[Nafsiyah] Agar Bahagia di Dunia dan Akhirat

[Nafsiyah] Agar Bahagia di Dunia dan Akhirat

Penulis: Ustazah Ratu Erma Rachmayanti

Muslimah News, NAFSIYAH — Di antara doa yang sehari-hari dipanjatkan oleh hampir setiap muslim adalah,

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa ini mencakup semua kebaikan di dunia dan akhirat, serta harapan untuk tidak ditimpa keburukan.

Dalam satu hadis dijelaskan, kebaikan dunia itu digambarkan dengan dianugerahi pasangan hidup yang saleh/salihah, rumah dan kendaraan yang nyaman, serta tetangga maupun teman yang baik. Tentu tidak hanya itu, juga ingin mendapat ilmu bermanfaat, kesehatan, rezeki berkah dan berlimpah, putera-puteri yang saleh/salihah, aman dari kriminalitas, transportasi yang mudah, dan semua kebaikan hidup lainnya.

Adapun kebaikan di akhirat, yang paling tinggi ialah masuk surga dan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti aman dari rasa takut yang amat besar di Padang Mahsyar, dapat kemudahan dalam hisab, dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan hal ini, Abul Qasim Abu Abdur Rahman mengatakan, “Siapa saja yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, dan tubuh yang sabar, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan di dunia dan akhirat, serta dipelihara dari siksa neraka.”

Konsekuensi Logis

Kebaikan hidup di dunia dan akhirat tidak serta-merta didapat tanpa sebab. Ada sebab, ada akibat. Bagi mereka yang berharap kebaikan, ada tuntutan untuk mengerjakan perbuatan yang membawa mereka pada kebaikan tersebut, juga  meninggalkan perbuatan buruk dan haram, perbuatan dosa, dan perkara syubhat (yang meragukan). Pasangan hidup dan anak-anak yang saleh/salihah, tetangga dan teman yang baik, rumah dan kendaraan nyaman, fasilitas umum yang memadai dan layak, serta kebutuhan asasi yang menyejahterakan adalah hasil dari proses kerja.

Pasangan hidup dan anak-anak yang saleh/salihah lahir dari pendidikan keluarga saleh, masyarakat yang peduli masa depan generasi, dan pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan Islam yang benar, serta bertanggung jawab penuh. Calon orangtua saleh/salihah itu lahir dari sebuah kerja sinergi tiga pihak, yakni keluarga, masyarakat, dan negara. Rumah, kendaraan, makanan yang baik dan cukup, adalah hasil dari upaya kepala keluarga yang bekerja dan kemudahan yang diberikan oleh negara, atau karena karunia Allah berupa rezeki dari warisan, dan hadiah karena doa-doa hamba yang saleh kepada Rabb-nya.  Begitu pun dengan layanan kesehatan yang baik dan terjangkau, keamanan yang menenteramkan, transportasi yang nyaman dan menyelamatkan, informasi dan komunikasi yang lancar, ketenangan ibadah, dan sebagainya. Semua itu adalah hasil kolaborasi kerja berbagai pihak yang dikoordinasikan oleh negara.

Alhasil, Allah Swt. tidak hanya memerintahkan kita untuk berdoa dan berharap datangnya kebaikan di dunia dan akhirat. Allah pun telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berikhtiar menciptakan lingkungan kehidupan yang baik dan nyaman dengan kemampuan dan potensi akalnya untuk mengadakan dan mengembangkan berbagai fasilitas hidup. Semua ini termasuk dalam wilayah kemampuan manusia untuk mengupayakannya. Adapun doa dan pinta yang kita haturkan kepada Allah adalah upaya kita mendekat kepada-Nya. Agar Allah semakin mencintai kita dan memudahkan kebaikan itu datang menghampiri kita.

Hidup Indah dan Selamat dengan Syariat

Pelaksanaan syariat Islam secara kafah akan mewujudkan dua kebaikan, yakni kebaikan di dunia dan akhirat. Kebaikan di dunia berupa kehidupan layaknya di surga, yakni aman, tenteram, sejahtera, dan beradab mulia. Saat syariat Allah dijalankan, dampaknya adalah rahmatan lil ‘alamin, kebaikan bagi segenap makhluk. Dengan syariat, alam tidak rusak, justru memberi banyak manfaat bagi manusia, hewan-hewan, dan tumbuhan. “Isi perut” bumi, udara dan lautan ketika dikelola sesuai syariat akan memberikan kecukupan, kemakmuran, dan kemudahan. Dengan syariat pula, umat manusia dengan beragam ras, etnis, dan bangsa hidup rukun, santun, beradab, dan sejahtera. Layaknya di surga, seisi bumi merasakan kebaikan.

Pelaksanaan kehidupan dunia yang ditata oleh syariat Islam melahirkan individu, masyarakat, umat, pemimpin, dan bangsa yang bertakwa. Mereka menjadi hamba Allah yang patuh, tunduk, rela diatur hukum-Nya, dan bermanfaat bagi sesama. Hamba-hamba seperti itu berhak memperolah kebaikan di akhirat, berhak masuk dan tinggal di jannah khairul ma’wa (surga sebagai tempat kembali terbaik). Kesungguhan mereka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, mengorbankan waktu, harta, dan jiwa demi pelaksanaan syariat Allah ini, pasti dibalas-Nya dengan surga. Allah Swt. berfirman,

جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ لَهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَۚ كَذَٰلِكَ يَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلۡمُتَّقِينَ ٣١

“(Itulah) surga-surga ‘Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka mendapat segala yang diinginkan. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang yang bertakwa.” (QS An-Nahl [16]: 31).

Banyak ayat di berbagai surat lainnya yang menjelaskan kenikmatan surga dan kebahagiaan para penghuninya. Tentu dengan syarat bahwa yang bisa meraih kebaikan akhirat itu adalah yang telah menjalankan syariat Islam secara kafah dalam setiap aktivitasnya.

Syariat Islam didominasi oleh hukum-hukum yang mengatur urusan kemaslahatan umat manusia (politik), yakni cara sistem pemerintahan menyelenggarakan berbagai layanan untuk tegaknya syariat Allah, baik dalam perkara keimanan dan amalan. Tentang keimanan, negara wajib menjaga akidah umat dari ideologi kufur, juga dari pendangkalan dan penyesatan akidah. Negara akan mengawasi munculnya warga yang mengaku sebagai Nabi baru, mencegah masuknya nilai sekuler dan liberal, juga ideologi kapitalisme dengan segenap nilainya. Ini karena nilai-nilai kufur dan sesat itu akan sangat mengganggu kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, akidah Islam yang menghujam kukuh akan menghasilkan pribadi bertakwa dan berkomitmen kuat. Ini adalah modal dasar membentuk pribadi saleh. Pribadi saleh akan memilih makanan dan minuman yang halal dan baik, pakaian yang sesuai syariat dalam menjaga kehormatan, dan berperilaku mulia. Keluarga saleh akan mendidik seluruh anggota keluarganya agar menjadi pribadi saleh dan bermanfaat. Pemimpin saleh akan menyebarkan nasihat takwa, tidak mengambil sedikit pun harta umat, mengedepankan kepentingan umum, melindungi umat dari keburukan, dan hanya akan mengeluarkan kebijakan ekonomi, pendidikan dan sebagainya yang sesuai petunjuk Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Penerapan Islam di berbagai bidang ini akan menghasilkan layanan publik yang baik dan menyejahterakan. Akan memudahkan keluarga dan anggota masyarakat memenuhi kebutuhan asasi mereka. Bahkan bagi warga yang tidak mampu dan tidak berkerabat, negara yang harus mengambil tanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan mereka.  Penerapan ekonomi Islam menghasilkan jaminan distribusi kekayaan yang adil, mencegah kecurangan dan keserakahan sekelompok orang, mewujudkan kemandirian dan kedaulatan umat, tidak didikte asing, dan layanan publik masyarakat yang menyejahterakan.

Penerapan sistem pergaulan dan sosial Islam akan menciptakan kehidupan masyarakat yang bersih dari pergaulan bebas dan perilaku kriminal seksual lainnya. Hal ini akan mewujudkan kehormatan perempuan dan penjagaan terhadap anak-anak, akan menjaga keutuhan keluarga dan kesolidannya, serta akan menciptakan harmoni antara laki-laki dan perempuan dalam membangun peradaban dan kemajuannya.

Adapun pelaksanaan sistem pendidikan Islam akan menghasilkan generasi berkepribadian Islam, menguasai ilmu pengetahuan, dan terampil dalam ilmu kehidupan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sistem pendidikan Islam akan melahirkan generasi calon pemimpin, baik untuk keluarga, masyarakat, atau negara.  Tidak akan muncul krisis moral dan calon pemimpin, sebab semua disiapkan untuk menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa di setiap unit masyarakat. Sistem pendidikan Islam pun akan melahirkan ilmuwan handal dan ulama faqîh fi ad-dîn.

Pelaksanaan hukum-hukum layanan publik sesuai syariat Islam akan menghasilkan layanan kesehatan yang baik dan memuliakan, sangat menghargai nyawa seorang pasien, dan mengedepankan layanan, bukan pemasukan.  Tidak hanya mendapat layanan istimewa, saat kembali ke rumah, pasien akan dibekali sejumlah harta dan bekal agar ia dan keluarganya gembira dan bahagia.

Ini bukan cerita khayalan atau kejadian di negeri dongeng, melainkan fakta yang tertulis dengan “tinta emas” kejayaan umat Islam dalam Khilafah Islam. Jika Anda masih mendengar info sumir (singkat) bahwa Khilafah akan menghancurkan dan menyengsarakan, Anda seharusnya mencari sumber informasi yang benar, bukan hanya mendengar suara-suara sumbang yang tidak jelas.

Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Sumber: alwaie[dot]net

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *