Ramadan Syahr al-Jihad: Mengukuhkan Perjuangan Menegakkan Dinullah (Ringkasan Tafsir Balaghah QS Muhammad: 7)

Ramadan Syahr al-Jihad: Mengukuhkan Perjuangan Menegakkan Dinullah (Ringkasan Tafsir Balaghah QS Muhammad: 7)

Penulis: Ustaz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I.

Muslimah News, TAFSIR AL-QUR’AN — Ramadan syahr al-tadhhiyyat (bulan pengorbanan), hal itu ditandai dengan besarnya pengorbanan Rasulullah ﷺ dan para sahabat memperjuangkan tegaknya Dinullah dalam kehidupan. Setidaknya dibuktikan dengan besarnya pengorbanan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam dua peristiwa monumental yang bersejarah bagi kehidupan umat manusia, yang terjadi pada bulan suci Ramadan: jihad Badar al-kubra dan penaklukan Kota Makkah.

Jihad Badar al-Kubra misalnya, terjadi pada 17 Ramadan al-Mubarak menandai peristiwa politik: momentum eksisnya kekuatan politik Islam yang dikomandoi langsung oleh Rasûlullâh ﷺ berpusat di Yasrib (Madinah al-Munawwarah) pascahijrah dari Makkah, setelah meraih dukungan riil dari ahl al-quwwah (suku Aus dan Khazraj) yang diproklamasikan dalam Baiat Aqabah II.

Dalam peperangan ini, digambarkan besarnya pengorbanan kaum muslim. Mereka hanya berjumlah sekitar 300 orang harus menghadapi 1.000-an pasukan kaum kafir Quraisy, sebagaimana digambarkan dalam banyak catatan sirah nabawiyah.

Menariknya, ada momen agung yang dikisahkan catatan-catatan sirah, ketika para sahabat yang mulia ini meyakinkan Rasulullah ﷺ akan kesiapan mereka menjadi pembela Dinullah, membersamai Rasulullah ﷺ dalam perjuangan hingga kaum muslim pun meraih kemenangan gemilang dalam jihad Badar al-Kubra, sebagaimana disebutkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam buku sirah-nya, Ru’yatun Siyâsiyyatun Li al-Sîrah al-Nabawiyyah.

Peristiwa agung ini terjadi pada bulan suci Ramadan, cukup menunjukkan bahwa bulan suci ini bukan waktu untuk bermalas-malasan dan berpangku tangan, melainkan momentum pengukuh basis perjuangan Islam, momentum untuk mengasah keikhlasan dan kesungguhan berkorban dalam perjuangan menegakkan Dinullah dalam kehidupan, serta membela para pejuangnya dari segala kezaliman. Relevan dengan pujian Rasulullah ﷺ bahwa saum adalah junnah (perisai) dari kemungkaran dan mengandung hikmah membentuk insan yang bertakwa (QS Al-Baqarah [2]: 183), ketakwaan adalah kunci kemenangan kaum muslim.

Mari kita tilik catatan sirah, apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika perang Badar al-Kubra? Beliau mempersiapkan para sahabat dengan baik, dan memastikan kesiapan para sahabatnya berjuang dengan landasan motivasi ruhiyah (al-quwwah al-rûhiyyah).

Rasulullah ﷺ dan para mujahid badar pun memenuhi hukum sebab akibat untuk meraih kemenangan, di samping menjaga ketakwaan mereka. Mereka bermusyawarah merumuskan strategi yang tepat, mempersiapkan senjata dan mengenakan baju perang (semisal baju besi). Tidak cukup sampai di sini, Rasulullah ﷺ pun melengkapi ikhtiarnya dengan memperbanyak doa kepada Allah, di samping tawakal pada-Nya. Nabi ﷺ bersabda ketika berada di Qubbah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Ya Allah, sungguh aku benar-benar memohon kepada-Mu akan perjanjian dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau menghendaki (kehancuran pasukan Islam ini) maka Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini”.

Maka Abu Bakar memegangi tangan beliau ﷺ dan berkata, “Cukup wahai Rasulullah. Sungguh Tuan telah bersungguh-sungguh meminta dengan terus-menerus kepada Rabb Tuan.”

Saat itu beliau ﷺ mengenakan baju besi lalu tampil sambil bersabda membacakan firman Allah Swt.,

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ {٤٥} بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَىٰ وَأَمَرُّم {٤٦}

“Kesatuan musuh itu pasti akan dicerai-beraikan dan mereka akan lari tunggang langgang. Akan tetapi, sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka (siksaan) dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit (QS Al-Qamar [54]: 45-46).” (HR Al-Bukhari, Ahmad).

Bi nashriLâh, para mujahid Badar yang berjumlah 300 jiwa lebih beberapa puluh orang, bisa mencerai-beraikan, menggempur, dan mengalahkan sekitar 1.000 orang pasukan kafir Quraisy. Satu hal yang perlu dipahami bahwa kemenangan adalah pertolongan Allah (nashrullah), kaum muslim harus mempersiapkan dan melayakkan dirinya menerima pertolongan dari-Nya, hal itu dibuktikan kemudian dengan kemenangan besar yang diraih kaum muslim pada bulan suci Ramadan, yakni penaklukan Kota Makkah (Fath Makkah) dari tangan kaum Kafir Quraisy.

Menandai momentum meluasnya kekuasaan politik negara Rasulullah ﷺ, dari Madinah berekspansi hingga ke Makkah hingga kaum musyrik Quraisy tunduk kepada kekuasaan Islam dan secara sukarela berbondong-bondong masuk Islam menyaksikan keluhuran akhlak Islam. Peristiwa agung ini diabadikan dalam QS Al-Nashr [110]: 1-3, dan menariknya hal itu disifati sebagai buah pertolongan-Nya (bi nashrillah).

Kedua kemenangan besar tersebut terjadi ketika umat Islam menegakkan ibadah saum Ramadan, maka sangat relevan jika bulan Ramadan pun harus dijadikan sebagai momentum menolong agama-Nya dan para pejuangnya, serta mendukung gerakan dakwah Islam yang didirikan untuk merealisasikan perintah agung-Nya dalam QS Ali Imran [3]: 104, suatu kelompok dakwah yang berdiri di atas landasan akidah Islam, kumpulan dari para kader dakwah yang berupaya berpegang teguh kepada tali agama Allah (QS Ali Imran [3]: 103), mendakwahkan penegakan hukum-hukum syariat, menyuruh kepada yang makruf, dan melarang dari yang mungkar (QS Ali Imran [3]: 104).

Dakwah ilallah jelas merupakan salah satu amal saleh yang menjadi sebab turunnya pertolongan Allah. Allah ’Azza wa Jalla berjanji meneguhkan kedudukan mereka yang menolong Din-Nya dan ini menjadi syarat bagi datangnya pertolongan dari-Nya, sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ {٧}

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS Muhammad [47]: 7).

Pesan agung dalam ayat ini, diawali dengan seruan (khithâb) kepada orang-orang yang beriman, al-mu’minûn wa al-mu’minât. Allah Swt. menggunakan bentuk ungkapan syarat dan jawabnya (al-jumlah al-syarthiyyah), dengan perangkat (adat al-syarth) yakni in (إِنْ): jika kalian menolong Allah (إن تنصروا الله), menunjukkan bahwa turunnya pertolongan Allah, terikat dengan syarat keimanan yang dibuktikan dengan menolong Din-Nya.

Istimewanya, dalam ayat ini Allah menisbahkan pertolongan hamba-hamba-Nya kepada-Nya, padahal Allah Swt. Maha Kuasa atas segala perkara, tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya.

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ {٦}

“Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.”(QS Al-’Ankabût [29]: 6).

Menurut Imam Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi (w. 338 H) dan al-Qadhi Badruddin Ibn Jama’ah al-Syafi’i (w. 733 H), bentuk ungkapan tersebut merupakan bentuk kiasan (majâz).[1] Yang disebutkan Allah, tetapi maksudnya adalah dinullah (agama Allah).

Perinciannya, yakni dengan menghilangkan bentuk idhâfah dari kata Allah[2]: yakni menghilangkan kata din di depan lafaz jalâlah (Allah), karena makna sebenarnya adalah menolong Rasul-Nya, Din-Nya[3], syariat-Nya, dan kelompok pembela Din-Nya (hizbullah)[4], dalam ilmu al-ma’âni, ini yang diistilahkan al-îjâz bi al-hadzf (bentuk meringkas perkataan dengan menghilangkan bagian), yang berfaedah lebih menguatkan makna yang dikehendaki daripada penyebutannya secara lengkap,[5] menunjukkan betapa agungnya kedudukan aktivitas menolong Dinullah. Secara praktis, hal itu pun ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, termasuk pada bulan suci Ramadan ini.

Ada pelajaran agung yang menggambarkan kunci-kunci meraih nashrullah yang bisa dipetik dalam ulasan di atas, untuk diaplikasikan dalam dakwah memperjuangkan Islam:

Pertama, pentingnya landasan keimanan dan ketakwaan yang menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.

Kedua, menegakkan hukum kausalitas yang relevan untuk meraih kemenangan, ditunjukkan dengan istikamah menetapi metode dakwah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.

Ketiga, memanjatkan doa-doa memohon kemenangan dakwah, disertai ketawakalan dan kesiapan senantiasa bersabar dalam ketaatan menghadapi berbagai ujian yang akan mengadang.

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه

[MNews/Rgl]

[1] Yakni dalam tinjauan ilmu balaghah: ‘ilm al-bayân. Lihat: Abu Ja’far al-Nahhas al-Nahwi, I’râb al-Qur’ân, juz IV, hlm. 119; Badruddin Ibn Jama’ah, Îdhâh al-Dalîl fî Qath’i Hujjaj Ahl al-Ta’thîl, Mesir: Dâr al-Salâm, cet. I, 1410 H, hlm. 117.

[2] Abu al-Fath ‘Utsman bin Jinni al-Maushuli, Al-Muhtasib fî Tabyîn Wujûh Sawâdz al-Qirâ’ât wa al-Îdhâh ‘anhâ, Wizârat al-Awqâf, 1420 H/1999, juz I, hlm. 188.

[3] Ahmad bin Muhammad al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, juz IX, hlm. 31.

[4] Fakhruddin al-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, juz VIII, hlm. 42.

[5] Dr. Abdul Aziz bin Ali al-Harbi, Al-Balâghah al-Muyassarah, hlm. 51.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *