[Nafsiyah] Harta Simpanan

[Nafsiyah] Harta Simpanan

Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar

Muslimah News, NAFSIYAH — Banyak manusia yang suka menumpuk harta. Mereka gemar berburu harta dengan beragam cara, kadang dengan cara-cara tercela yang tentu mendatangkan dosa. Mulai dari korupsi, suap-menyuap, hingga riba.

Jangankan harta yang haram, harta yang halal pun akan musnah. Hanya harta yang disedekahkan yang kekal abadi. Berkaitan dengan hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba berkata, ‘Ini hartaku. Ini juga hartaku.’ Sesungguhnya hartanya itu ada tiga bagian: yang ia makan, lalu habis; yang ia pakai, lalu menjadi rusak; dan yang ia sedekahkan, itulah yang menjadi simpanannya (untuk kehidupan di akhirat).” (HR Muslim).

Oleh karenanya, jelaslah harta simpanan kita yang sebenarnya bukanlah yang kita terus tumpuk di dunia. Harta simpanan yang sebenarnya adalah yang kita sedekahkan. Karena itu seorang muslim sudah selayaknya lebih suka menumpuk harta di akhirat, yaitu dengan cara disedekahkan, ketimbang menumpuk harta di dunia. Apalagi banyak keutamaan bersedekah harta, sebagaimana telah banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an maupun sunah.

Salah satu sedekah harta terbaik adalah yang diberikan kepada fakir-miskin, orang-orang yang tengah mengalami kesulitan, atau mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Terkait ini Nabi Muhammad saw. bersabda, “Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lain. Amalan yang paling Allah cintai adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahannya, membayarkan utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk memenuhi keperluannya lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR Ath-Thabarani).

Adanya kemampuan sekaligus kemauan untuk bersedekah sebetulnya merupakan nikmat dari Allah Taala. Sebabnya, ada pahala besar yang Allah sediakan untuk kita. Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah rahimahulLaah mengatakan, “Andai saja orang yang bersedekah benar-benar paham bahwa sedekah yang ia berikan sampai terlebih dulu di tangan Allah sebelum sampai di tangan orang fakir (yang ia sedekahi), tentu nikmat orang yang memberikan sedekah jauh lebih besar daripada nikmat orang yang menerima sedekah.” (Ibnu al-Qayyim, Madaarij as-Saalikiin, 1/26).

Oleh karena itu saat kita merasa jemu/bosan dan lelah dimintai tolong/bantuan oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan/pertolongan, berarti sama saja dengan kita jemu/bosan dan lelah dengan nikmat (berupa pahala yang besar) yang Allah Swt. karuniakan kepada kita.

Di sinilah pentingnya kita untuk selalu mengingat apa yang dinyatakan oleh Fudhail bin Iyadh rahimahulLaah, “Sadarilah oleh Anda bahwa saat orang membutuhkan (bantuan/pertolongan) Anda, itu adalah sebuah nikmat dari Allah untuk Anda. Karena itu hati-hatilah, jangan sekali-kali Anda merasa jemu/bosan dan lelah dalam memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iimaan, 10/119).

Selain itu, kita pun sejatinya tidak boleh menunda-nunda untuk bersedekah atau membantu/menolong orang lain. Sufyan ats-Syauri rahimahulLaah mengatakan, “Jika engkau berkeinginan untuk bersedekah, atau melakukan suatu kebajikan, atau beramal saleh maka segerakanlah untuk ditunaikan pada waktunya sebelum engkau dipisahkan dengan keinginan tersebut oleh setan.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliyaa’, 7/62).

Dengan demikian hendaklah kita tidak membiasakan diri untuk menunda-nunda sedekah, membantu fakir-miskin, menolong orang-orang yang kesulitan, serta melakukan ragam amal kebaikan lainnya. Sebabnya, setan tidak pernah lengah untuk mencegah kita dari meraih pahala dan keberkahan dari Allah Taala.

Banyak teladan dari generasi salaf saleh dalam hal bersedekah, khususnya kepada fakir-miskin atau membantu orang-orang yang kesulitan. Di antaranya Imam Abu Hanifah. Suatu hari beliau pulang dari mengunjungi salah seorang sahabatnya yang sakit. Saat di perjalanan, ia melihat seorang laki-laki yang berusaha bersembunyi dan mencoba menghindar dengan mencari jalan lain. “Fulan, tetaplah di jalan yang engkau lalui!” seru Imam Abu Hanifah dari kejauhan.

Saat lelaki itu tahu bahwa Imam Abu Hanifah telah melihatnya, ia pun terlihat salah tingkah dan berhenti. Lalu Imam Abu Hanifah menghampirinya dan bertanya, “Mengapa engkau membatalkan untuk berjalan melalui jalan yang engkau telah lalui?”

“Abu Hanifah, saya kan masih memiliki utang 10 ribu dirham kepada Anda (sekitar Rp 700 juta). Hingga saat ini saya belum mampu melunasi utang itu. Karena itu, saat saya melihat Anda, saya sangat malu.” jawab lelaki tersebut.

“Mahasuci Allah. Keadaanmu sampai seperti ini. Jika engkau melihat aku, engkau bersembunyi. Jika demikian, aku telah merelakan hartaku itu untuk engkau dan engkau sekarang sudah bebas dari tanggungan utangmu kepadaku,” jawab Imam Abu Hanifah. (Al-Manaaqib al-Imaam Abi Haniifah, 1/206).

Contoh lainnya adalah Imam Ibnu Sirin rahimahulLaah, seorang ulama besar dari kalangan Taabi’in. Suatu saat ia pernah bertanya kepada seseorang, “Bagaimana kabarmu?”

Orang itu balik bertanya, “Bagaimana jika ada orang yang memiliki utang 500 dirham, sedangkan ia juga harus menanggung nafkah keluarganya?”

Imam Ibnu Sirin pun paham. Orang itu sedang menceritakan dirinya sendiri yang sedang mengalami kesulitan dan butuh uang. Karena itu Imam Ibnu Sirin segera masuk ke rumah dan keluar kembali dengan membawa uang 1000 dirham (sekitar Rp 70.000.000) hingga tidak ada sisa uang di rumahnya. Lalu ia berkata kepada orang tersebut, “Ini untuk melunasi hutangmu 500 dirham dan untuk menafkahi keluargamu 500 dirham.” (Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 6/1052).

Semoga kita bisa mengikuti jejak keteladanan generasi salah saleh dalam bersedekah harta.

Alhasil, yuk kita terus memperbanyak harta simpanan kita di akhirat. Caranya, sedekahkan harta kita sebanyak-banyaknya, terutama untuk menolong fakir-miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Wa mâ tawfîqi illâ bilLâh. [MNews/Nsy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *