Merindukan Keamanan Dunia, Berharap pada Siapa?

Merindukan Keamanan Dunia, Berharap pada Siapa?

Penulis: Asy Syifa Ummu Shiddiq

Muslimah News, OPINI — Negara aman itu impian semua orang, bukan hanya harapan para negarawan. Ini karena rasa aman itu sesuai tabiat manusia. Sayangnya, saat ini, dunia tidak dalam kondisi baik-baik saja. Tidak seorang pun bisa tidur nyaman. Mereka senantiasa merasa waswas atas segala jenis ketakutan yang mungkin bisa terjadi. Entah itu khawatir dirampok, dan lainnya. Lantas, ke manakah manusia dapat mencari rasa aman?

Seperti pada KTT G-20 di Bharat Mandapam, IECC, Pragati Maidan, New Delhi, India, (Sabtu, 9-9-2023) yang memiliki cerita istimewa. Dalam acara ini, Presiden Jokowi menyerukan untuk menjaga keamanan dunia dengan menghentikan perang dan berpegang pada hukum internasional. Dengan begitu akan tercipta suasana yang aman. (Metro TV News, 10-9-2023).

Sebatas Harapan

Pada kondisi sekarang, keamanan dunia sepertinya masih sebatas mimpi. Pasalnya, kapitalisme yang menguasai dunia saat ini tidak menjamin keamanan seluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui, kapitalisme memiliki standar kebahagiaan berupa materi, manusia akan merasa puas apabila mendapatkan kesenangan duniawi. Standar ini kemudian menjadi pendorong negara penganut kapitalisme untuk mencari keuntungan besar.

Kita tentu masih ingat dengan motivasi para penjajah tatkala menduduki negeri ini, yaitu gold, glory, gospel (3G). Gold artinya kekayaan. Glory adalah kejayaan. Gospel ialah menyebarkan agama. Dua dari tiga tujuan tersebut merupakan alasan kuat untuk mendapatkan kekayaan dari bangsa lain.

Sejak kapitalisme lahir, muncullah negara-negara penjajah yang merenggut paksa kekayaan alam negara lain, termasuk Indonesia. Untuk mencapai tujuan 3G tadi, tidak perlu aturan agama karena mereka (Barat) mengemban ide sekularisme. Para penjajah itu akhirnya menggunakan akal dan hawa nafsunya untuk menguasai dunia.

Sampai saat ini, meski banyak negara yang (katanya) merdeka, tetapi tidak sedikit pula yang masih mengalami penindasan. Wajar jika kita menganggap kapitalisme tidak akan mewujudkan perdamaian dunia.

Hukum Internasional

Kita perlu meneliti kembali mengenai anggapan bahwa keamanan akan terwujud apabila kita senantiasa berpegang pada hukum internasional. Pasalnya, hukum internasional yang berlaku selama ini mengikuti arahan AS, negara adidaya penganut kapitalisme dan menyebarkan ideologi itu ke seluruh dunia.

Artinya, hukum internasional yang ada saat ini adalah aturan yang menguntungkan negara-negara kapitalis saja. Mereka membuat aturan hanya untuk kepentingan sendiri. Sebagai Contohnya, ketika terjadi peristiwa 9/11, mereka langsung menuduh Islam sebagai teroris. Namun, terhadap puluhan tahun penyerangan Israel terhadap Palestina, mereka diam saja. Kalaupun ada pembelaan, hanya kecaman dan tawaran solusi dua negara.

Lihatlah, betapa kontrasnya dua kejadian ini. Kalau korbannya dari kalangan mereka, langsung bereaksi. Sebaliknya, ya diam saja. Inilah kapitalisme, memihak pada yang berkuasa dan punya modal besar. Jadi, tidak mungkin bisa berharap pada ideologi seperti ini.

Selain masalah keamanan seperti perang, sejatinya masih banyak problem lainnya yang membuat dunia merasa tidak aman. Sebut saja, kemiskinan, kejahatan, hingga tagihan utang karena riba, membuat masyarakat tidak bisa tidur nyaman. Jumlah lapangan kerja pun minim. Kalaupun ada, upahnya murah. Bahkan, kebutuhan pokok yang mencekik membuat kemiskinan makin menjerit.

Secara tidak langsung, hal ini menjadi alasan orang-orang melakukan kejahatan, mulai dari memalak, menjambret, merampok, hingga menghilangkan nyawa. Bahkan, karena harta, saudara bisa bertengkar rebutan warisan dan berakhir pembunuhan.

Jelas ini semua mengakibatkan dunia tidak aman. Kalau ditelisik lebih dalam, penyebab semua masalah ini ya kapitalisme lagi. Sifat rakus manusia melahirkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Tidak diragukan lagi, kapitalisme menyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah baru.

Islam Menjaga Perdamaian

Belajar dari sejarah, perdamaian dan keamanan dunia hanya terjadi ketika Islam memimpin peradaban. Selama 13 abad, Islam mampu menjaga perdamaian. Kalaupun ada peperangan, itu hanya terjadi saat kaum muslim melawan ketidakadilan para pemimpin zalim.

Dalam aturan perang dalam Islam, tentara Islam tidak boleh membunuh wanita, orang tua, ataupun anak-anak. Mereka tidak boleh merusak lingkungan, alam, binatang, pepohonan, hingga rumah-rumah penduduk. Mereka hanya boleh membunuh tentara atau pemimpin mereka yang zalim. Apabila suatu daerah langsung menerima Islam, kaum muslim akan menyebarkan Islam dalam perdamaian tanpa peperangan.

Selain itu, penerapan aturan Islam yang sempurna, seperti sistem pemerintahan Islam (Khilafah), sistem ekonomi, pendidikan, sosial, hingga sanksi, akan membuat masyarakat merasa aman. Masyarakat di sini tidak hanya kaum muslim, tetapi juga nonmuslim yang berhak untuk mendapatkan keamanannya jika termasuk warga negara.

Contohnya, pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, seluruh penduduk merasakan keamanan, kenyamanan, dan serba kecukupan, sampai-sampai tidak ada satu pun warga yang mau menerima zakat. Oleh karena itu, jika kita merindukan keamanan dunia, hanya pada Islam kita dapat berharap yang dengan sistem Khilafahnya akan mengendalikan konstelasi dunia dengan aturan politik luar negerinya. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *