Allah Hanya Menerima yang Baik (Syarah Hadis Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-10)

Allah Hanya Menerima yang Baik (Syarah Hadis Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-10)

Penulis: Ustaz Yahya Abdurrahman

Muslimah News, SYARAH HADIS —

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا …) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ). ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Hai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum mukmin apa yang telah diperintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman (artinya), ‘Hai para Rasul, makanlah dari sesuatu yang baik dan berbuat salehlah…’ Dia juga berfirman (artinya), ‘Hai orang-orang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah kami karuniakan kepada kalian.’ Lalu Rasul saw. menyebutkan seorang laki-laki yang telah melakukan perjalanan jauh dalam rangka ketaatan dan ibadah, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru. “Ya Rabb, ya Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan yang haram. Bagaimana bisa permintaanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, dan Abd Ar-Razaq)

Hadis ini dikeluarkan oleh Abd ar-Razaq dari Ats-Tsauri; Imam Ahmad dari Abu an-Nadhr; Imam Al-Bukhari di dalam Raf’u al-Yadayn dan Ad-Darimi dari Abu Nu’aim; Imam Muslim dari Abu Kuraib Muhammad ibn Al-‘Ala`, dari Abu Usamah; dan At-Tirmidzi dari Abd ibn Humaid dari Abu Nu’aim. Keempatnya (Sufyan ats-Tsawri, Abu an-Nadhr Hasyim ibn Al-Qasim, Abu Nu’aim al-Fadhl ibn Dukain, dan Abu Usamah Hamad ibn Usamah) dari Fudhail ibn Marzuq dari ‘Adi ibn Tsabit dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ra..

Hadis ini menjelaskan empat poin.

Pertama: bahwa Allah Swt. adalah tayib, yaitu suci dari segala kekurangan dan aib. Allah Swt. hanya akan menerima yang baik-baik saja, apakah itu perbuatan, perkataan, keyakinan, maupun harta. Perbuatan yang baik adalah perbuatan yang dilakukan ikhlas semata untuk Allah Swt., dilakukan sesuai tuntunan syariat, dan bebas dari hal-hal yang merusaknya seperti riya dan ujub.

Harta yang baik (mâl thayyib) adalah harta yang halal lagi baik. Allah Swt. tidak menerima sedekah, infak, penunaian kewajiban seperti nafkah, zakat dsb., dari harta yang haram. Rasul pernah bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُوْرٍ ، وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ

“Allah tidak akan menerima salat tanpa kesucian (dari hadas dan najis) dan juga tidak menerima sedekah dari harta haram.” (HR Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, dan Ahmad).

Kedua: Allah Swt. memerintahkan kaum mukmin seperti yang diperintahkan kepada para rasul, yaitu untuk makan dari harta yang tayib dan beramal saleh. Yang diperintahkan adalah makan dari rezeki yang tayib. Artinya, kehalalan itu harus diperhatikan bukan hanya pada makanannya saja, tetapi juga pada harta yang digunakan untuk membeli atau mendapatkan makanan itu. Makanan yang tayib itu adalah makanan yang halal dan tidak membahayakan.

Makan dari rezeki yang tayib dan beramal saleh dikaitkan dengan huruf wawu ‘athaf mengisyaratkan adanya hubungan antara kehalalan makanan dengan amal saleh. Dalam hal ini para ulama mengatakan bahwa makanan haram akan menghalangi atau setidaknya mengurangi diterimanya amal saleh. Oleh karena itu, para ulama salaf sangat memperhatikan kehalalan makanan, minuman, dan pakaian mereka karena khawatir amal mereka tidak diterima oleh Allah Swt..

Ketiga: hadis ini menjelaskan sebagian adab berdoa dan kunci dikabulnya doa, yaitu ada empat:

1. Ithâlah as-safar. Safar dalam rangka ketaatan dan ibadah. Ini bisa juga dimaknai memperbanyak ibadah, ketaatan, dan amal saleh, lalu bertawasul dengan ibadah, ketaatan, dan amal saleh itu untuk memohon kepada Allah Swt..

2. Asy’atsa aghbara (berambut kusut dan tubuh berdebu). Bisa dimaknai menampakkan ketundukan, kelemahan, kerendahan, keringkihan, dan kefakiran di hadapan Allah Swt.. Para ulama salaf jika hendak berdoa sengaja menjauhi pakaian indah, ada hiasannya, mahal, dan bergengsi. Mereka sengaja memakai pakaian sederhana tanpa hiasan. Kemudian berdoa seraya menampakkan ketundukan, kelemahan, kerendahan, keringkihan, dan kefakiran dalam sikap, suara, dan ucapan.

3. Mengangkat tangan dengan tata cara sesuai kondisinya seperti yang dijelaskan dalam banyak hadis. Mengangkat tangan ketika berdoa adalah sunah.

4. Mengawali dan mengulang-ulang sebutan rububiyah Allah Swt. (Ya Rabb, Ya Rabbiy, Rabbiy, Rabbanâ), asmaulhusna, atau bacaan Allâhumâ (Ya Allah).

Keempat: Sebagian penghalang doa. Meski keempat adab dan kunci di atas terpenuhi, doa akan terhalang jika orang yang berdoa itu, makanan, minuman, dan pakaiannya haram dan ia dikenyangkan dengan sesuatu yang haram. Harta itu mayoritasnya diperoleh dari muamalah. Sayangnya, banyak dari kaum muslim yang tidak peduli akan kehalalan dan ke-syar’i-an muamalah mereka. Mungkin karena itulah doa kaum muslim tidak segera dikabulkan oleh Allah Swt. atau jangan-jangan kita termasuk di antaranya?

Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mustajab doanya, ia harus memastikan makanan, minuman, dan pakaiannya adalah halal baik dari sisi zat maupun dari tata cara perolehannya. Ia pun harus memastikan bahwa ia hanya dikenyangkan dengan sesuatu yang halal zat dan tata cara perolehannya. Itulah pesan Rasul saw., kunci diijabahnya doa yang dipegang teguh oleh Saad bin Abi Waqash ra. yang menjadikannya salah seorang di antara sahabat yang mustajab doanya. Satu karamah beliau, setelah berdoa, maka beliau dan seluruh pasukannya beserta kuda-kuda dan perlengkapan mereka—kecuali dua orang—ketika futuhat Persia bisa menyeberangi sungai Tigris layaknya berjalan di atas air.

Demikian penjelasan hadis tentang Allah hanya menerima yang baik. Wallahualam. [MNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *