Muslimah News, EDITORIAL — Penistaan terhadap Al-Qur’an kembali terjadi. Kali ini pelakunya adalah seorang politisi sayap kanan Denmark berkewarganegaraan Swedia, bernama Rasmus Paludan. Ia melakukan aksi pembakaran Al-Qur’an di depan kedutaan Turki di Stockholm, ibu kota Swedia, pada Sabtu, 21 Januari lalu.
Paludan memang dikenal sebagai politisi sekaligus youtuber rasis dan anti-Islam. Ia dan kelompoknya kerap menyuarakan pandangan antiimigran dan anti-Islam. Hal ini terutama setelah pada 2015 Eropa mengalami krisis keuangan akibat arus migrasi kaum muslim yang terus meningkat.
Respons Basa-basi
Aksi Paludan ini konon dipicu sikap Turki yang dianggap mempersulit Swedia masuk ke dalam NATO, serta sikap Turki kepada kelompok Kurdi. Sejak 2019, Swedia dan Finlandia memang sudah mengajukan diri dalam keanggotaan NATO dan butuh dukungan dari 30 negara, termasuk Turki. Namun, pihak Turki mensyaratkan agar Swedia bersikap tegas terhadap kelompok militan Kurdi yang selama ini mereka lindungi dan dianggap teroris oleh pihak Turki.
Hanya saja, dalam pandangan Turki, pemerintah Swedia dan Finlandia tidak serius merealisasikan tuntutan ini. Pemerintahan Swedia malah tampak membiarkan, bahkan mengizinkan kelompok pro Kurdi melakukan aksi provokasi, termasuk aksi menggantung patung Presiden Turki di dekat Balai Kota Stockholm. Dalam kasus Paludan pun memang tampak bahwa pemerintah Swedia malah memberi dukungan atas nama jaminan kebebasan.
Tentu saja peristiwa ini mengundang kecaman dari berbagai pihak, terutama dari dunia Islam. Sampai-sampai Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson dan Menlunya Tobias Billstrom merasa perlu mengklarifikasi di Twitter-nya bahwa jaminan kebebasan yang diberikan pemerintah bukan untuk hal seperti ini. Mereka pun turut mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang sangat tidak sopan, seraya menyatakan bahwa provokasi islamofobia itu sangat mengerikan.
Turki sendiri tentu paling keras mengutuk aksi ini. Presiden Erdogan menyatakan, tindakan keji tersebut membuat Turki tidak sudi memenuhi permohonan Swedia untuk bergabung ke dalam NATO.
Begitupun di dunia Arab, seperti Arab Saudi, UEA, dan Kuwait. Rata-rata mereka menyatakan mengutuk keras aksi-aksi yang disebut bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan moral ini. Arab Saudi bahkan menyerukan pentingnya menyebarkan nilai-nilai dialog, toleransi, dan hidup rukun berdampingan, serta menolak kebencian dan ekstremisme. Sedangkan Kuwait menyerukan agar komunitas internasional mengambil tindakan tegas.
Adapun Indonesia dalam akun Twitter resmi @Kemlu_RI tertulis utas, “Indonesia mengutuk keras aksi pembakaran Kitab Suci Al-Qur’an oleh Rasmus Paludan, politisi Swedia, di Stockholm (21/1).” Juga menyatakan, “Aksi penistaan kitab suci ini telah melukai dan menodai toleransi umat beragama. Kebebasan ekspresi harus dilakukan secara bertanggung jawab.”
Begitupun negara-negara lainnya, seperti Malaysia, Qatar, Iran, Mesir, Oman, Afghanistan, Pakistan, Maroko, Azerbaijan dan lainnya, semua menyampaikan kutukan dan keprihatinan. Bahkan, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) secara kelembagaan mengeluarkan pernyataan resmi, “Pembakaran Al-Qur’an itu adalah tindakan provokatif yang menargetkan umat muslim dan menghina nilai-nilai suci kami.” Begitupun International Union for Muslim Scholars (IUMS) meminta negara-negara muslim untuk memanggil duta besar Swedia untuk menuntut permintaan maaf dari pemerintah Swedia atas insiden tersebut.
Hanya saja, seperti biasanya, semua keprihatinan, kutukan, dan kecaman yang disampaikan tampaknya hanya berhenti pada kata-kata tidak berarti. Faktanya, tidak ada satu pun dari pemimpin negeri muslim ini yang bisa mengambil tindakan nyata agar kejadian mengenaskan seperti ini tidak akan terulang kembali.
Menunggu Penguasa Bernyali
Sebagaimana diketahui, aksi Paludan ini bukan sekali ini saja terjadi. Setidaknya ia pernah melakukan aksi yang sama pada tahun 2017, 2020, dan April 2022. Selain membakar, menyobek, dan meludahi Al-Qur’an, ia dan gerombolannya pun pernah melakukan aksi membungkus Al-Qur’an dengan daging babi. Lalu mereka menyiarkan semua aksinya ini secara live untuk memicu kemarahan umat Islam di berbagai negeri.
Ironisnya, semua aksi tersebut selalu dilakukan dengan izin dan pengawalan aparat keamanan dengan dalih jaminan kebebasan tadi. Dalam hal ini, Paludan pun tidak sendiri. Aksi-aksi yang ia lakukan memang sejalan dengan kian masifnya gerakan islamofobia di belahan bumi Eropa. Penistaan terhadap simbol-simbol Islam, serta aksi-aksi diskriminatif atas umat Islam memang makin masif terjadi di negeri pemuja kebebasan ini.
Di Prancis, misalnya, koran Charlie Hebdo berulang kali melakukan penistaan Nabi Muhammad saw.. Hijab diserang dan dilarang di sekolah-sekolah. Begitupun di Belanda dan negeri-negeri lainnya, umat Islam kerap mengalami perundungan dan stigma negatif sebagai pelaku teror dan pembawa keburukan.
Namun, para pemimpin muslim hanya bisa mengutuk dan mengecam, tanpa ada tindakan riil yang bisa dilakukan. Para pewaris kejayaan dan kemuliaan peradaban Islam itu, bahkan hanya mampu terdiam dan bersembunyi di balik narasi menjaga perdamaian internasional dan alasan menjaga masing-masing kedaulatan dan urusan internal.
Lucunya, di antara mereka pun ada yang mengharapkan agar urusan kemuliaan agama mereka diselesaikan oleh lembaga-lembaga internasional. Padahal, histori kehadiran lembaga-lembaga ini berkaitan dengan ikhtiar Barat untuk melumpuhkan kekuatan politik Islam. Dengan demikian, bagaimana bisa hari ini mereka berharap lembaga-lembaga buatan Barat itu akan membela kepentingan Islam?
Runtuhnya muruah para pemimpin muslim memang sejalan dengan kian lemahnya muruah umat akibat menerima akidah sekularisme sebagai asas kehidupan. Bangsa Turki yang pernah dimuliakan dengan Islam, bahkan berabad-abad mewarisi kepemimpinan umat Islam dunia misalnya, kini berubah menjadi entitas tanpa identitas. Pemimpinnya tanpa malu terus-menerus mengemis pengakuan dari bangsa-bangsa yang sepanjang sejarahnya terus memusuhi Islam dan umatnya.
Bahkan, di balik citra islami yang dibangunnya, serta sikap keras yang ditunjukkannya pada Amerika dan Yahudi, pemimpin Turki sekarang justru rela menggandeng tangan musuh-musuhnya. Kehadiran Presiden Israel Isaac Herzog atas undangannya ke Turki pada 9 Maret 2022, dan pertemuannya dengan komunitas Yahudi Turki dan anggota Aliansi Rabi di negara-negara Islam pada saat itu, telah tegas menandai proses normalisasi hubungan antara Turki dengan Yahudi. Padahal Zionis Yahudi jelas-jelas telah merampas kedaulatan warga Palestina, dan merampas tanah milik umat Islam sedunia.
Begitupun dengan pemimpin-pemimpin muslim lainnya. Tidak ada satu pun yang bisa diharapkan bisa menjadi pembela sejati bagi Islam dan umat Islam di dunia. Semua tenggelam dalam ambisi mempertahankan kedudukan dan posisi sebagai pengikut kesayangan negara-negara besar. Tidak heran jika begitu banyak persoalan umat yang tidak bisa diselesaikan. Padahal, jumlah mereka lebih dari 1,5 miliar dan potensi mereka jika dikumpulkan pasti akan menjadi satu kekuatan besar.
Ya, potret umat Islam di dunia benar-benar begitu buram. Kaum muslim Palestina, India, Rohingya, Uighur, dan lainnya masih harus bersabar menghadapi kekejaman para penguasa mereka. Di belahan negeri lainnya, umat Islam yang sejatinya kaya raya harus bertahan dengan kemiskinan ekstrem akibat konflik yang dipelihara atas campur tangan negara-negara adidaya, demi melanggengkan penjajahan mereka.
Sebagian lagi tenggelam dalam utang riba yang menghilangkan kedaulatan negerinya. Lantaran selain eksploitasi dan perampokan sumber daya alamnya, penerapan kapitalisme global telah berhasil melemahkan semua sisi kekuatan umat Islam, mulai dari pemikiran hingga aspek politiknya sehingga mereka menjadi objek jajahan.
Harapan Umat Islam
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas hidangan.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami saat itu?” Beliau bersabda, “Bahkan, kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Inilah gambaran umat Islam sekarang. Mereka kehilangan muruah, lantaran tidak lagi berpegang teguh pada Islam. Para pemimpinnya lebih haus kekuasaan dan tidak punya keberanian melawan musuh-musuh Islam. Mereka, bahkan rela mengkhianati umat dan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang menghendaki keburukan pada Islam dan umat Islam.
Tentu kita tidak ingin situasi ini terus terjadi. Umat Islam harus dibangunkan dari mimpi. Mereka punya kesempatan besar mengubah keadaan yang sangat buruk ini dengan bersama menggagas perubahan hakiki ke arah Islam. Yakni ke arah terwujudnya kepemimpinan Islam sebagaimana yang telah disyariatkan.
Sejarah membuktikan, saat kepemimpinan Islam tegak, muruah Islam dan umatnya benar-benar terjaga. Tidak ada satu pun musuh yang berani bertindak gegabah, melainkan pemimpin Islam siap mengangkat senjata.
Banyak kisah penaklukan bangsa-bangsa yang diawali kecerobohan para penguasanya dengan melakukan penghinaan atas Islam dan umatnya. Dengan penuh wibawa, penguasa muslim membela rakyatnya hingga musuh tunduk dan menyerah di bawah kakinya.
Kepemimpinan Islam yang ideal seperti ini tentu akan lahir manakala umat memiliki kesadaran yang benar bahwa kemuliaan hidup, bahkan mati mereka hanya ada pada tegaknya Islam. Ini karena Islam adalah sebuah sistem hidup yang tegak di atas asas yang lurus, sekaligus memancarkan berbagai aturan yang menyolusi seluruh problem hidup. Alhasil Islam adalah asas bagi tegaknya sebuah peradaban cemerlang, di bawah satu komando kepemimpinan yang lahir dari umat berkesadaran.
Hanya saja, kesadaran umat akan Islam dan urgensi hidup di bawah kepemimpinan Islam ini, mengharuskan dakwah masif di tengah-tengah mereka. Dakwah seperti ini tentu butuh kesabaran dan keseriusan karena begitu banyak racun pemikiran yang telah ditanamkan musuh dalam tubuh umat Islam. Mulai dari racun akidah hingga standar-standar perbuatan.
Umat pun harus diberi gambaran utuh tentang ruang lingkup ajaran Islam, diluruskan tentang visi hidup dan makna kebahagiaan, soal makna hakiki persaudaraan Islam, juga tentang gambaran penerapan syariat Islam. Dengan demikian, pada diri umat akan muncul kerinduan untuk hidup dalam naungan Islam hingga Islam tidak lagi menjadi sekadar nama, tetapi benar-benar mewujud dalam kehidupan mereka.
Inilah cikal bakal kembalinya peradaban cemerlang yang akan mengungguli peradaban-peradaban lainnya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.“ (QS Ali Imran: 110). [MNews/SNA]

Musuh itu berani karena tau lawan tak punya nyali, semua sedang sibuk mengurusi urusan perut dan bawah perut, belum lagi banyak yang tertidur pulas karena pingsan mabuk dunia.
Musuh itu berani karena tau lawan tak punya nyali. Sebahagian besar sedang pingsan mabuk dunia.