Penulis: M. R. Kurnia, dkk.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Terdapat lima model kepemimpinan yang telah dikembangkan dalam studi-studi, yaitu: pertama, model watak kepemimpinan; kedua, model kepemimpinan situasional; ketiga, model kepemimpinan yang efektif; keempat, model kepemimpinan kontingensi; kelima, model kepemimpinan transformasional.
Dari kelima model di atas diperoleh kesimpulan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu menggugah yang dipimpin untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Hal ini terutama dengan berjalannya dua fungsi utama kepemimpinan yakni fungsi pemecahan masalah (pemberi solusi) dan fungsi sosial (fasilitasi).
Kepemimpinan seperti ini mengharuskan dimilikinya sejumlah syarat dalam diri seorang pemimpin yaitu:
1. Kejujuran terhadap diri sendiri (integrity).
2. Sikap pertanggungjawaban yang tulus (compassion).
3. Pengetahuan (cognizance).
4. Keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment).
5. Kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence).
7. Kemampuan untuk meyakinkan orang lain dalam membangun organisasi (communication).
Syarat ini dibutuhkan mengingat kepemimpinan yang efektif sangat diandalkan untuk mengatasi beragam persoalan organisasi yang terus tumbuh dan dinamis dalam lingkungan yang kompleks dan terus berubah. Sebuah kondisi yang menuntut setiap organisasi untuk secara menerus mentransformasikan seluruh aspek manajemen internal organisasi agar selalu relevan dengan kondisi lingkungan yang dimasukinya.
Dari semua model kepemimpinan tersebut, model kepemimpinan yang dinilai paling ideal untuk menjalankan kepemimpinan secara efektif serta memenuhi sejumlah syarat tersebut di atas adalah model kepemimpinan yang terakhir, yakni model kepemimpinan transformasional. Model inilah yang dinilai mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan inovasi guna meningkatkan daya tahan organisasi dalam dunia yang makin kompetitif.
Sarros dan Butchatsky (1996) juga menyebut model kepemimpinan transformasional sebagai model kepemimpinan penerobos (breaktrough leadership). Disebut penerobos karena pemimpin dengan tipe ini memiliki kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan memperbaiki kembali karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi, memulai proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses, dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan.
Pemimpin mampu membawa perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan pengikut karena memiliki pemikiran metanoiac (meta: perubahan, nous/noos: pikiran; Yunani).
Selain Sarros dan Butchatsky (1996), terdapat sejumlah ahli manajemen lainnya juga memberikan apresiasi yang sama terhadap model kepemimpinan transformasional atau metanoiac ini. Idealnya model kepemimpinan ini dikarenakan model ini memiliki empat dimensi kepemimpinan yang disebut empat I berikut:
1. Idealized influence (pengaruh ideal). Dalam dimensi ini digambarkan bahwa pemimpin memiliki perilaku yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati, dan sekaligus mempercayainya.
2. Inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini pemimpin metanoiac digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan/pengikut, mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugat spirit tim melalui penumbuhan antusiasme dan optimisme.
3. Intelectual stimulation (simulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan/pengikut, memberikan motivasi pada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
4. Individualized consideration (konsiderasi individu). Dalam dimensi ini pemimpin metanoiac mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan/pengikut serta secara khusus mau memperhatikan kebutuhan bawahan/pengikut serta secara khusus mau memperhatikan kebutuhan bawahan/pengikut akan pengembangan karir.
Sekalipun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru, tetapi beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi tersebut. [MNews/Rgl]
