[Dunia Remaja] The Power of Ramadan

[Dunia Remaja] The Power of Ramadan

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Asyiknya puasa, kita serasa dimanja. Di sekolah, kegiatan belajar juga dijadwalkan supaya enggak memberatkan yang puasa. Sudah mah jam belajar dipangkas, eh ada libur awal dan akhir Ramadan pula. Di rumah, kondisinya juga enggak jauh beda.

Kita punya alasan untuk bermesraan dengan guling seharian. Mager setiap saat. Kan tidurnya orang puasa berpahala. Ciee..pake dalil segala. Padahal mah, udah bawaan orok tuh gampang tidur lupa bangun. Puasa enggak puasa, teteeep!

Padahal, kalau kita becermin pada para sahabat, meski puasa, mereka tetap perkasa. Lembaran sejarah Islam mencatat dengan tinta emas kisah-kisah kemenangan umat Islam yang diraihnya saat Ramadan. Coba deh simak.

1 Ramadan 587 H. Penghancuran dan penguasaan kota ‘Asqolan yang merupakan pintu masuk menuju kota Al-Quds. Penghancuran dan penguasaan kota ini dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai strategi menahan laju kekuatan kaum salib (Nasrani) yang akan merebut kota Quds.

Pada hari penaklukannya Shalahuddin al-Ayyubi berkata, “ Demi Allah sesungguhnya penghancuran benteng di ‘Asqolan lebih aku sukai walaupun aku harus kehilangan seluruh anakku, karena penguasaan ‘Asqolan adalah demi kemaslahatan Islam dan kaum musim”. Sekarang Kota ‘Asqolan dikenal dengan nama Kota Asduud di negara Palestina.

6 Ramadan 223 H. Sultan al-Mu’tasim seorang khalifah ‘Abasiyah mengadakan pengepungan terhadap Kota ‘Umuriyah’ yang merupakan benteng pertahanan terkuat kerajaan Benzantiniyyah di Asia kecil. Usaha beliau berhasil dengan takluknya kota tersebut.

9 Ramadan 222 H. Panglima Al-Afsyiin salah satu panglima perang Khalifah ‘Abasiyah Al-Mu’tasim bin Harun ar-Rasyid mampu menaklukkan Kota Albadz, pusat pemerintahan Babak al-Khurmi setelah melakukan pertempuran dan pengepungan selama dua tahun penuh.

Faktor pemberontakan Babak al-Khurmi yang dimulai tahun 201 H pada masa Khalifah Ma’mun adalah keinginannya untuk merebut kekhalifahan dari ras Arab yang muslim untuk ras Faris dan Majusi. Selain itu, mereka pun menolak segala bentuk peribadahan seperti salat, saum, zakat, haji, dan menghalalkan minum arak dan menghalalkan segala yang diharamkan oleh Islam. Oleh karenanya, pantas diperangi.

17 Ramadan 2 H. Perang Badar al-Kubra. Boleh dibilang, ini adalah perang “hidup-mati” antara kaum musim dengan orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah pernah merasa takut kalau pertempuran itu akan memusnahkan kaum mukminin Madinah di muka bumi ini. Beliau berdoa kepada Allah, “Ya, Allah, jika kelompok ini sekarang binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini.”

Untungnya, Allah Swt. turut ’campur tangan’ dalam peperangan tersebut. Dan hasilnya, 313 tentara kaum musim berhasil menghajar telak dan melibas 1.000 pasukan kaum kafir Quraisy.

20 Ramadan 8 H. Futuh Makkah (Penaklukan Makkah). Rasulullah saw. keluar bersama 10 ribu pasukan perang dari kaum Muhajirin dan Anshar menuju Makkah. Faktor keberangkatan beliau disebabkan penyerangan yang dilakukan kabilah Bani Bakar sekutu kaum Quraisy terhadap sekutu Rasulullah saw., kabilah Khuza’ah yang berarti pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati antara kaum Quraisy dengan Rasulullah saw.. Penaklukan kota Makkah berhasil dengan gemilang tanpa melalui peperangan.

25 Ramadan 658 H. Perang Ain Jalut yang terjadi antara kaum musim dan Tartar merupakan perang yang besar dalam sejarah Islam. Hal itu dikarenakan Tartar mampu menguasai banyak daerah Islam, menjatuhkan Khilafah Abbasiyah, dan berhasil membunuh Khalifah Mu’tashim Billah di Baghdad pada 656 H / 1256 M. Bahkan meminta Sultan Mamluki “Quds” untuk tunduk di bawah kekuasaannya. Permintaan ini ditolak dan Sultan memutuskan untuk menghadapi Tartar dalam peperangan.

Pada hari Jumat tanggal 25 Ramadan 658 H, bertemulah dua pasukan besar di wilayah Ain Jalut. Dalam peperangan ini Sultan Quds mengumandangkan syair, “Wahai Allah tolonglah hamba-Mu Quds dari kaum Tartar.” Peperangan ini berakhir dengan kemenangan kaum musim.

28 Ramadan 92 H. Kisah kemenangan kaum musim pada hari ini dimulai dengan persiapan Musa bin Nashir dengan pasukan dari Arab dan Barbar yang jumlahnya mencapai 7 ribu tentara di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan wilayah Andalus. Berangkatlah Thariq bersama pasukan dengan menyeberangi laut pada hari Senin tanggal 5 Rajab 92 H dan mereka mampu memenangkan peperangan menghadapi sekumpulan pasukan Qouth dalam perjalanan menuju ibu kota Andalus.

Akan tetapi, musuh kembali menghimpun kekuatan di bawah pimpinan Raja Qouth, Rodrik, dengan pasukan sejumlah 100 ribu tentara. Lalu mereka berjalan menuju selatan untuk menundukkan kekuatan kaum musim. Untuk menghadapi kekuatan musuh yang besar, maka dikirimlah pasukan tambahan sejumlah 5 ribu tentara sehingga jumlah pasukan Islam di bawah pimpinan Thariq berjumlah 12 ribu tentara. Bertemulah dua pasukan yang tidak seimbang dari segi jumlah pasukan di tepian sungai Wadilaka.

Peperangan terjadi selama empat hari dan pada hari keempat pasukan Qouth mampu dikalahkan dengan menelan kerugian yang sangat besar. Tidak sampai satu tahun, wilayah Andalus dapat ditaklukkan hampir 100% sehingga terbentuklah sebuah wilayah yang maju dalam ilmu pengetahuan dan peradaban.

Tuh, kebayang enggak sih. Udah mah puasa, ‘dipanggang’ panas terik matahari, menjelajah gurun pasir yang gersang, dan satu lagi…, harus perang! Wah, pastinya berat banget ya jalaninnya. Untung perjuangan kaum musim dilandasi dengan keimanan kepada Allah Swt.. Jadinya enggak gampang mundur, apalagi kabur dari medan tempur. Malah mereka tambah semangat karena yakin dengan pertolongan Allah Swt.. Laahaula walaa quwwata illa billahi!

Meski Puasa, Tetap Perkasa, Ini Caranya!

Kita bisa belajar banyak dari orang-orang yang tetap produktif walau puasa. Mereka bukan termasuk orang yang berbadan kekar kayak atlet binaraga. Bukan juga jelmaan superhero Marvel atau DC. Mereka sama seperti kita, kok. Punya rasa lapar dan haus. Cuma mungkin, mereka lebih bisa mengendalikan nafsunya. Jadi enggak gampang tergoda untuk memanjakan dirinya. Mentang-mentang puasa, jadi lemah tidak berdaya. Enggak, lah, yauw!

Kita juga bisa belajar pada keperkasaan mereka yang komitmen berhijrah. Move on dari kemaksiatan menuju ketaatan. Meski menghadapi banyak tantangan, tidak surut semangatnya mengejar ampunan. Terutama pada bulan Ramadan, saat rida Allah Swt. membersamai mereka dalam ibadah dan amal salehnya demi menghapus dosa.

Untuk jadi perkasa, yang kita perlu lakukan cuma satu. Bangun dan perkuat benteng akidah sebagai pertahanan untuk menaklukkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu kalau enggak dikendalikan bisa menginjak-nginjak harga diri kita sebagai hamba Allah. Itu yang bikin kita lemah bin letoy. Seperti diingatkan dalam firman-Nya,

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. ” (QS Shâd [38]: 26).

Jalan yang paling pas untuk memperkuat benteng akidah adalah dengan mengenal Islam lebih dalam. Plus getol beribadah dan berdakwah. Biar lebih ngejoss, banyak deh bergaul dengan orang alim dan takwa agar keimanan tetep terjaga. Kalau keimanan kita udah tangguh, insyaallah hawa nafsu juga bakal ngeper. Fisik kita pun lebih siap ngadepin tantangan demi meraih rida Allah Swt.. Enggak peduli meski badan tinggal tulang. Yang penting, pantang menyerah meraih berkah!

Nah, mumpung sekarang bulan puasa, jangan sampe waktu terbuang percuma. Nikmati kegiatan pesantren Ramadan demi menimba ilmu. Luangkan waktu untuk tilawah Al-Qur’an. Syukur-syukur bisa khatam 30 juz minimal satu kali selama Ramadan. Yang ini juga enggak boleh kelewat, salat tarawih sebulan penuh.

Ini semua yang melahirkan the power of Ramadan dalam diri kita. Semoga Allah Swt. memasukkan kita dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Meski puasa, tetap perkasa! [MNews/Rgl]

Sumber: Buletin Teman Surga Edisi 216

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *