[Nafsiyah] Antara Syafaat dan Terusir dari Telaga Rasulullah ﷺ

[Nafsiyah] Antara Syafaat dan Terusir dari Telaga Rasulullah ﷺ

Muslimah News, NAFSIYAH — Penulis sungguh miris menyaksikan sebuah konten yang berisikan pertanyaan pada umat Islam di suatu tempat terkait Nabi saw.. Saat itu penanya bertanya ke banyak orang dari kalangan umat Islam, baik remaja maupun dewasa, “Siapakah nabi setelah Nabi Isa as.?”  Kebanyakan dari mereka menjawab tidak tahu. Hanya sedikit sekali yang menjawab Nabi Muhammad saw..

Memang konten tersebut tidak bisa dianggap bahwa sebagian umat Islam tidak mengetahui urutan Nabi dan Rasul dalam Islam. Namun, hal itu menjadi salah satu bukti bahwa di kalangan umat Islam masih ada yang tidak mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw. ialah nabi dan rasul penutup.

Syariat yang dibawanya menjadi penyempurna syariat nabi dan rasul sebelumnya. Pertanyaan berikutnya yang akan kita ajukan ialah, “Syafaat siapakah yang hendak kita harapkan jika selama di dunia melupakan Nabi Muhammad saw.?” Padahal Nabi saw. tidak sedikit pun melupakan segala perkara tentang umatnya hingga menjelang kematian, Nabi tetap menyebut umatnya.

Ada enam syafaat yang bisa diperoleh oleh umat Islam dari Nabi Muhammad saw.. Pertama, asy-syafa’ah al-kubra (syafaat yang besar). Mengapa disebut besar?  Karena hanya Nabi Muhammad saw. yang dapat melakukannya. Seluruh nabi dan rasul selain diri beliau tidak mampu melakukannya.

Hal itu terjadi saat umat manusia menjelang dihisab dalam pengadilan hari akhir. Di Padang Mahsyar yang sangat memberatkan manusia, tiap orang lantas mendatangi nabi-nabi mereka. Namun, tiap nabi itu menolak hingga sampailah pada Nabi Muhammad saw.. Kemudian Nabi saw. memohonkan syafaat kepada Allah Swt. bagi manusia.

Kedua, syafaat Nabi saw. untuk kaum beriman yang menjadi calon penghuni surga. Mereka akan dimudahkan masuk ke dalam surga. Hal itu diungkapkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra..

Ketiga, syafaat Nabi saw. pada orang-orang beriman yang melakukan maksiat saat hidup di dunia. Menurut hisab, mereka pantas dimasukkan ke dalam neraka, tetapi Nabi saw. memohonkan syafaat kepada Allah Swt. agar mengampuni dosa-dosa mereka.

Keempat, syafaat Nabi saw. yang diberikan pada penduduk neraka yang semasa hidupnya mengakui “Laa ilaaha Illa Allah.” Mereka masuk neraka lantaran dosa-dosa yang diperbuat selama di dunia.

Kelima, syafaat Nabi saw. bagi para penghuni surga. Nabi memohonkan syafaat kepada Allah agar penduduk surga meningkat derajatnya di dalam surga. Siapakah mereka? Yakni mereka yang selama hidupnya ikhlas hanya menyembah dan memohon perlindungan kepada Allah Taala.

Hal itu seperti yang dikabarkan dalam firman-Nya, “Peringatkanlah dengannya (Al-Qur’an) itu orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya (pada hari kiamat), tidak ada bagi mereka pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah, agar mereka bertakwa.” (QS al-An’am: 51).

Keenam, syafaat Nabi saw. untuk anggota keluarganya yang meninggal dalam keadaan nonmuslim. Seperti Abu Thalib, paman Nabi saw yang dengan penuh kasih sayang terus melindungi dan merawat beliau. Namun, ia wafat dalam keadaan kafir.

Syafaat Nabi saw. kepada pamannya ialah dengan diringankan azab di neraka. “Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia diberi dua sandal yang menyebabkan otaknya mendidih.” (HR Ahmad).

Lalu siapakah yang nantinya diusir oleh Nabi saw. di telaganya? Dari Abu Hurairah ra., “Bahwa aku (Nabi saw.) menanti umatku di pinggir telagaku di alam mahsyar. Ketahuilah bahwa akan ada dari umatku yang diusir oleh malaikat sebagaimana seekor unta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain sehingga ia pun diusir. Melihat sebagian orang yang memiliki tanda-tanda pernah berwudu, maka aku memanggil mereka, ‘Kemarilah.’ Namun, para malaikat yang mengusir mereka berkata, ‘Sejatinya mereka sepeninggalmu telah mengubah-ubah ajaranmu.’ Mendapat penjelasan tersebut, aku (Nabi saw) berkata, ‘Menjauhlah, menjauhlah wahai orang-orang yang sepeninggalku mengubah-ubah ajaranku.’ (HR Bukhari dan Muslim).“

Astagfirullah, sungguh sangat menyedihkan diusir oleh Nabi saw. dari telaganya. Kita berharap bukan menjadi bagian dari mereka yang diusir Nabi saw.. Dengan demikian, kita harus mempelajari, mengkaji, mengamalkan, dan mendakwahkan segala ajarannya. Bukan menjadi penentang dan pengubah berbagai ajaran-ajarannya. Berada di posisi manakah kita? Wallahualam. [MNews/Rndy-Rgl]

Foto sampul: unsplash

Share

3 thoughts on “[Nafsiyah] Antara Syafaat dan Terusir dari Telaga Rasulullah ﷺ”

  1. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni kita dan Rasulullah pun mengakui kita bahwa kita ada di dalam barisan perjuangan menegakkan kembali syariat nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *