[Kabar] Aktivis: Lazy Girl Job Menjamin Bahagia?

[Kabar] Aktivis: Lazy Girl Job Menjamin Bahagia?

Muslimah News, INTERNASIONAL — Baru-baru ini ramai dibincangkan tentang #lazygirljob di TikTok. Hasil pantauan MNews, Jumat (8-9-2023), jumlah viewer tagar ini telah mencapai 23 juta.

Gabrielle Judge yang memperkenalkan istilah ini mengatakan, lazy girl job pada dasarnya melakukan upaya minimum untuk mempertahankan pekerjaan, tanpa harus bekerja ekstra. “Ada banyak pekerjaan di luar sana yang dapat menghasilkan sekitar US$60.000—80.000 (Rp900 juta—1,2 miliar), tanpa harus melakukan banyak pekerjaan dan pergi jauh,” ujarnya dikutip dari BBC (26-8-2023).

Selain itu, ia mencoba memperlakukan tren lazy girl job sebagai pola pikir karena pekerjaan sangat bernuansa dan setiap orang berada dalam situasi yang berbeda.

Eliana Goldstein, seorang pelatih karier dan kesuksesan milenial di New York meyakini lazy girl job merupakan tanggapan langsung dan penolakan terhadap budaya kerja berlebihan dan kesibukan yang mendominasi tenaga kerja selama beberapa dekade.

“Yang dimaksud dengan lazy girl job sebenarnya adalah datang untuk bekerja dan melakukannya dengan kemampuan terbaik Anda – karena secara harfiah untuk itulah Anda dibayar – dan kemudian memiliki ruang untuk melakukan hal-hal yang membuat Anda bahagia,” kata Goldstein.

Menjamin Bahagia?

Namun, aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah mempertanyakan, apakah dengan itu bisa menjamin bahagia? Karena, lanjutnya, ternyata yang didapat hanya kesenangan dan kegembiraan sementara.

“Yang memicu tren lazy girl job ini adanya data yang menunjukkan jutaan, bahkan puluhan juta pekerja yang sudah mengalami stres dalam waktu yang cukup panjang. Ada juga yang mengalami depresi, mendapatkan penyakit-penyakit berat, bahkan banyak yang mengakhiri hidupnya karena tekanan pekerjaan,” jelasnya dalam acara bertema “Bahagia dengan Lazy Girl Job” di sebuah podcast, Selasa (5-9-2023).

Ia menerangkan, setelah banyak kasus terjadi terkait kesehatan mental, kesehatan fisik, bahkan kematian akibat gila kerja, memang kemudian muncul fenomena baru.

“Anak-anak muda di Cina, misalnya, mereka mempopulerkan bahwa mereka ini generasi rebahan. Mereka tidak mau dipasung kerja. Kemudian di Barat, dengan istilah lazy girl job, mereka tidak ingin melanjutkan hustle culture (budaya gila kerja-red.) karena mereka ingin hidup seimbang dan mendapatkan kebahagiaan. Setelah sekian banyak mereka melakoni kerja yang berlebihan, maka santai, ada waktu untuk menikmati hidup, healing untuk keluarga, dan seterusnya, itulah kunci kebahagiaan mereka,” paparnya.

Namun faktanya, ia melanjutkan, di dunia hari ini ada siklus bahwa pekerjaan-pekerjaan yang sekarang menghasilkan cuan besar, tidak selamanya seperti itu.

“Mungkin sekarang pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud itu bisa besar penghasilannya karena belum banyak yang menerjuni. Bagaimana kalau sudah makin banyak? Apalagi di saat yang sama, mereka harus menghadapi inflasi. Harga-harga barang kebutuhan pokok akan naik, yang boleh jadi ini tidak beriringan dengan naiknya upah pekerja,” ulasnya.

Ada yang Salah

Jadi, ia memandang, ada sesuatu yang salah. “Pertama, tujuan hidup. Hampir setiap orang di sistem sekuler kapitalisme hari ini, memiliki tujuan hidup yang tidak manusiawi. Sudah sekian lama, manusia dalam sistem ini mengalami problem penderitaan akibat tujuan hidup materialistis,” ujarnya.

Mereka mendewakan cuan, sambungnya, mendewakan status sosial, popularitas, kekuasaan, dan kenyamanan hidup.

“Sebenarnya, itu semua adalah tujuan-tujuan materialistis yang mungkin bisa berubah bentuk. Dari malas kerja dan memperbudak bangsa lain, di era yang lalu. Kemudian sekarang, mereka gila kerja. Bahkan yang terbaru, mereka ingin kerja santai. Tetapi itu semua tidak akan mengantarkan pada balance live, apalagi bahagia,” cetusnya.

Ia menuturkan, mungkin mereka bisa gembira berfoya-foya, tetapi mereka tetap akan dihantui kekosongan jiwa, artinya kesenangan dan kegembiraan itu hanya bersifat sementara.

Selanjutnya, yang kedua, sebutnya, berharap pada sistem kapitalisme untuk melahirkan balance live dan bahagia adalah kemustahilan.

“Sistem ini memandang manusia sebagai faktor produksi saja, tidak berbeda dengan mesin produksi lainnya. Segala perangkat kebijakan yang ada, diarahkan untuk mengasah dan mengaktifkan potensi manusia guna menghasilkan keuntungan materialistis. Sistem pendidikan, sistem sosial, dan seterusnya dalam sistem hari ini, hanya untuk mengaktifkan dan mengasah potensi manusia dalam menghasilkan materi. Tidak lebih dari itu,” tukasnya.

Jadi, ungkapnya, istilah mewujudkan balance live, membangun kesehatan mental, dan sejenisnya, bagi mereka hanya cara untuk menambal sulam menutupi borok sistemis yang dihasilkan oleh sistem sekuler.

“Ini karena pada hakikatnya, mereka telah gagal memberikan jalan bagi manusia untuk mewujudkan keseimbangan hidup. Kalau tidak menyadari bahwa akar masalahnya adalah sistem sekuler ini, akan memperpanjang usia kerusakan dan memperbanyak korban,” ucapnya.

Hanya Islam

Oleh karenanya, ia menerangkan, harus disadari hanya Islam yang mampu memberikan tujuan hidup yang benar. “Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan Allah bukan sebagai faktor produksi, melainkan khalifah fil ardh. Manusia diciptakan mulia oleh Allah untuk mendapatkan amanah besar mengelola semesta, menghambakan diri pada Sang Khalik. Juga diberikan kewenangan oleh Allah untuk mengambil keuntungan, manfaat, dan kesenangan dari apa yang Allah sediakan,” jelasnya.

Hanya saja, ujarnya, caranya ditetapkan oleh Allah sehingga tidak akan eksploitatif kepada alam dan tidak akan merusak diri sendiri.

“Dalam Islam, manusia boleh saja giat bekerja, tetapi ia memiliki kewajiban untuk beribadah, juga menjalankan perannya sebagai anak, ibu, saudara, atau tetangga bagi orang-orang di sekitarnya. Bahkan, Allah juga memerintahkan manusia untuk memberikan waktunya mendakwahkan agama Allah,” urainya.

Semua yang dikerjakan oleh manusia ini, ungkapnya, baik dimensinya memenuhi kebutuhan pribadi, berinteraksi dengan sesama manusia, atau pun beribadah kepada Allah, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Taala.

“Selama manusia menjalankan yang diperintahkan oleh Allah, manusia mendapatkan janji dari Allah yang tidak akan diingkari, berupa kebahagiaan di akhirat karena pahala yang sudah ditanamnya di dunia,” paparnya.

Selain itu, jelasnya, negara pun berperan menciptakan atmosfer keimanan. “Sistem Islam akan mendorong manusia untuk memproduktifkan akal dan energi untuk mencari rida Allah melalui pengembangan ilmu, mengajarkan ilmu, menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi banyak orang, dan meninggikan agama Allah,” tuturnya.

Tidak semuanya memiliki imbalan materi, tambahnya, tetapi orang-orang yang menjalaninya akan bahagia karena mendapatkan imbalan yang lebih besar, yaitu pahala dari Allah.

“Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan balance live. Tidak hanya keseimbangan untuk kehidupan di dunia, tetapi juga di dalam kehidupan di akhirat,” katanya.

Oleh karenanya, ia mengemukakan, mestinya ada kerinduan untuk memiliki kembali sistem Islam, kehidupan yang dilingkupi atmosfer keimanan. “Saat itu, semua orang akan dituntun dengan tuntunan yang berasal dari Sang Pencipta. Kita juga tidak mengikhtiarkan sistem tersebut sebagai pribadi atau komunitas, tetapi semestinya bisa diwujudkan secara sistemis oleh negara yang berlandaskan syariat, yang di dalam kitab-kitab fikih disebut sebagai Khilafah Islamiah,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Share

One thought on “[Kabar] Aktivis: Lazy Girl Job Menjamin Bahagia?”

  1. Ya begitulah, kapitalisme membuat org mati2an kerja tnp hasil yg memuaskan. Akhirnya muncul antitesa yg tdk menyelesaikan masalah jg krn berasal dari kapitalisme juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *