masuk dalam bahasan ikhlas. Kedua, penentu atau pembeda suatu ibadah dari yang lain. Misalnya salat, apakah salat zuhur atau asar, wajib atau sunah; puasa apakah wajib atau sunah, dsb..
Dari sini akan jelas lingkup perbuatan yang dicakup oleh makna niat itu. Niat dalam makna motif (maksud) perbuatan apakah karena Allah atau bukan jelas meliputi semua perbuatan dan tindakan yang keluar dari manusia. Jika ikhlas semata karena Allah, maka akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika tidak, maka tidak akan mendapat pahala.
Hadis ini mencontohkan orang yang berhijrah. Jika ia melakukankannya dengan niat (maksud) menuju keridaan Allah, maka ia akan mendapat pahala. Jika ia melakukannya dengan niat (motif) mendapatkan dunia (harta, dsb.) atau untuk menikahi wanita, maka ia hanya akan mendapatkan dunia atau wanita itu, tetapi tidak mendapatkan pahala di sisi Allah.
Untuk mengetahui ikhlas atau tidak, mudahnya adalah jika seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena perintah dan larangan Allah, yaitu karena halal dan haram, maka saat itu ia ikhlas. Jika orang berpuasa Ramadan atau salat zuhur karena keduanya wajib, maka itu tanda ikhlas. Jika seseorang menolak suap, tidak berjudi, dsb. karena semua itu haram, maka ia meninggalkan semua itu karena ikhlas. Hal itu karena semua itu dilakukan atau tidak dilakukan karena perintah dan larangan Allah; artinya karena Allah dan itu adalah ikhlas.
Niat dalam konteks kedua, yaitu menentukan suatu perbuatan, maka hal itu tidak berlaku dalam semua perbuatan. Ibn Abdis Salam seperti dikutip oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bârî menyatakan tentang hadis ini: kalimat pertama untuk menjelaskan perbuatan yang dinilai; kalimat kedua untuk menjelaskan hasil/konsekuensi perbuatan.
Hadis ini memberikan faedah bahwa niat hanya disyaratkan dalam ibadah yang tidak bisa dibedakan dengan sendirinya. Adapun yang bisa dibedakan dengan sendirinya ditentukan menurut deskripsinya seperti zikir, berdoa, dan tilawah karena itu sudah jelas sebagai ibadah.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam menjelaskan, banyak generasi belakangan menganggap, maksudnya adalah perbuatan yang sahih, muktabar, atau diterima. Atas dasar ini, yang dimaksud tidak lain adalah perbuatan syar’i yang memerlukan niat. Adapun yang tidak memerlukan niat seperti kebiasaan makan, minum, berpakaian, atau mengembalikan amanah dan jaminan, seperti titipan dan ghashab, maka tidak memerlukan niat. Semuanya dikhususkan dari keumuman perbuatan yang disebutkan di sini.
Untuk lebih jelasnya, tindakan (tasharruf) manusia itu dua jenis. Jenis pertama, tindakan berupa kata-kata (tasharruf qawliyah), yaitu sempurna dengan kata-kata (redaksi). Dalam hal ini:
1. Tindakan itu bisa berasal dari seseorang sebagai timbal balik terhadap pihak lain. Tindakan seperti ini disebut akad.
2. Berasal dari satu orang saja, misalnya pengakuan utang atau suatu perbuatan, komitmen, wasiat, dsb. dan disebut tasharruf saja.
Dalam kedua jenis tasharruf ini tidak dimasuki unsur niat dan niat tidak menentukan sah tidaknya akad dan tasharruf itu. Sah tidaknya ditentukan oleh deskripsi, lafal, dan redaksinya.
Jenis kedua, tindakan dalam bentuk perbuatan (tasharruf fi’liyah), penentunya adalah perbuatan, bukan lisan. Dalam hal ini:
1. Perbuatan indrawi yang pelaksanaannya sudah menunjukkan maksud (niat) pelakunya sehingga tidak memerlukan niat. Contoh, mengolah tanah sudah jelas untuk bercocok tanam.
2. Perbuatan indrawi yang dilakukan atau dihindari secara fisik seperti wudu, salat, berperang, memberi harta, membangun masjid, safar, penyembelihan, dsb., semua perbuatan semacam ini memerlukan unsur niat untuk menjelaskan maksud atau tujuannya. Semua ibadah masuk kategori ini. Dalam perbuatan seperti inilah, niat menjadi penentu. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
