[Nafsiyah] Ikut Melingkar

[Nafsiyah] Ikut Melingkar

Penulis: Ustaz Titok Priastomo, M.Ag.

Muslimah News, NAFSIYAH — Apa syaratnya orang ikut melingkar dan dihitung sebagai bagian dari orang-orang yang serius berusaha memahami pemikiran dan gerak?

Ukuran praktisnya, menurut saya:

Sudah mengalami proses “ledakan pikiran” akibat memahami bahwa Islam bukan sekadar “oase spiritual” yang hanya perlu dihampiri saat jiwa mengalami dahaga di tengah perjalanan. Namun, Islam adalah jalan kehidupan, di mana tidak satu pun urusan kehidupan boleh kita laksanakan di atas jalan-jalan yang lain.

Selanjutnya, mengalami kegelisahan yang memuncak akibat tiba-tiba memahami, seperti menyibak tabir yang selama ini tidak tampak, sehingga terlihat di matanya bahwa ternyata banyak urusan kehidupannya tidak berjalan di atas jalur yang semestinya. Ia pun menyadari bahwa persoalannya begitu fundamental.

Kemudian, mengerti bahwa kondisi yang ada tidak dapat diatasi seutuhnya dengan reaksi-reaksi “sporadis” atas beragam masalah yang muncul. Namun, perlu perubahan yang mendasar dan menyeluruh guna meletakkan peradaban pada fondasi dan jalur yang benar.

Selain itu, memahami bahwa perubahan semacam ini meniscayakan adanya proses perubahan pemikiran, perasaan dan akhirnya tatanan/sistem. Puncaknya adalah dengan lahirnya daulah sebagai “perangkat keras” yang akan menegakkan aturan Islam agar berbagai urusan kehidupan kembali berjalan di atas Islam, lalu menjaga Islam dan menyebarkannya.

Begitu pula, ia memahami bahwa proses itu tidak dapat dilakukan kecuali melalui usaha kolektif, dengan jalan, tahapan dan target-target yang jelas.

Terakhir, mengerti bahwa dirinya termasuk orang yang berkewajiban untuk berpartisipasi dalam proses tersebut.

Dengan begitu, ia punya alasan kuat untuk melingkar, selama tidak (atau belum) menemukan alternatif lain yang sesuai dengan pandangannya atas Islam, atas hakikat persoalan umat, dan jalan menuju penyelesaiannya.

Jika tidak begitu, mungkin ia hanya akan datang melingkar sebagai anak yang disuruh ayahnya atau gurunya untuk duduk di sana sekalipun dengan jiwa yang “kosong”, tanpa “kobaran api yang menyala-nyala”, kemudian memberi beban statistik. Wallahualam. [MNews/YG]

Sumber: t.me/infoquwwah/1940

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *